fbpx
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua Barat, dokter Arnold Tiniap. PAPUADALAMBERITA. FOTO: rustam madubun. PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua... 3 Kabupaten di Papua Barat Berisko Rendah COVID-19, 4 Kabupaten Nol Kasus, Perlakuanya Berbeda

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua Barat, dokter Arnold Tiniap. PAPUADALAMBERITA. FOTO: rustam madubun.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua Barat mencatat kabupaten berisiko rendah karena semua pasien terkonfirmasi COVID-19 yang pernah ditangani telah sembuh, yaitu Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama.

Baca juga: Satu Orang Pasien COVID-19 Manokwari Sembuh, Positif  Juga Tambah Satu Orang

Sedangkan empat wilayah lainnya, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Tambrau belum pernah melaporkan adanya orang yang terkonfirmas positif COVID-19.

‘’Rekapan data COVID-19 Papua Barat menurut kabupaten dan kota dari hasil pemeriksaan, Kabupaten Teluk Bintuni yang positif 50 orang dinyatakan sembuh 100 %, Kabupaten Teluk Wondama tiga pasien positif telah 100% dan Kabupaten Manokwari Selatan satu pasien positif juga telah sembuh 100%,’’ ujar Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua Barat, dokter Arnold Tiniap.

‘’Ada tuju daerah yang boleh dikatakan statusnya nol positifnya,  tiga daerah sudah melaporkan kasus positif dan kemudian ada kesembuhan 100% (Bintuni, Wondama dan Manokwari Selatan, red), ini  responnya berbeda dengan empat daerah lain (Pegunungan Arfak, Sorong Selatan, Maybrat dan Tambrau, red) daerah yang sama sekali belum pernah ada kasus positif,’’ jelas juru bicara Gugus Tugas COVID-19 Papua Barat.

Dokter Arnold mengatakan, tiga daerah yang pernah ada kasus dapat dinilai sebagai daerah persiapan menuju new normal, karena bukan hanya semata-mata tidak ada kasus positif,  tetapi terutama kesiapan pemerintah daerah dengan menunjukkan bagaimana mereka melakukan upaya penyembuhan kasus dan kemudian buat tata pelaksnaan sampai akhirnya pasien positif itu bisa sembuh.

‘’Dari tiga daerah ini bisa dikategorikan mempunyai nilai lebih karena menunjukkan pemerintah daerahnya sudah siap, contoh Kabupaten Manokwari Selatan mereka belum punya rumah sakit, satu-satunya kasus yang mereka laporkan itu dirawat di rumah sakit Manokwari,’’ kata juru bicara.

Lanjut Tiniap, untuk Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Bintuni penangananya mandiri sampai pasiennya sembuh,  Manokwari Selatan perlu dipersiapkan bagaimana sistem rujukan antara Manokwari Selatan dan Kabupatyen Manokwari karena mereka belum punya pengalaman merawat pasien positif.

‘’Ada perbedaan dengan kabupaten lain karena belum terlatih dalam menangani dan merawat pasien kasus, pemerintahnya belum terlatih menyembuhkan, sehingga nanti saat menghadapi new normal terus ditemukan kasus pemerintah daerah harus mempunyai system penanganan,’’ tambahnya.

Dokter Arnold mengatakan, untuk empat daerah (kabupaten, red) yang belum pernah ada kasus positif dan belum mempunyai rumah sakit daerah (kabupaten, red) tersebut harus membangun jejaring dengan Kota Sorong atau Kabupaten Sorong,  atau Kabupaten Pegunungan Arfak dengan Manokwari sehingga saat ditemukan kasus mekanisme itu bisa dilakukan.

‘’Karena mereka belum punya pengalaman, Manokwari Selatan jejaring sudah dilakukan, berbeda dengan empat kabupaten yang belum berpengalaman menangani kasus,’’ kata Tiniap.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!