Salah Satu Rumah Warga Yang Rusak Akibat Terjangan Gelombang Air Laut Yang Terjadi di Malakuli Distrik Karas Pada 5 Februari 2021. FOTO : Istimewa./papuadalamberita.com.... Abrasi Pantai 10 Rumah Rusak, Malakuli Distrik Karas Butuh Pembangunan Talud Pemecah Gelombang

Salah Satu Rumah Warga Yang Rusak Akibat Terjangan Gelombang Air Laut Yang Terjadi di Malakuli Distrik Karas Pada 5 Februari 2021. FOTO : Istimewa./papuadalamberita.com.

PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Bencana abrasi yang merusak rumah 10 rumah warga termasuk fasilitas umum seperti MCK yang terjadi di Kampung Malakuli Distrik Karas pada 5 Februari 2021 mengkibatkan kerugian materiil mencapai kurang lebih 500 juta.

Abrasi pantai yang merusak talud saat itu, membuat air laut naik hingga di perkampungan warga setinggi kurang lebih 5 meter dan hingga saat ini gelombang pasang air laut masih saja menembus rumah warga walaup ketinggiannya sudah menurun.

Atas kejadian abrasi pantai yang terjadi membuat warga kampung Malakuli Distrik Karas masih belum tenang karena air gelombang pasang masih saja terjadi hingga saat ini dan diperkirakan akan berakhir pada bulan Maret mendatang.

Demikian dikatakan, Kepala Distrik Karas, Soleman Temongmere, ST, MM, kepada papuadalamberita.com. melalui kontak WhatsAap, Minggu (21/2/2021), terkait dengan abrasi pantai yang terjadi di Malakuli Karas Fakfak Papua Barat.

Menurut Soleman Temongmere, pasca bencana abrasi yang merusak 10 rumah warga termasuk MCK, hingga saat ini warga Malakuli Distrik Karas belum tenang tidur di malam hari karena gelombang pasang air laut masih saja terjadi hingga air laut masuk ke perkampungan warga walaupun ketinggiannya tidak seperti pada awal kejadian (5/2/2021).

Kepala Distrik Karas, Soleman Temongmere, ST, MM. FOTO : Istimewa./papuadalamberita.com.

“Pasca kejadian abrasi yang terjadi 5 Februari 2021, hingga kini gelombang pasang masih saja terjadi walaupun tidak seperti kejadian awal dan kondisi ini masih diprkirakan akan berlangsung hingga bulan Maret 2021”, tutur Kepala Distrik Karas, Soleman Temongemere, ST, MM.

Kata dia, guna mengantisipasi gelombang pasang air laut yang dapat menerpa Warga  Kampung Malakuli, kini pihak Distrik Karas bersama masyarakat telah membuat pemecah gelombang darurat dengan menggunakan batang pohon kelapa.

Abrasi pantai yang merobohkan talud pantai pemecah gelombang pada 5 Februari 2021 lalu, kini Warga Malakuli Distrik Karas sangat membutuhkan perhatian Pemerintah Kabupaten Fakfak maupun Pemerintah Provinsi Papua Barat untuk membangun sarana pemecah gelombang guna menghindari masyarakat Malakuli dari terjangan gelombang pasang air laut.

Guna mengupayakan pembangunan sarana  talud pemecah gelombang akibat abrasi pantai di Malakuli, Kepala Distrik Karas, Soleman Temongmere, ST, MM, kepada papuadalamberita.com. mengaku, telah melayangkan surat kepada Pemerintah Kabupaten Fakfak agar kiranya kebutuhan sarana talud pemecah gelombang dapat dibangun di Kampung Malakuli guna mengatasi abrasi pantai yang terjadi bulan Februari 2021.(RL 07)

 

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *