fbpx
Hairuddin penjahit sepatu di Pasar Tingkat Sanggeng Manokwari, Papua Barat saat melayani pelanggannya, Senin (29/6/2020). PAPUADALAMBERITA. FOTO: rustam madubun. PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Ketika Pandemi CoronaVirus... Cerita Hairuddin Ditengah Corona, Tinggalkan SP Demi Rp, Nyawa Keluarga di Ujung Jarum

Hairuddin penjahit sepatu di Pasar Tingkat Sanggeng Manokwari, Papua Barat saat melayani pelanggannya, Senin (29/6/2020). PAPUADALAMBERITA. FOTO: rustam madubun.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Ketika Pandemi CoronaVirus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia,  Hairuddin ikut merasakan. Penghasilan ayah dua anak kelahiran Pandeglang, Jawa Barat ikut terganggu.

Dari enam penjahit sepatu yang berteduh di bawah emperan toko pasar tingkat Sanggeng, Manokwari, Papua Barat, Hairuddin salah satunya.

Siang itu Ia baru saja menyelesaikan satu jahitan sepatu milik warga Manokwari, dari kejahuan Ia menatap papuadalamberita.com yang berjalan di sela mama-mama penjual sayur di bahu jalan, seakan ia meberi isyarat saya memilihnya, karena ditangan saya memegang sepatu, Ia tau jika sepatu itu mau dijahit.

‘’Waallaikumsalam, sepatunya mau dijahit atau lem saja pak,’’ jawabnya membalas salam saya, yang sudah berdiri depannya, Senin (29/6/2020) siang jelang sore.

Setelah disodorkan kedua sepatu untuk dijahit dan menanyakan berapa harga jahitannya, Hairuddin pun melihat sekeliling sepatu.

‘’Kalau jahit penuh (jahitan melingkar sepatu) Rp40.000 pak,’’ ujarnya singkat. ‘’Ia mas jahit penuh saja,’’ balas saya.

‘’Sudah berapa lama di Manokwari mas,’’ tanya papuadalamberita.com membuka percakapan sambil melihat kepiawainnya menusuk ujung jarum keluar masuk sepatu sambil menarik helaiaan benang.

‘’Saya dibawa orang tua ke sini (Manokwari, red) sejak tahun  1986, dan tinggal di SP VIII, Distrik Prafi (Kabupaten Manokwari, red),’’ ujar pria kelahiran 1983 ini.

Anak ketiga dari delapan bersaudara mengenang bahwa masih berusia tiga tahun ke Manokwari karena mengikuti orang tuanya dalam program trnasmigrasi.

‘’Saat itu orang tua saya dapat lokasi SP VIII di Prafi hingga di dewasa bersama orang tua disana, cerita orang tua saya kami ke sini pakai pesawat hercules, waktu itu masih jaman Presiden Soeharto’’ kenang Hairuddin.

Setelah mengeluarkan alas bagian dalam sepatu, dengan cepat tangannya mengambil jarum dan benang. Dua jari, jari telunjuk dan ibu jari begitu trampil menahan bagian ujang jarum, tangan kirinya masuk kedalam sepatu.

Diseparo waktu jahitnya tidak terasa ia telah menyelesaikan satu sepatu. ‘’Dua-duanya dijahit ka pak,’’ ujar Hairuddin. ‘’Ia pak jahit semua,’’ jawabku pendek.

Sebelum menjadi jahit sepatu di Manokwari, Hairuddin  mengaku setamat sekolah dasar Ia mengikuti orang tuanya ke kebun untuk bertani, dalam perjalanan Hairuddin kian dewas dan memilih menjadi kondektur mobil antara kota, SP-VIII dan Manokwari, Ia pun putus sekolah.

Tinggalkan Satuan Pemukiman (SP) VIII Ia pun berhijrah ke Manokwari bertarung dengan waktu waktu demi Rp (rupiah).

”Kemudiaan saya ke Manokwari, juga jadi kondektur mobil, pernah jadi tukang ojek di Manokwari,’’ cerita Hairuddin.

Tinggalkan ojek, Hairuddin belajar menjahit sepatu disalah satu penjahit sepatu Pasar Tingkat Sanggeng, setelah tau menjahit, Hairuddin meninggalkan profesi ojek, Ia kembali mempertaruhkan hidupnya di ujung jarum sebagai penjahit sepatu di Pasar Sanggeng hingga kini.

‘’Panjang cerita saya pak, pernah kondektur di SP, di sini juga ojek, kemudian saya belajar jahit sepatu dari pak de yang diujung itu (ia sambul menujuk sebelah kanan tempat pak de saat menjadi penjahit sepatu, red), tapi sekarang pak de sudah pindah membuka usaha di Ransiki Manokwari Selatan,’’ ungkapnya membuka tabir kehidupannya.

Kenapa Ia harus beralih profesi di ujung jarum? Karena mulai memiliki tangungjawab sebagai kepala rumah tangga, dalam perjalanan Ia di karunia dua putri dari pasangannya yang kini sebagai seorang guru di salah satu TK PAUD di  Manokwari.

‘’Kami awalnya tinggal di Sanggeng dalam, ini baru pindah tiga bulan lalu, karena kami cari koos yang lebih murah, sekarng saya dan keluarga tinggal di Kampung Jawa Wosi,’’ ujarnya.

Satu alasan Hairuddin memilih tempat sewa yang murah bukan sekedar berteduh, karena sejak muncul COVID-19 penghasilnnya mulai berkurang.

‘’Ia pak sejak ada corona pelanggan yang ke sini juga kurang, kalau sebelum corona, dalam sehari bisa menerima jahitan dua sampai lima orang (maksudnya jahit sepatu, red), tapi sekarang hanya dua atau tiga, bahkan kadang tidak ada yang datang,’’ kisah Hairuddin.

Sekali jahit satu pasang sepatu harganya berbeda-beda, tidak semua sama harga, dilihat dari ukuran sepatu, apakah sepatu orang dewasa atau sepatu anak-anak, ada juga yang hanya dijahit sebelah.

‘’Kalu seperti punya bapak harga Rp40 ribu karena jahit sepasang dan sepatu orang dewasa, kalau sepatu anak dan remaja ada yang Rp30 ribu, Rp20 ribu juga, tergantung ukuran speatu dan jumlahnya,’’ ungkapnya.

Hairuddin mengaku bersukur walaupun omsetnya berkurang di masa pandemic COVID-19 namun dari penghasilnnya mengasi rejeki dari ujung jarum dalam sebulan  Ia mampu membiayai hidup keluarga dengan dua anaknya yang menanjak remaja.

‘’Kita bersukur pak, masih bisa biayai hidup, anak saya yang pertama baru masuk sekolah dasar, yang nomor dua juga cewek masi balita, istri saya guru jadi bisa terbantu pak,’’ akunya.

Penghasilan dari ujung jarum dalam sebulan tidak semuanya harus untuk keluarganya, karena harus disisihkan Rp150 ribu untuk membayar ke pemilik toko sebagai sewa tempat, sekalipun hanya diemper toko.

‘’Ia tempat ini kami sewa, per bulan Rp150 ribu kepada pemilik tokonya,’’ tutup  Hairuddin sambil menyebut nama pemilik deretan ruko tersebut ternyata pemiliknya seorang pengusaha sukses (salah satu orang terkaya, red) di Manokwari. yang masih menarik biaya sewa sekalipun hanya di emperan toko.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!