Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Papua Barat, dokter Arnold Tiniap, M. Epid yang ditemui wartawan Rabu (17/3/2021) di RSUD Papua Barat. PAPUADALAMBERITA. FOTO:... Jubir COVD-19 Sebut Bukan Jaminan Corona Papua Barat Mulai Rendah Cermin dari Penurunan Penularan   

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Papua Barat, dokter Arnold Tiniap, M. Epid yang ditemui wartawan Rabu (17/3/2021) di RSUD Papua Barat. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Hingga Rabu (17/3/2021) ada 31 pasien positif dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Papua Barat  ada yang berusia 60 tahun ke atas ada yang masih anak-anak.

‘’Yang dirawat ada diatas 60 tahun, ada anak-anak,’’ ujar Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Papua Barat, dokter Arnold Tiniap, M.Epid kepada wartawan, Rabu (17/3/2021) di RSUD Provinsi Papua Barat, siang.

Juru Bicara COVID-19 Papua Barat ini menjelaskan, bahwa puncak tertinggi orang yang dirawat di RSUD Papua Barat pernah mencapai angka 75 orang.

‘’Sebenarnya kita punya puncak perawatan Pasien itu pada pertengahan Januari sampai 75 orang,’’ kata dokter Arnold Tiniap yang juga Direktur RSUD Papua Barat.

Master epidemologi jebolan Fakultas kedokteran Universita Hasanuddin Makassar mengatakan, bahwa yang perlu menjadi catatan sampai selama ini yang dirawat keluhan berarti itu biasanya sekitar 10%, tetapi tidak ada yang meninggal dunia.

‘’Kalau kita lihat trend dari temuan kasus rata-rata dari kabupaten dan kota di Papua Barat masuk Februari 2021 sampai saat ini (Maret, red) landai (rendah) kasusu yang dilaporkan dari masing-masing kabupaten cenderung melaporkan jumlah yang relatif rendah, jika dibandingkan dengan tahun lalu itu tinggi,’’ jelas Arnold.

Kata Tiniap, tetapi jika diamati sebenarnya jumlah yang dilaporkan sedikit,  itu ternyata sampel yang kita periksa juga rendah.

‘’Yang dulu biasanya, Kabupaten Sorong, Kota Sorong atau Kabupaten Teluk Bintuni Bintuni yang awal-awalanya sekarang juga renda. Jadi,  kita tidak bisa menyimpulkan kasus yang rendah itu mencerminkan penurunan dari penularan rendah. Tapi sampel yang diperiksa itu rendah, ‘’ sebut Tiniap.

Dokter mencontohkan dalam bebera waktu terakhir ini di Manokwari saja di satu tempat layanan publik ada 24 orang positif, salah satu tempat ada 14 orang positif.

‘’Itu menunjukkan, bahwa sebenarnya data orang positif di tengah masyarakat masih tinggi,  cuma seberapa besar sampel diperiksa yang bisa mengungkap kasus yang sebenarnya di masyarakat,’’ sambung Arnold.

Tiniap membenarkan, jika secara nasional cenderung lebih rendah, ini diseluruh Indonesia ini melaporkan data yang lebih rendah, dibanding akhir tahun lalu.

‘’Diharapkan ini memang tren yang betul-betul terjadi, meskipun kita tidak boleh mengabaikan. Jadi itu yang memang belum kita simpulkan, bahwa terjadi penurunan karena tingkat penularan yang lebih rendah. Kita butuh waktu sekitar enam bulan ke depan, untuk memastikan,  kalau bahwa tren ini tetap rendah dan cenderung lebih menurun,  iyu kita bisa mengatakan, bahwa pademi di Indonesia sudah mulai menurun,’’ sambung Tiniap.(tam)

 

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *