fbpx
Ilustrasi: GRAFIS: rustam madubun/papuadalamberita.com PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Tujuh puluh empat tahun telah berlalu, keperkasaan mu, tulang dan belulang pun tidak berbekas. Tinggal batu nisan... OPINI: Indonesia Tanah Air Beta *(rustam madubun)
Ilustrasi: GRAFIS: rustam madubun/papuadalamberita.com

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Tujuh puluh empat tahun telah berlalu, keperkasaan mu, tulang dan belulang pun tidak berbekas.

Tinggal batu nisan yang telah rapuh bertumbuh lumut tertancap disegunduk tanah berkotak, penderitaanmu membawa kebahagianku kini.

Itu bukan sekadar ilusi, atau kenangan dalam puisi inspirasi para pujangga, tetapi engkau memberi dengan cucuran darah dan nyawa menjadi solusi , beribu amunisi mereka tumpahkan ketubuhmu, kerana mempertahan martabat bangsa demi kemanusian yang adil dan beradab.

Empat matra dan kami di garda terdepan menjaga persatuan Indonesia. Datang dengan alasan demokrasi, persatuan mulai terkoyak. Ketuhanan yang maha esa tidak lagi membuat perbedaan menjadi indah.

Setiap lima tahun kita datang dengan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan dan perwakilan, entalah, banyak musyawarah di balik pintu yang akhirnya mengantar mereka ke kursi pesakitan.

Karena tidak mengambil hikma, tidak lagi bijaksana untuk meraih ruang muasyawara, membuat setiap pesta perwakilan berakhir di meja mahkam.

Terus kapan mereka berpikir tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti ketika engkau bertumpuk derita untuk melepaskan kita dari jajahan  yang engkau tidak menikmatiny seperti yang kini mereka menikmatinya hingga tak sadarkan diri tertidur pulas dibalik jeruji besi.

Tujuh puluh empata tahun sudah “Indonesia Tanah Air Beta” dari Sabang Sampai Merauke, dari Merauke sampai ke Sabang Itulah Indonesia Tanah Air Beta.

Semangatmu yang kau kobarkan 17 Agustus 74 tahun silam  sampai 17 Agustus 2019 masih menyala, walaupun tidak sedikit yang mau memadamkannya.

Itulah penjajah yang di negeri yang engkau bebaskan, tidak seperti serdadu dari seberang yang kau usir dengan bambu yang diruncing. Sampai kapan kita tidak lagi memancing di air yang keruh?  Bukan kah ini Indonesia Tanah Air Beta?

Atau kalimat ”perjuangan samapi titik darah penghabisan” hanya melekat pada pusara, tatapan tajam matamu menatap para penjajah terus dikobarkan atas perjuangan, walaupun tidak seheroik di masa-masa peperanganmu.

Tetapi mata kami masih bening untuk melihat setiap rekam jejak perjuanganmu, dan pikiran kami masih bisa membedakan siapa pejuang di jalanmu dan siapa yang berjuang untuk menyesatkan kami dari jalanmu.

Kami menyadari perjuanganmu mengalami kepahitan luar biasa, walaupun kesadaran itu harus kami bangkitkan dengan secangkir kopi pahit yang ditaburi krim dan susu di sudut ruangan bersuhu rendah.

Dibilang aman, kami aman, dibilang tentram kami tentram, walupun kadang ketentraman sedikit terusik,

Itulah penderitanmu menjadi kebahagiaan bagi kami, mereka dan kita. Engkau tersungkur dan terbujur kaku karena penjajah, kini banyak yang tersungkur dan terbujur kaku karena ingin menjajah.

Indonesia Tanah Air Beta, ragamu memang sudah tiada, tetapi kami tidak memungkiri perjuanganmu. Engkau kusama bangsa. *(pemred papuadalamberita.com)

 

 

 

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!