fbpx
dr Andreas Ciokan MM kepada papuadalamberita.com. Rabu (20/5/2020). FOTO: dokumentasi dokter/papuadalamberita.com. PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Apa syarat karantina terpusat, jangan berpikir terlalu tinggi seperti membangun Wisma... Membangun Karantina Terpusat untuk OTG Tidak Harus Mewah, Tergantung Niat Pimpinan

dr Andreas Ciokan MM kepada papuadalamberita.com. Rabu (20/5/2020). FOTO: dokumentasi dokter/papuadalamberita.com.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI- Apa syarat karantina terpusat, jangan berpikir terlalu tinggi seperti membangun Wisma Atlit atau Hotel Patra di Jakarta, tidak seperti itu, tetapi di Papua dan Papua Barat bangun yang sederhana.

Baca juga: Pandangan Dokter Andre, Putuskan Mata Rantai COVID-19 di Papua Barat, Karantina Terpusat Solusi Utama

‘’Syarat pertama karantina terpusat harus mempunyai kamar terpisah dengan kamar lain, karena kita beriklim tropis, kita perlu pengatur suhu udraoleh air condition (AC), itu harus ada,’’ ujar dokter senior di Bintuni dr Andreas Ciokan MM kepada papuadalamberita.com. Rabu (20/5/2020).

Hal berikuitnya yang perlu menjadi perhatian, menurut dokter lulusan Fakultas kedokter Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar harus ada sumber air bersih yang mengalir 24 jam.

‘’Harus Ada kamar mandi yang dibuka kran air keluar setiap saat, karena pasien selama 14 di karantina dapat menimbulkan stress jadi diperlukan sarana hiburan seperti TV,  kalau membutuhkan televis, kita perlu listrik 24 jam,’’ ujarnya.

Menueurtnya, semua pasien yang dirawat di karantina terpusat pemerintah wajib menyediakan kebutuhan pasien.  ‘’Mulai dari makan, vitamin, obat keluahan pasien, cuci dan kebutuhan lain,  makan juga harus bergizi,’’ kata Andre mengingatkan.

Dengan karantina terpusat menurutnya,  dapat memutuskan mata rantai. Tanpa mendahului kehendak Allah atau takabur,  ia mengatakan dengan karantina terpusat dapat memutuskan mata rantai 100 persen,.

‘’Yang ada adalah penularan yang kita dapatkan  disebut importeis, kalau sudah transmisi lokal  maka itu tidak akan hanya satu penularan dan nanti daerah kita disebut red are (zona merah) karena sudah terjadi penularan lokal ini yang kita takuti,’’ ujar Andre.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!