Papua Barat

Jatah Pupuk Bersubsidi di Manokwari Minim

124
×

Jatah Pupuk Bersubsidi di Manokwari Minim

Sebarkan artikel ini
KEPALA Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Manokwari, Kukuh Saptoyudho. FOTO: antaranews papua barat/toyiban

PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI – Jatah pupuk bersubsidi pagi petani padi di Manokwari dinilai masih sangat minim dan hal ini berdampak langsung pada pencapaian target produksi beras di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Manokwari, Kukuh Saptoyudho di Manokwari, Jumat, mengatakan, kebutuhan pupuk bersubsidi di daerah ini mencapai 2.000 ton. Sementara jatah yang diterima hanya sekitar 600 ton pertahun.

“Sesuai Renstra target produksi padi kita seharusnya sudah 4,56, cuman untuk mencapai itu harus kondisi ideal, pupuk harus tersedia, petani harus mandiri dan lain sebagainya,” kata dia.

Selain minim, kata Kukuh, kedatangan pupuk ke daerah tersebut tidak sesuai dengan jadwal musim tanam petani. Hal ini sangat berdampak bagi aktifitas produksi padi di daerah ini.

Ia menjelaskan, setiap tahun seluruh daerah mengajukan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) pupuk bersubsidi kepada pemerintah provinsi. Selanjutnya, Pemprov akan mengusulkan kepada Kementerian Pertanian.

RDKK yang diajukan Manokwari, katanya, sesuai dengan kebutuhan petani. Dia berharap, Pemprov bisa turut memperjuangkan agar kebutuhan pupuk di daerah ini terpenuhi.

“Kondisi cukup parah terjadi dua tahun lalu, sesuai SK Menteri yang baru saat itu pencairan pupuk harus dilakukan setiap bulan. Di Manokwari, biasa dilakukan saat musim tanam mau dilakukan, ini menjadi masalah,” ujarnya lagi.

Saat itu, lanjut Kukuh, Manokwari dianggap tidak membutuhkan pupuk karena tidak melakukan pencairan secara rutin setiap bulan. Lalu Pemprov mengalihkan jatah pupuk ke daerah lain.

Persoalan lain selain pupuk, kata dia, yakni serangan hama dan jaringan irigasi terutama di wilayah Distrik Masni. Terkait serangan hama, petani tidak melaporkan hal itu kepada dinas.

“Dan mereka kebanyakan tidak mengobati melainkan memangkas habis seluruh tanam padi. Cara ini kurang tepat. Harusnya melapor supaya kita turun bantu,” katanya.

Untuk jaringan irigasi di wilayah Masni, petani selama ini hanya memanfaatkan air hujan dari kali-kali kecil. Mereka belum menuai manfaat dari bendungan sungai Wariori.

“Luas sawah di Masni mencapai 1.500 hektar. Air dari bendungan Wariori belum masuk, intek dari bendungan menuju sawah-sawah petani masih kering,” ujarnya lagi.(ant)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *