PAPUADLAMBERITA.COM.MANOKWARI – Enam tahun lalu, tepatnya 22 Februari 2020 atau 27 Jumadil Akhir 1441 Hijriah, saya memotret dua sosok ini di Kantor MUI Papua Barat, dalam sebuah tasyakuran yang penuh khidmat.
Saat itu, saya masih berada di Seksi Kominikasi dan Informatika MUI Papua Barat, menjadi saksi kecil dari sebuah momen yang mungkin belum sepenuhnya dimengerti maknanya.
Yang satu kala itu adalah Ketua MUI Papua Barat, Ahmad Nausrau. Yang satunya lagi adalah Ketua DMI Papua Barat Mohamad Lakotani dan sudah jadi Wakil Gubernur Papua Barat.
Enam tahun lalu, keduanya tersenyum lebar dalam bingkai yang sama, senyum yang sederhana, tulus, dan penuh harap.
Waktu berjalan pelan, lalu tiba-tiba terasa begitu jauh.
Kini kita berada di tahun 2026, atau 1447 Hijriah.
Dan foto itu, diam-diam telah menemukan suaranya sendiri. Dua sosok yang dulu berdiri dalam satu bingkai, kini sama-sama berdiri sebagai Wakil Gubernur, di dua provinsi yang berbeda.
Satu di Papua Barat, satunya lagi di Papua Barat Daya.
Dan menariknya, mereka masih tersenyum.

Senyum itu kini keduanya juga masih sebagai ketua organisasi,satunya Ketua MUI Papua Barat Daya dan satunya Ketua DMI Papua Barat, dan keduanya sebagai Wakil Gubernur Papua Barat dan Wakil Gubernur Papua Barat Daya, dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar, tetapi tetap dengan ketulusan yang sama.
Foto itu tak lagi sekadar gambar.
Ia berubah menjadi cerita.
Bukan tentang ramalan, bukan pula tentang menebak takdir, atau mencocok-cocokan. Tetapi tentang bagaimana sebuah momen sederhana bisa menjadi kenangan yang kelak berbicara dengan caranya sendiri. Tentang perjalanan hidup yang tak pernah bisa ditebak arahnya.
Dari pemimpin lembaga keagamaan, menjadi pemimpin daerah, dari ulama menjadi umaroh, saya sebagai umat menaru hormat dan harapan kepada ulama dan umaroh yang harus terus berjalan bersama umatnya.
Dari sebuah pertemuan biasa, menjadi jejak sejarah kecil yang bermakna.
Barangkali benar, setiap foto menyimpan masa depan yang belum sempat kita baca.
Dan kita hanya bisa memandangnya dengan penuh rasa, seraya berbisik pelan:
Semoga setiap gambar yang saya dan kamu atau siapa saja abadikan hari ini, kelak menemukan ceritanya yang indah di masa depan.Wallahu a’lam bishawab.(dinarasikan oleh Rustam Madubun)













