fbpx
PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI – Kwantitas wartawan Papua Barat yang berkompeten terus meningkat, Senin (15/4/2019) 23 wartawan Papua Barat menerima kartu lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW)... Ketua PWI PB dan Wartawan Senior Antara Dorong Jurnalis untuk Uji Kompetensi, Ini Alasannya
WARTAWAN Papua Barat bersama wartawan se Indonesia dalam acara yang di gelar Bank Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu: FOTO: Album Rustam Madubun.

PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI – Kwantitas wartawan Papua Barat yang berkompeten terus meningkat, Senin (15/4/2019) 23 wartawan Papua Barat menerima kartu lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) dari Dewan Pers yang diserahkan Wakil Gubernur Papua Barat, Mohammad Lakotani, SH. MSI.

Mereka dinyatakan berkompeten setelah mengikuti UKW dengan penguji Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara (LPJA) yang dilaksanakan Forum Jurnalis Papua Barat di Makassar September 2018.

Dengan demikian wartawan Papua Barat yang telah berkompeten mencapai 100 an wartawan, sebelumnya sejumlah wartawan lebih awal telah lulus UKW, serta pada September 2018 lalu ada 38 wartawan menerima kartu UKW dari Dewan Pers yang pengujinya dari PWI Pusat.

Meningkatnya  wartawan pemegang kartu kompetensi dari tiga jenjang, muda, madya dan utama di Provinsi Papua Barat merupaka langkah positif bagi jurnalis dalam peningkatkan kualitas diri.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Papua Barat, Bustam  serta Kepala Biro Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara sebagai wartawan senior, Key  Tokan Abdul Asisi yang dihubunggi papuadalamberita.com secara terpisah mengatakan, akan terus mendorong wartawan Papua Barat untuk mengikuti  uji kompetensi, apa alasannya?

‘’Semakin banyak wartawan di Papua  Barat bersertifikasi kompeten, semakin baik. Karena tugas dan tantangan wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik semakin berat. Karena perkembangan teknologi, arus informasi kini banyak bertebaran di sosial media, yang kebenarannya masih dipertanyakan,’’ ujar Ketua PWI Papua Barat, Bustam, Selasa (16/4/2019).

PRESIDEN RI Ir Joko Widodo (kiri) bersama Ketua PWI Papua Barat, Bustam. FOTO: Album Bustam

Ia mengharapkan wartawan yg sudah mengikuti UKW, tetap menjaga marwah pers. Berjalan sesuai UU Pers no 40/1999,dan mematuhi Kode Eetik Jurnalistik (KEJ). Ini penting untuk tetap menjaga kepercayaan publik terhadap pers .

‘’Satu kebanggan bagi wrtawan yg dinyatakan lulus UKW, artinya sudah memahami tugas dan tanggungjawabnya, sesuai tingkatan masing-masing. Tetap menjaga hasil yang diperoleh, terus meningkatkan kemampuan, jangan pernah merasa puas, terus berproses, agar kita semakin baik dalam menghasilkan produk jurnalistik yang profesional ,’’ kata Bustam.

Upaya PWI PB kepada wartawan yg belum mengikuti  UKW, Bustam mengatakan pada tahun 2019 ini PWI memprogramkan UKW,  PWI dorong yang belum, supaya ikut. Tentu harus mempersiapkan diri sejak awal. Supaya semua bisa lulus sesuai harapan.

‘’Kita libatkan semua wartawan di Papua Barat, tentu  ketentuan, sesuai persyaratan peserta UKW.

Tetapi kita jg mendorong PWI Kabupaten/Kota yang telah terbenduk, apabila memungkinkan untuk memprogramkan UKW, maka dapat dilakukan.

Ditempat terpisah wartawan senior Antara, Key Tokan Abdul Asis mengatakan, dengan memperoleh kartu kompetensi berarti sudah mendapat pengakuan sebagai pekerja profesional.  Karena itu, jaga marwah profesi itu dengan sikap profesional pula dan tidak melakukan aktivitas yg menurunkan derajat profesionalitas.  Misalnya, sebagai pemegang kartu kompetensi  tetapi masih mau bekerja di media yg tidak memenuhi standar perusahan yang ditetapkan Dewan Pers.  Juga jaga perilaku sebagai pekerja profesional, bukan orang-orang amatiran.

‘’Memegang kartu kompetensi  tidak untuk gagah-gagahan, tetapi justeru menaikkan rasa tanggung jawab sosial, moral dan hukum kepada public,’’ ujar Asis tegas.

Dalam hal tanggung jawab sosial Asis menegashkan, harus bisa mengemban misi pencerahan atau percerdasan, tanggung jawab moral misalnya berpegang pada filosofi kebenaran dan kemanusiaan, serta tanggung jawab hukum dgn memahami setiap kata dan kalimat yg diproduksi harus bisa dipertanggung-jawabkan bilamana sebuah berita menuai masalah.

WARTAWAN SENIOR LKBN Antara, Key Tokan Abdul Asis saat berada di depan Kantor Perdana Menteri Australia di Canbera, Desember 2005. FOTO: Album Key Tokan Abdul Asis

‘’Saya juga minta kepada rekan-rekan untuk pelajari dan pahami Kode Etik Jurnalistik (KEJ), sebagai kerangka nilai yg membingkai seluruh proses untuk menghasilkan karya jurnalistik. Rekan-rekan juga harus meningkatkan kepekaan sosial dengan mengikuti setiap perkembangan di jagat sosial, politik san sebagainya, agar mempertajam daya analisis dan latar berita,’’ harapnya.

Sejauh ini, Ia mengatakan, negara melalui perangkatnya yakni Dewan Pers, masih menjadikan UKW sebagai parameter untuk mengukur profesionalitas kerja-kerja jurnalistik. Karena itu, jika ingin menjadikan wartawan sebagai profesi maka harus mengikuti UKW.

‘’UKW bukanlah momok. Dia hanya sebuah alat ukur untuk menentukan kelayakan profesi. Jadi, bilamana ada kesempatan untuk ikut UKW, ikutlah,’’ pesannya.

‘’Ada belasan atau lebih dari 20 (kalau saya tidak salah), lembaga penguji yang lolos uji petik di Dewan Pers.  Beberapa di antaranya seperti Lembaga Pers Doktor Soetomo (LPDS), PWI dan Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA (LPJA) yang sudah sering menjadi penguji UKW di Papua dan Papua Barat,’’ urai Abang sapaan akrab senior.

Pemegang kartu wartawan utama sejak tahun 2012 ini mengatakan, sebagai sarana mengukur kelayakan profesi, UKW sejatinya hanya menguji seluruh proses yg menjadi pekerjaan pers sehari-hari, apakah sebagai reporter, redaktur atau editor dan sebagai redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi.

‘’Materi ujian selalu dipilah menurut beban tugas, apakah sebagai peliput/pewarta untuk wartawan muda yang memiliki pengalaman di bawa 3-5 tahun, atau ikut ujian wartawan muda untuk mereka yang sudah lumayan berpengalaman atau wartawan utama untuk mereka yg sehari-hari menjadi pengambil kebijakan redaksi,’’ rinci Abang  yang mengawali profesi wartawan di sebuah anak perusahan Kompas sejak 1992.

Pada tahun 1994 Ia bergabung ke Antara dan diangkat penuh sebagai wartawan organik ANTARA pada 1996. 2003 menjadi kepala biro ANTARA di NTT, 2010 menjadi Kepala Biro ANTARA di Papua dan sejak 2014 mendapat mandat dari direksi Perum LKBN ANTARA untuk merintis berdirinya ANTARA Biro Papua Barat.

Ia menempuh pendidikan jurnalistik di Kampus Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) di Melbourne Australia, sempat ke dapur siaran Radio Australia, ke redaksi Koran The Herald Sun milik raja media dunia, Ruppet Murdoch, redaksi The Australian, dan dua koran distrik di Victoria yg berdiri pada akhir abad 18 dan bertahan sampai sekarang dg manajemen keluarga. Ia juga pernah ke kampus  Universitas Teknologi Sidney di Sidney untuk materi  IT dan menengok manajemen Kantor Berita Australia (ABC)   di Canberra dan studi banding ke sejumlah koran, radio dan TV dalam negeri.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!