Papua Barat

KNKT Temukan Penyebab Kecelakaan Maut,  Faktor Geometrik Jalan, 6 Rekomendasi Penting

102
×

KNKT Temukan Penyebab Kecelakaan Maut,  Faktor Geometrik Jalan, 6 Rekomendasi Penting

Sebarkan artikel ini


Wadir Lantas, Dirlantas Polda Papua Barat, Ketua Sub Komite LLAJ KNKT, Ahmad Wildan dan Kasat Lantas yang ditemui wartawan di lokasi kecelakaan maut Kilometer 10, Sabtu (16/4/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

KNKT, dan tim Mitsubishi di lokasi kecelakaan maut Kilometer 10, Sabtu (16/4/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Kecelakaan maut yang terjadi di Jalan poros Miyambow Kilometer 10 Manokwari – Pegunungan Arfak, Papua Barat 13 April 2022 yang mengakibatkan 18 orang meninggal dunia, 11 orang luka berat dan ringan menjadi perhatian serius Kapolda Papua Barat.

Baca juga: Polda Turunkan KNKT, TAA Investigasi Kecelakaan Maut yang Tewaskan 18 Orang di Manokwari

Polda Papua Barat pun menurunkan tim lengkap, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Trffic Accident Analysis (TAA) Ditlantas Polda Papua Barat, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XXV Papua Papua Barat, Satlantas Polres Manokwari, Dishub Kabupaten Manokwari,  Mitsubishi Bosowa, tim dipimpin langsung Dirlantas Polda Papua Barat, Kombes Pol Raydian Kokrosono SIK, MSI, Wadir Lantas dan Kasat Lantas Polres Manokwari sehari penuuh melakukan investigasi, rekontruksi di tempat kejadian, Sabtu (16/4/2022).

Ketua Sub Komite LLAJ KNKT, Ahmad Wildan menjelaskan seusai tim gabungan melakukan investigasi mendalam, segera melakukan mitigasi penaganan untuk kejadian yang sama tidak terulang lagi. Karena kawasan tersebut merupakan kawasan jalan sangat ekstrim dan sering terjadi kecelakaan yang menelan korban jiwa.

’Kondisi geometrik jalan, jalan ini daerah berbukit, kita sudah mengukur untuk sepanjang sekitar 7 kilo ke sana itu perbedaan tingginya sekitar 750 meter. Kemudian di titik ini, yang paling ekstrem ini paslog gradien sebesar 48% kemudian pada jarak 1 km perbedaan tingginya 175 meter,’’ ujar Ahmad Wildan yang ditemui wartawan di lokasi kejadian Kilometer 10, Sabutu (16/4/2022) tadi siang.

Wadir Lantas, Dirlantas Polda Papua Barat, Ketua Sub Komite LLAJ KNKT, Ahmad Wildan dan Kasat Lantas di lokasi kecelakaan maut Kilometer 10, Sabtu (16/4/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Ia mengatakan, sebuah kendaraan dari atas mau meluncur yang mendorong kendaraan itu adalah bukan mesin, yang mendorong dia adalah gaya gravitasi bumi, adalah energi potensial rumusnya, adalah massa kali (X) gaya gravitasi bumi dikalikan (X) ketinggian, semakin tinggi tempatnya, semakin berat massanya maka semakin berat daya dorongnya,’’

‘’Ketika dia meluncur, akan muncul energi gentik, yang rumusnya setengah massa X kuadrat kecepatannya, besar energi genetik berbanding lurus dengan massanya, berbanding lurus dengan kecepatannya,’’ rincinya.

Menurutnya, oleh sebab itu, teknik mengemudi yang benar untuk kendaraan-kendaraan di sini dia harus menggunakan gigi rendah.

Yaitu mengecilkan nilai kecepatannya tadi, dan muatannya jangan lebih, karena tadi yang membentuk energi gentik dan energi potensial itu adalah terbentuk dari masa sama kecepatan.

‘’Jadi pengemudi itu harus tahu saya dari atas mau turun ke bawah, jangan muat berlebihan,  saya harus menggunakan gigi rendah, karena pengemudi akan ngerem ini sesuai dengan hukum termodinamika satu (1)  kedua energi ini akan berubah. Jadi energi gentik dan energi potensial akan membentuk, akan berubah menjadi energi panas, energi panas ini ada di roda,’’ katanya rinci.

KNKT, Tim Mitsubishi Bosoa di lokasi kejadian kecelakaan maut Kilometer 10, Sabtu (16/4/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

‘’Ini yang menyebabkan rem blong, jadi di sini perlu diwaspadai pengemudi, ini sangat ekstrem karena slognya 48%, dan beda ketinggiannya cukup ekstrem pada jarak 7 km perbedaannya sekitar 750 meter ini daya dorongnya besar sekali.

Sehingga Tim akan membuat rekomendasi, dengan memasang papan peringatan:

  1. Mengingatkan pengemudi menggunakan gigi rendah di depan turunan panjang.
  2. Mebuat tempat istirahat (rest area) karena resiko panas pada ban sangat tinggi sehingga beri kesempatan untuk istirahat.
  3. Kemudian kita akan rekomendasikan buat kolam jebakan, jalur penyelamat di sini, karena disini sering orang celaka sehingga kalaupun blong akan masuk di sini bisa selamat.
  4. Kemudian pagar pengaman jalan.
  5. Kami akan minta BPTD Papua Papua Barat melakukan edukasi kepada pengemudi mobil hilux dan pengemudi truk harus paham cara mengemudi jalan menurun seperti apa.
  6. Harus menggunakan Engine brake (teknik memperlambat kecepatan) jangan gunakan service bereak, karena service break berbasis gesekan, jadi ketika dia bergesekan resiko blong tinggi, makanya menggunakan gigi rendah dia akan menahan, jangan menggunakan gigi tinggi

Kata dia, terjadi kecelakaan ini adalah muatan berlebihan dan menggunakan gigi tinggi, sehingga daya dorongnya besar sekali, ketika pengemudi rem berkali-kali akan terjadi panas, panas berpindah pada ban, sehingga terjadi rem blong.

‘’Itu kurang lebihnya kecelakaan itu terjadi sehingga nanti kita akan buat langka stratgeis dengan pemangku kepentingan disini untuk  metigasi seperti yang disebutkan tadi,’’ tutupnya.(tam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!