Papua Barat

Perhatikan Keselamatan ke Mansinam, Dishub Disarankan Gunakan Kapal yang Representatif

838
×

Perhatikan Keselamatan ke Mansinam, Dishub Disarankan Gunakan Kapal yang Representatif

Sebarkan artikel ini
  • Perahu jonson milik warga yang menjadi angkutan laut menghubungkan Manokwari dan Pulau Mansinam (PP). FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI- Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Papua Barat dan Panitia Peringatan 170 Tahun Masuk Injil di Papua diminta menyiapkan armada angkutan laut yang representatif, memadai, sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Baca juga: Peringatan Injil Masuk Papua, Bapenda Ikut dengan Kerja Bakti

Hal ini untuk menghindari penggunaan transportasi yang tidak sesuai, seperti tongkang, yang sejatinya merupakan angkutan barang, bukan angkutan penumpang.

Permintaan ini muncul setelah kejadian pada peringatan tahun sebelumnya, di mana panitia menggunakan tongkang sebagai transportasi bagi warga dari Pelabuhan Kwawi ke Pulau Mansinam.

Meskipun penyebrangan hanya melewati Teluk Doreri yang memiliki gelombang relatif tenang, penggunaan tongkang tetap dinilai berisiko.

Dikhawatirkan jika ada penumpang yang terpeleset atau jatuh ke laut, maka tanggung jawab akan berada pada perusahaan penyedia tongkang, yang dinilai lalai dalam menyediakan alat transportasi yang sesuai bagi manusia.

Sebagai solusi, Dishub dan Panitia disarankan untuk menyewa kapal motor yang lebih representatif, seperti milik perhubungan atau kapal Pelni, misalnya KM Sabuk Nusantara atau menyewa KRI milik TNI Angkatan Laut (AL).

Apalagi, panitia telah menerima dana hibah dari Pemerintah Daerah (Pemda) Papua Barat sebesar Rp5 miliar, yang dinilai cukup untuk menyediakan angkutan penyebrangan yang lebih layak, aman dan nyaman.

  • Penjabat Sekda Papua Barat, Dr. Yacob S. Fonataba, SP., MSI saat ditemui wartawan di Pulau Mansinam, Jumat (31/1/2025). FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA

Menanggapi hal ini, Penjabat Sekda Papua Barat, Dr. Yacob S. Fonataba, SP., MSI, menyatakan bahwa panitia memang seharusnya menyiapkan angkutan sesuai dengan SOP transportasi.

Namun, ia juga memahami bahwa pada peringatan sebelumnya, antusiasme warga sangat tinggi sementara armada penyebrangan terbatas.

Oleh karena itu, panitia saat itu memilih tongkang sebagai solusi alternatif untuk mengangkut warga ke Pulau Mansinam.

“Terkait angkutan penyebrangan dari Manokwari ke Mansinam pada hari perayaan 5 Februari, memang jumlah armada terbatas, sedangkan kapasitas penumpang sangat banyak, terutama di perayaan ke-170 tahun ini,” ujar Fonataba saat ditemui wartawan di Pulau Mansinam, Jumat (31/1/2025).

Menurutnya, sulit untuk menghindari penggunaan tongkang jika hanya kapal atau motor yang diperbolehkan mengangkut penumpang, mengingat keterbatasan jumlah armada dan fasilitas dermaga. Warga yang ingin mengikuti ibadah di Mansinam mulai bergerak dari pukul 05.00 hingga 08.00, dan tidak semua bisa tiba di pelabuhan tepat waktu karena berasal dari berbagai wilayah, seperti Sowi, Andai, Maripi, dan Reremi.

Lebih lanjut, Fonataba menyebut bahwa tiga kapal milik Dishub yang saat ini berlabuh di Pulau Lemon memiliki kapasitas terbatas dan hanya digunakan untuk mengangkut konsumsi panitia, bukan untuk penumpang. Panitia juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui Dishub terkait penggunaan kapal ini.

Keselamatan dan peningkatan pelayanan transportasi laut menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan perayaan ini. Oleh karena itu, Dishub sebagai penanggung jawab transportasi dan keselamatan penyebrangan diharapkan dapat merespons masukan dari masyarakat pengguna jasa penyeberangan.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *