Papua Barat

Silaturahmi Salam-Saran di HUT Pattimura Kental dengan Adat Istiadat,  Serasa di Kampung Halaman

272
×

Silaturahmi Salam-Saran di HUT Pattimura Kental dengan Adat Istiadat,  Serasa di Kampung Halaman

Sebarkan artikel ini

Pembaca Kallam Illahi, Ustadza Warda Hassan dan Saritillawah Saslabila saat tampil pada Sykuran dan Silaturahmi Keluarga BEsar Maluku, Maluku Utara, Maluku Tenggara memperingati HUT Ke-204 Pattimura, Sabtu (29/5/2021) di BLK Manokwari. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Tarian Patah Cengkeh dari Ambon Maluku di Syukuran HUT Ke-204 Pahlawan Pattimura di Manokwari, Sabtu (29/5/2021). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Tarian Lalayon dari Maluku Utara di Syukuran HUT Ke-204 Pahlawan Pattimura di Manokwari, Sabtu (29/5/2021). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Penyanyi asal Ambon Maluku bersuara emas, Willy Sopacua saat tampil di Syukuran HUT K-204 Pahlawan Nasional Pattimura, Sabtu (29/5/2021) di Manokwari Papua Barat. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Dua vikalis asal Maluku saat tampil di Syukuran HUT K-204 Pahlawan Nasional Pattimura, Sabtu (29/5/2021) di Manokwari Papua Barat. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Tarian adat tuuu cokaiba/mef dari bumi tiga negeri Gamrange Maluku Utara saat tampil di Syukuran HUT K-204 Pahlawan Nasional Pattimura, Sabtu (29/5/2021) di Manokwari Papua Barat. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Warga Maluku di rantau telah memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura, berbagai kegiatan menyambut HUT ke 204 di tahun 2021 juga dihelat keluarga besar Maluku di Manokwari, Papua Barat.

Maluku memiliki keaneka ragaman warisan seni dan budaya dari Maluku, Maluku Utara, dan Maluku Tenggara. Warga Maluku di rantau, Kabupaten Manokwari Papua Barat menggelar syukuran dikemas dalam silaturahmi keluarga besar Maluku, Sabtu (29/5/2021) di Pantai BLK Manokwari.

Syukuran itu terasa begitu kental dengan adat istiadat Maluku, warga Maluku salam (Islam), Saran (Nasrani) siang itu berkumpul dalam satu ikatan pela gandong.

Suasana itu seakan membawa kita berada di kampung halaman Maluku, hampir sebagian besar warga Maluku mengenakan baju cele.

Baju Cele merupakan salah satu pakaian tradisional khas yang berasal dari Ambon, Maluku. Baju yang banyak didominasi warna merah dan putih dengan khas adalah garis-garis geometris dipergunaan pada saat upacara adat itu mendomasi para tamu undangan yang datang dari berbagai suku – suku dari Maluku.

Tari Lalayon karya tari pergaulan dari Halmahera Maluku Utara penuh romantic  yang didendangkan pria dan wanita berpasang-pasangan dengan gerakan -gerakan yang indah membuka rangkaiaan acara setelah mengiring Ketua Panitia Aljabar Makatita yang mendapingi Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Papua Barat mewakili gubernur Papua serta undangan memasuki tempat peringatan, suasan serasa di Maluku.

Generasi muda Maluku Salam-Saran terus mewarisi Ikatan pela gandong sebagai pesan datuk-datuk untuk generasi muda Maluku menjujung agama, adat dan istiadat, acara pun diawali dengan pembacaan Kalam Illahi surat Al Imran ayat 133-135 oleh Qori Warda Hasan dan Saritilawah oleh Ayu Saslabila dan dilanjutkan dengan tauzia Idul Fitri oleh Ustadz D Manile.

Usai laporan ketua panitia dan sambutan yang gubernur Papua Barat yang dibacakan Asisten II  Bagian Ekonimi dan Pembangunan Setda Papua Barat acara dirangkain dengan tarian, lagu dan hiburan bernafaskan kearifan lokal Maluku.

Willy Sopacua si suara emas asal Ambon Maluku seilih berganti melantunkan lagu-lagu Maluku, warga Maluku Salam-Saran berbaur menjadi satu dalam tarian khas Maluku dengan menjalankan protokol kesehatan memakai masker.

Selain suara emas Willy Sopacua yang warga sSalam – Saran Maluku disuguhkan Grup Qasidah dan vokal grup pemuda Maluku, dilengkapi pembacaan puisi.

Satu penampilan menarik adalah ‎tarian tradisional Pata Cengkeh yang dibawakan enam nona (gadis, red) Maluku berpasar manis nan ayu. Persembahan tarian tradisional ini sebagai bentuk kepedulian Pattimura muda untuk mewariskan budaya tari yan hampir punah, dan ini dihidupkan kembali dalam perhelatan syukuran Salam – Saran Maluku.

Sedangkan tarian adat tuuu cokaiba/mef dari bumi tiga negeri Gamrange Maluku Utara, sebagai tarian  untuk mengelabui penajajahan Belanda. Tarian dari negeri Fagogoru sebagai persembahan kedamaian dan persaudaraan yang kokoh dalam peradaban yang indah di negeri Manokwari mengakhir rangkaiaan acara syukuran itu.

Papade dan ikan kua kuning, keladi dan ketupat khas Maluku sebagai hidang makan siang menambah khasana hidup orang basodara Salam Saran dalam ikatan pela kandong, suasana siang itu seakan membawa kita serasa di kampung halaman Maluku, sampai jumpa di peringatan HUT Ke-205 Kapitan Pattimura tahun 2021, Sagu Sa Lempeng Patah Dua. Lawamena Haulala.(rustam madubun)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *