Papua Barat

BI Papua Barat Dorong Digitalisasi Pembayaran dan Literasi Rupiah untuk Perkuat Ekonomi Daerah

613
×

BI Papua Barat Dorong Digitalisasi Pembayaran dan Literasi Rupiah untuk Perkuat Ekonomi Daerah

Sebarkan artikel ini
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat Yohan Agusta Harmawan menyampaikan sambutan pada pembukaan Festival Rupiah dan Digitalisasi Sistem Pembayaran di Bumi Kasuari (First Kasuari) 2026 di Atrium Manokwari City Mall, Manokwari, Jumat (10/7/2026). FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Papua Barat terus memperkuat literasi rupiah dan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran sebagai strategi menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Papua Barat.

Hal itu disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, Yohan Agusta Harmawan, saat membuka Festival Rupiah dan Digitalisasi Sistem Pembayaran di Bumi Kasuari (First Kasuari) 2026 di Atrium Manokwari City Mall, Jumat (10/7/2026).

Yohan mengatakan tugas Bank Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas nilai rupiah melalui pengendalian inflasi dan nilai tukar, tetapi juga memastikan uang rupiah tetap berkualitas, aman, dan dipercaya masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah.

“Selain menjaga nilai rupiah dari sisi inflasi dan nilai tukar, Bank Indonesia juga memiliki amanah untuk menjaga uang rupiah agar tetap berkualitas, aman, dan dipercaya masyarakat. Dengan demikian, transaksi ekonomi dapat berjalan lancar dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Yohan.

Menurut dia, penguatan literasi keuangan menjadi salah satu fondasi penting dalam mempercepat transformasi ekonomi di Papua Barat. Karena itu, BI mengembangkan strategi edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah melalui pendekatan ATLAS atau Amplifikasi, Transformasi, dan Kolaborasi.

Pendekatan tersebut bertujuan memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat melalui metode pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis digital, sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, hingga sektor perbankan.

“Melalui First Kasuari 2026, kami ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa rupiah bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga simbol kedaulatan bangsa yang harus dijaga bersama,” katanya.

Festival yang mengusung tema “Rupiah Menginspirasi, Generasi Berprestasi, Digitalisasi Mengakselerasi” itu, lanjut Yohan, juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda Papua Barat yang memiliki literasi keuangan, mampu memanfaatkan teknologi digital secara bijak, dan siap menghadapi era ekonomi digital menuju Indonesia Emas 2045.

Selain edukasi mengenai rupiah, Bank Indonesia juga memperkenalkan berbagai inovasi sistem pembayaran digital yang terus dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi transaksi ekonomi masyarakat.

Yohan menyebutkan inovasi tersebut meliputi penggunaan QRIS, layanan transfer BI-FAST, elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, hingga penguatan perlindungan konsumen dalam transaksi digital.

Seluruh inovasi tersebut, kata dia, bertujuan memberikan akses layanan pembayaran yang lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal bagi masyarakat Papua Barat.

“Kami ingin masyarakat Papua Barat memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati manfaat transaksi digital yang aman dan efisien sehingga dapat meningkatkan produktivitas ekonomi,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Masyarakat diharapkan bijak menggunakan uang tunai, cermat bertransaksi secara digital, dan mengendalikan pola konsumsi agar turut mendukung stabilitas ekonomi, termasuk pengendalian inflasi daerah.

First Kasuari 2026 berlangsung selama 10–12 Juli dengan menghadirkan berbagai kegiatan edukatif seperti talkshow literasi keuangan, edukasi CBP Rupiah, lomba konten kreator, Duta Guru, Duta Muda, cerdas cermat, dongeng, mewarnai, hingga lomba ranking satu.

Bank Indonesia juga menyelenggarakan kegiatan sosial berupa donor darah bekerja sama dengan PMI serta meluncurkan buku “Cerita Rupiah dari Bumi Kasuari”, yang memuat kisah-kisah karya pelajar dari Papua Barat dan Papua Barat Daya mengenai pengalaman mereka mengenal dan menggunakan rupiah.

Menurut Yohan, penyelenggaraan First Kasuari menjadi bagian dari komitmen Bank Indonesia memperluas edukasi CBP Rupiah di kawasan Indonesia Timur sekaligus rangkaian menuju Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Jakarta.

Ia menegaskan keberhasilan transformasi ekonomi dan digitalisasi sistem pembayaran tidak dapat dilakukan oleh Bank Indonesia sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, dunia pendidikan, pelaku usaha, media, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat literasi rupiah, memperluas digitalisasi sistem pembayaran, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Papua Barat yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” kata Yohan.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *