PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Mantan sprinter nasional asal Manokwari, Papua Barat, John Herman Muray, menegaskan bahwa kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua Barat harus berada di tangan orang yang benar-benar memahami dunia olahraga dan memiliki keberpihakan kepada atlet.
Menurut John, KONI Papua Barat bukan milik satu suku atau kelompok tertentu.
Karena itu, kepentingan suku maupun kelompok jangan sampai mengorbankan perkembangan olahraga dan masa depan atlet Papua.
“Jangan karena kepentingan suku atau kelompok lalu olahraga Papua yang menjadi korban. Karena di luar sana orang tidak tahu kamu dari suku mana atau kelompok mana. Yang mereka tahu, kamu dari Papua,” kata John yang dihubungi papuadalamberita.com Ahad (223/8/2026) malam.
Ia menegaskan, atlet harus ditempatkan sebagai prioritas utama karena merekalah yang berada di garis depan membawa nama Papua dalam berbagai kejuaraan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Atlet harus menjadi yang utama karena mereka yang membawa nama Papua. Bahkan mereka bisa mempertaruhkan nyawa demi nama Papua di negeri orang. Jadi jangan sampai kepentingan kelompok membuat perjuangan mereka menjadi korban,” tegasnya.
John yang merupakan orang asli Papua itu juga secara terbuka mengkritik praktik sukuisme dalam pengelolaan olahraga.
“Saya orang asli Papua yang paling benci dengan yang namanya sukuisme karena itu bikin Papua tidak maju-maju,” ujarnya.
Menurut dia, dalam dunia olahraga, identitas kesukuan tidak boleh menjadi dasar utama dalam menentukan kebijakan maupun kepemimpinan organisasi.
Yang harus dikedepankan adalah kemampuan, integritas, pengalaman dan keberpihakan terhadap kemajuan olahraga serta kesejahteraan atlet.
“Ketua KONI Papua Barat harus orang yang mengerti olahraga. Atlet-atlet pergi berjuang di event olahraga di seluruh Indonesia untuk mengangkat harkat dan martabat orang Papua, bukan mengangkat nama satu suku di Papua,” katanya.
KETUA KONI HARUS PAHAM OLAHRAGA
John menilai, KONI Papua Barat membutuhkan pemimpin yang memahami secara langsung bagaimana kehidupan dan kebutuhan atlet.
Pemahaman tersebut penting agar ketua KONI tidak mudah dipengaruhi atau dimanfaatkan oleh oknum pengurus yang memiliki kepentingan pribadi.
“Ketua KONI harus mengerti olahraga supaya tidak gampang ditipu dengan oknum pengurus-pengurus yang tidak benar,” ujarnya.
John menegaskan dirinya tidak mempersoalkan siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin KONI Papua Barat.
Ia menyatakan siap mendukung siapa saja yang terpilih, sepanjang orang tersebut benar-benar memahami olahraga dan mampu menjaga kepentingan atlet.
“Siapa saja yang jadi ketua KONI saya dukung. Tapi saya mau orang yang paham olahraga supaya tidak mudah tertipu dengan oknum-oknum yang menjual nama atlet demi kepentingan sendiri,” tegasnya.
John juga menyoroti adanya persoalan administrasi dan keuangan yang menurutnya dapat membebani kontingen ketika mengikuti pertandingan di luar daerah.
Ia mengingatkan agar atlet tidak lagi menjadi pihak yang dirugikan akibat buruknya tata kelola organisasi.
“Ketua KONI harus orang yang mengerti olahraga supaya tidak mudah ditipu oleh oknum-oknum pengurus yang jalan mencari makan sampai membuat atlet sengsara dan menderita. Bahkan meninggalkan utang kiri – kanan di luar daerah dan akhirnya membuat malu,” katanya.
Menurut John, jangan sampai atlet yang sudah berlatih keras dan mempertaruhkan kemampuan demi Papua justru harus menghadapi persoalan akibat konflik kepentingan, buruknya manajemen maupun kepentingan kelompok.
“Jangan atlet yang sudah berjuang mati-matian membawa nama Papua justru menjadi korban. Mereka sudah berkorban waktu, tenaga dan pikiran untuk mengharumkan nama Papua,” tambahnya.
PERNAH MEMBAWA NAMA INDONESIA DI OLIMPIADE
John Herman Muray bukan sosok baru dalam dunia olahraga Indonesia. Lahir di Manokwari pada 6 Juni 1978, ia pernah menjadi salah satu sprinter andalan Indonesia di tingkat internasional.
Namanya tercatat dalam sejarah Olimpiade ketika mewakili Indonesia pada Olimpiade Sydney 2000. John turun di nomor 100 meter dan juga menjadi bagian dari tim estafet 4×100 meter Indonesia.
Karier internasionalnya juga ditandai sejumlah prestasi di SEA Games. Pada SEA Games 2003 di Hanoi, John meraih medali perunggu nomor 100 meter dan menjadi bagian dari tim estafet 4×100 meter Indonesia yang meraih medali perunggu.
Dua tahun kemudian, pada SEA Games 2005 di Manila, John meraih medali perak nomor 200 meter. Ia juga tampil di final 100 meter dan finis kelima dengan catatan 10,58 detik.
Pada 2005 pula, John mencatat salah satu prestasi terbaik dalam kariernya.
Dalam Asian Grand Prix di Songkhla, Thailand, ia membukukan rekor pribadi 10,38 detik untuk nomor 100 meter dan keluar sebagai juara.
Pada SEA Games 2007, John kembali menyumbangkan medali untuk Indonesia. Ia meraih perunggu nomor 200 meter dan menjadi bagian dari tim estafet 4×100 meter Indonesia yang meraih medali perak.
Pengalaman panjang tersebut menjadi alasan John menekankan pentingnya pemimpin KONI yang memahami kehidupan atlet, bukan sekadar memahami organisasi.
Ia berharap kepemimpinan KONI Papua Barat ke depan menjadikan prestasi dan kesejahteraan atlet sebagai prioritas utama serta tidak terjebak pada kepentingan suku dan kelompok.
“Olahraga ini harus menyatukan Papua, bukan memecah Papua. Siapa pun ketua KONI, saya dukung, tetapi harus orang yang paham olahraga dan benar-benar berpihak kepada atlet,” ujar John.
“Karena pada akhirnya, ketika atlet tampil di luar Papua, mereka tidak membawa nama suku atau kelompok. Mereka membawa nama Papua. Itu yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (rustam madubuun)













