FeaturePapua Barat

FEATURE: Batu Gantung, Tempat Dua Arus Bertemu di Tengah Hutan Rimba Fakfak

268
×

FEATURE: Batu Gantung, Tempat Dua Arus Bertemu di Tengah Hutan Rimba Fakfak

Sebarkan artikel ini
Fakfak
Wapimred Papuadalamberita.com. Enrico Letsoin Bersama Wartawan Tribun Nusantara Samad Hatala. Di Rest Area Batu Gantung, Kinam, Fakfak - Papua Barat. Minggu (06/09/2026). FOTO : DENNY RAHAYAAN. PAPUADALAMBERITA.COM.

Oleh : Enrico Letsoin Wapimred Papuadalamberita.com.

PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Menyusuri jalur jalan nasional yang membentang dari Kota Fakfak menuju Distrik Bomberay dan Tomage memberi sensasi tersendiri. Jalanan aspal yang mulus sepanjang kurang lebih 176 Km, membelah keheningan hutan rimba yang masih perawan, memancing jemari para pengemudi untuk menginjak pedal gas lebih dalam. Di atas kecepatan rata-rata 80 hingga 100 kilometer per jam, pepohonan hijau tampak melaju cepat di sisi kiri dan kanan.

Namun, sekuat apa pun stamina di balik kemudi, perjalanan panjang yang menelan waktu kurang lebih 3 jam kerap menuntut jeda. Bagi para sopir angkutan umum, pengendara pribadi, hingga jurnalis yang melintasi jalur ini, bahkan yang hendak meneruskan perjalanan jauh ke Aroba hingga Furwata di Kabupaten Teluk Bintuni—ada satu titik yang pantang dilewatkan.

Titik itu adalah kawasan Batu Gantung, Kinam, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak.  Di sinilah berdiri sebuah rest area bersahaja yang menjadi oasis di tengah belantara. Menariknya, tempat persinggahan ini bukanlah bangunan modern berdesain megah, melainkan bekas bangunan mes tua milik PT Nusa Indah.

Lewat tangan dingin para mantan karyawannya, bangunan yang dulunya sepi itu disulap menjadi ruang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghidupkan ekonomi lokal warga sekitar.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam menembus rute yang membuai sekaligus melelahkan, tempat ini menyambut siapa saja dengan hangat. Segelas kopi hitam pahit, teh hangat, atau semangkuk mie rebus asap mengepul menjadi penawar dahaga dan penat paling ampuh.

Tak hanya memanjakan perut, rest area ini juga menyediakan bahan bakar minyak (BBM) eceran dan jasa tambal ban penyelamat darurat bagi kendaraan yang megab-megab di tengah rute pedalaman.

Tak jauh dari situ, kepulan asap gurih dari lapak pertanian warga siap memikat lidah. Para petani lokal Kinam menjajakan jagung rebus manis yang baru dipetik dari ladang sekitar, bersanding dengan aneka sayur-mayur segar hasil bumi setempat.

Senyum sumringah para pedagang menyambut setiap pembeli yang singgah, membuktikan betapa roda ekonomi kecil di garis lintang Fakfak ini terus berputar berkat hadirnya lalu lalang kendaraan.

Lebih dari sekadar tempat beristirahat, Batu Gantung telah menjelma menjadi titik temu. Di sinilah muatan dan cerita bersilang, pengendara dari arah Kota Fakfak berpapasan dan bertukar kabar dengan mereka yang datang dari arah Bomberay maupun Tomage.

Kendati begitu, denyut kehidupan di titik singgah ini masih menyimpan harapan. Warga dan para pengguna jalan sangat berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Fakfak dapat melirik potensi Batu Gantung.

Penataan lokasi yang lebih rapi, penyediaan fasilitas toilet umum yang layak, serta tempat salat yang memadai tentu akan menjadikan rest area ini makin nyaman dan manusiawi.

Usai mengeringkan keringat, menikmati jagung rebus hangat, dan memastikan kondisi kendaraan prima, para pengendara pun kembali siap menancap gas melanjutkan petualangan menembus rimba menuju tujuan masing-masing.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *