PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Pemerintah Provinsi Papua Barat mempercepat langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap yang kian meluas.
Berbagai strategi ditempuh, mulai dari percepatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hingga mengimbau doa bersama lintas agama agar hujan segera turun.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, S.H., M.Si., usai memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla dan Asap di Ruang Multimedia Kantor Gubernur Papua Barat, Manokwari, Rabu (8/10/2026).
Lakotani menjelaskan bahwa pemerintah daerah memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat darurat karhutla.
Langkah ini diambil setelah mencermati dampak kabut asap yang semakin mengganggu kehidupan masyarakat di berbagai kabupaten.
Guna memicu turunnya hujan, Pemprov Papua Barat berkoordinasi intensif dengan BMKG, BP, SKK Migas, serta instansi terkait untuk melaksanakan rekayasa cuaca.
Berdasarkan analisis BMKG, potensi kemunculan awan hujan diprakirakan terjadi pada tanggal 11 hingga 15 Oktober.
”Rapat hari ini kita percepat. Sebelum tanggal 11 Oktober, seluruh kesiapan administrasi maupun teknis harus sudah tuntas, sehingga saat potensi awan ada pada 11–15 Oktober, aktivitas modifikasi cuaca sudah bisa langsung dilaksanakan,” ujar Lakotani.

Lakotani mengungkapkan, paparan asap karhutla telah melumpuhkan sejumlah sektor penting, termasuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat penerbang serta nelayan tradisional. Di Kaimana dan Manokwari, aktivitas sekolah bahkan telah diliburkan sejak pekan lalu.
Dampak buruk penerbangan pun dialami langsung oleh Lakotani.
Ia sempat tertahan berhari-hari di Kaimana karena pesawat tidak dapat mendarat akibat jarak pandang yang terbatas.
”Saya mengalami sendiri. Rencana kembali hari Sabtu terus terundur ke hari Minggu hingga Selasa karena penerbangan batal. Baru hari ini puji Tuhan pesawat Susi Air bisa mendarat dan saya bisa kembali ke Manokwari untuk memimpin rapat,” ungkapnya.
Di samping upaya teknis dan pemadaman darat oleh tim gabungan TNI, Polri, dan BPBD, Pemprov Papua Barat juga menekankan pentingnya pendekatan spiritual.
Pemerintah mengimbau para ustaz pada ibadah Salat Jumat dan para pendeta pada ibadah Minggu untuk mengajak umat berdoa secara khusus memohon turunnya hujan.
Lakotani menyebut situasi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.

”Nanti begini baru kita rasa ternyata Tuhan itu luar biasa. Selama ini hujan turun gratis kita tidak bersyukur. Sekarang mau bikin hujan lewat modifikasi cuaca butuh biaya yang sangat besar. Karena itu, selain upaya pemerintah, kita mengetuk pintu langit memohon rahmat Tuhan,” tuturnya.
Mengenai kendala pemadaman di lapangan, Wagub mengakui bahwa petugas di daerah seperti Fakfak, Teluk Bintuni, hingga Kaimana menghadapi keterbatasan personel dan peralatan.
Di Fakfak, karhutla dilaporkan telah melanda 8 dari 17 distrik. Sementara di pedalaman Kaimana, pembukaan lahan perkebunan yang meninggalkan sisa api yang belum padam sempurna menjadi salah satu pemicu meluasnya kebakaran di medan yang sulit dijangkau.
Pemprov Papua Barat berharap pembentukan tim kecil serta koordinasi terpadu lintas sektor dapat segera mengendalikan titik-titik api dan memulihkan kondisi kualitas udara di wilayah Papua Barat.(rustam madubun)













