Papua Barat

Diresmikan Pangkogabwilhan, Pura Ksatria Shanti Buana, Dibuka untuk Umum

510
×

Diresmikan Pangkogabwilhan, Pura Ksatria Shanti Buana, Dibuka untuk Umum

Sebarkan artikel ini

Pura Ksatria Shanti Bhuana Kodam XVIII Kasuari yang berdampingan dua tempat ibadah, masjid dan gereja berada dalam satu area Kodam XVIII Kasuari. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, SE MTR (HAN) didampingi Pangdam XVIII Kasuari Mayjen TNI Gabriel Lema SSOS, Kepala Suku Besar Arfak, Drs Dominggus Mandacan meresmikan Pura Ksatria Shanti Bhuana Kodam XVIII Kasuari yang berada di lingkungan Kodam Kasuari, Arfai Manokwari Papua Barat, Ahad (15/5/2022).

Pangkogabwilhan III menyampaikan pembangunan Pura selain untuk prajurit Kodam Kasuari juga terbuka untuk warga Manokwari yang beragam Hindu untuk beribada.

‘’Awal rencana pembangunan Pura ini banyak diskusi termasuk pura-pura yang lain, dimana titik  tempat ibadah kita agama hindu, ahirnya terbesik lah disini,’’ ujar Letjen TNI I Nyoman Cantiasa.

‘’Saya juga kaget, pada saat pembangunan ini, saya berdiri di atas situ (Pure, red) tarik lurus dari salib (Salib gereja Kodam, red) tarik lurus ke Kuba Masjid Kodam, tarik lurus lagi ke tempat kita (Pura, red) Istana kita itu lurus, saya  menjadi merinding ini, ini memang beliau (Tuhan, red) penentuan titik ini Beliau maunya di sana,’’ ujacerita Pangkogawilhan III saat awal penentuan Pura  yang kini berdampingan dengan masjid dan gereja berada dalam lokasi yang berdekatan.

Cantiasa yang  Pangdam XVIII Kasuari ketiga ini menjelaskan,  ada tanda alam lain dalam pembangunan Pura, yaitu ditemukannya air di lokasi Pura, padahal struktur Kodam XVIII Kasuari berada pada daerah yang berbatuan tanah keras.

Sambutan Pangkogabwilhan III Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, SE MTR (HAN) pada Pura Ksatria Shanti Bhuana Kodam XVIII Kasuari Ahad (15/5/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

‘’Tanda alam yang lain membuat sumur bor kan susah, di sini semua banyak batu, tapi ternyata ternyata disana langsung dapat airnya. Sehingga untuk sarana tirta itu langsung dari alam Manokwari, jadi tidak usah mencari air tirte dari luar, ini tanah Kodam sudah miliki air yang jerni, bagus,’’ kata Cantiasa.

Pangkobagwilhan menyampaikan terima kasih pada para prjaurat dan semua pihak atas kerjasama dalam pembangunan tempat ibadah Pura.

‘’Biayanya dari mana? Jujur ini swadaya satuan, kita gunakan potensi, termasuk almarhum Pak Agung (tokoh umat Hindu di Bali, red) beliau bantu, kawan-kawan kita dari perbankan, dari luar,  Jakarta semua kemampuan dalam rangka pembangunan Pura,’’ sebutCantiasa.

‘’Puji Tuhan kalau kita membangun singga sana Tuhan,  pasti lancar, walaupun kita tidak ada anggaran, tidak ada dana,  tetapi ada niat Tuhan memberikan jalan,’’ sambungnya.

Pembangunan pura dilakukan 30 prajurit  Kodam Kasuari, dari berbagai agama, ada kristen, islam, hindu. Ini toleransi luar biasa.

‘’Saya bangga, panas matahari mereka kerja. Hari demi hari, bulan demi bulan kita melakukan kegiatan ini,  Puji Tuhan terwujud . Dan batunya Pura diambl dari gunung Gunung Agung di Kareng Asem. Itu puncaknya tempat ibadah di Bali, , mudah-mudahan apa menjadi koneksitas semua terhubung,’’ jelasnya.

Penandatangan prasasti Pangkogabwilhan III Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, SE MTR (HAN) saat meresmikan Pura Ksatria Shanti Bhuana Kodam XVIII Kasuari Ahad (15/5/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Ia menuturkan, kalau di Bali burung cendrawasih untuk mengantar arwah orang Ngaben ke surga, di sini juga ada tariannya, di sini ada burung cenderawasih hidup mengantarkan ke sorga,  di Bali menggunakan burung cenderawasih yang kondisinya mati, dan disini burungnya masih hidup, berarti kita tinggal di surga, terima kasih Pangdam, jujur saya bangga.

Ia mengaskan hidup toleransinya di Papua Barat tertinggi di seluruh Indonesia yaitu 82,1persen dan pada saat Pak Dominggus Mandacan menjabat gubernur Papua Barat tertinggi.

‘’Pembangunan Pura, pembangunan masjid pembangunan gereja tidak ada yang menolak di sini, semuanya welcome FKUB rukun. Pertemuan, acara-acara semua saling menghargai, kita saling menghormati. Mari kita jaga toleransi ini,’’pesan Cantiasa.

Lanjutnya, bahwa mantan gubernur, sekarang menjabat kepala suku besar Arfak, kita tinggal di wilayah beliau, ini titip beliau mari jaga toleransi, mari jaga persatuan.

‘’Kepada umat hindu yang ada di sini, prajurit maupun, warga Manokwari terima kasih atas kerjasama selama ini sehingga tempat ibadah ini bisa terwujud,’’ terangnya.

DARI KANAN: Pangdam XVII Kasuari, Pangkogabwilhan III, Kepala Suku Besar Arfak, dan Pangkogabwilhan II meninjau Pura Ksatria Shanti Bhuana Kodam XVIII Kasuari Ahad (15/5/2022). PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN

Pura ini kita namakan Pura Ksatria Shanti Bhuana, artinya: Kami berharap, Pura ini tempat Singgasana Beliau yang memiliki nilai-nilai Kesatria, Santi damai, Belaiu memberikan  kedamaian di tanah Papua.

Buana itu tiga matra, darat, laut dan udara. Jadi beliau Bersinggasana di darat, laut dan udara memberikan kedamaian.

‘’Kita berharap juga prajurit di sini Kodam memiliki sifat-sifat Ksatria, seperti Patriot Pembela Rakyat. Tetap menjaga nama, kehormatan dan jiwa Patriot Pembela Rakyat, sebagai prajurit yang dicintai rakyat dan juga mencintai rakyatnya sebagai TNI,’’ tutup Pankogabwilhan III.

Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti, pembukaan selubung nama Pura dan pengguntingan pita masuk ke Pura oleh Pangkogawilhan dan Pangdam Kasuari.(tam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *