fbpx
Gedung Kantor DPR Papua Barat yang terbakar Senin (19/8/2019) dari depan tinggal puing. FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.com Puing gedung DPR Papua Barat dari samping. FOTO:... Feature: Dua Gedung Bersejarah Papua Barat Sisahkan Kenangan
Gedung Kantor DPR Papua Barat yang terbakar Senin (19/8/2019) dari depan tinggal puing. FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.com
Puing gedung DPR Papua Barat dari samping. FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.com
Dua mobil DPR Papua Barat dibakar masa saat rusuh di Manokwari Senin (20/8/2019). FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.
Kantor Gubernur Papua Barat lama di Jalan Siliwanggi Manokwari. FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalmberita.com
Puing kantor Gubernur Papua Barat lama FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.com

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Gedung DPR Papua Barat dan gedung kantor Gubernur Papua Barat lama menjadi sejara, kini menyisahkan kenangan. Sekalipun itu pahit teras mau ditelan. Tetapi kita tidak bisa memuntahkan, harus kita telan bak obat menyembuhkan sakit yang kronis.

Yah mereka merasa tersakiti, harkat dan martabat dirinya seakan terkoyak, hanya karena kesimpang siuran omongan bersifa diskiriminatif yang melukai jiwa, amarah pun tersulut.

Dari dua gedung tersebut sejarah pernah tercatat, bahwa setelah terbentuk menjadi Provinsi Papua Barat, gedung itu sebagai tempat pengambil keputusan stratgis perencanaan pembangunan politik, pendidikan, ekonomi, kultur, keamanan, historis, agama dan budaya disitu dibahas.

Gedung yang cukup representatif  yang tadinya cantik berbalut cat warna gading keemasan, serta warna biru kalem, kini ibarat wanita cantik yang tersiram tumpahan air panas, sekujur tubuhnya berkerut membekas dan terkelupas.

Ia tidak lagi cantik, hanyalah menyisahkan bingkai beratap langit berbalut arang dan puing, seisi gedung yang menyimpan salinan keputusan-keputusan penting tentang rencana strategis pembangunan Papua Barat lima sampai dua puluh tahun kedepan telah menjadi abu terbawa angin, terseret air hujan, kini tidak berbekas setelah jilatan lida api membakar dinding demokrasi.

Di gedung perkantoran itu tidak hanya hak kesuluungan Orang Asli Papua dibahas, tetapi hak dan kewajiban semua warga yang mendiami Papua Barat ikut dibincangkan dan diputuskan dengan demokratis.

**Baca juga: Paska Kerusuhan Manokwari, Sekda Papua Barat: Mari Saling Mengasihi Seperti Yesus

**Baca Juga:Aksi Sekda Papua Barat dan Pimpinan OPD Bersihkan Jalan Siliwangi Sisa Kerusahan

Bukan saja lempengan properti berbahan seng atau berserat tembagga milik lima bangunan kantor OPD, Perekda, Diskucapil Papua Barat, Dinas Sosial, Badan Lingkungan Hidup, Satpol PP dan MRP yang berlokasi dalam lingkungan kantor gubernur lama kini telah berpindah tangan ke pebisnis-pembisni jual beli besi tua di Manokwari. Tetapi dokumen berharga dan lembaran daerah yang menyangkut pelayanan masyarakat sudah menjadi debu.

Kerusuhan sudah usai, dua bangunan yang pernah kokoh  dan berdekatan dengan titik nol kilometer kota Manokwari Papua Barat  tidak hanya meninggalkan suka dan duka legislator provinsi atau ASN yang berkantor disitu.

Namun peristiwa sehari setelah peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia 2019, telah meninggalkan duka yang dalam dan mengores hati pejuang daerah ini dalam goresan tinta emas Penentuan Pendapat Rakyat (Papera), karena di tempat itulah hasil Pepera dicetuskan.

Peristiwa Senin 19 Agustus 2019 bukan sebuah revolusi baru, atau tawaran rekonsiliasi dua seteru. Tetapi peristiwa yang sempat memperoleh publikasi media internasioal tentu dievaluasi tanpa saling menyalahkan sebelum melakukan renovasi.

Jejak gedung yang berkedudukan di Jalan Siliwanggi Manokwari kini memang tidak lagi romantis, tetapi tidak melunturkan nilai histori perjuangan yang ditapaki pejuang Pepera untuk Irian Jaya (kini Papua) lebih baik.

Tentu semua menunggu kapan dan dimana realisasi yang realistis pembangunan konstruksi baru berlokasi? Atau hanya renovasi gedung milik rakyat?

Sekda Papua Barat Nataniel D Mandacan kepada sejumlah wartawan pada Selasa (20/8/2019) tidak basa-basi memberi penyataan tegas dan prihatin, apapun yang terjadi biarlah berlalu, pembagunan harus dilakukan.

“Perlu bantuan pemerintah pusat untuk membangun lagi, apakah dibangun disini atau di tempat yang baru itu nanti kita liat. Tempat ini mempunyai sejara Pepera itu disini, jadi ini seperti kita membakar diri sendiri,” ujarnya.(rustam madubun)

 

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!