Papua Barat

Ustadz Ali Mustofa Sampaikan Makna Pengorbanan dalam Khutbah Idul Adha di Masjid Nurul Fatah Reremi Manoriang

598
×

Ustadz Ali Mustofa Sampaikan Makna Pengorbanan dalam Khutbah Idul Adha di Masjid Nurul Fatah Reremi Manoriang

Sebarkan artikel ini
Ustadz Ali Mustofa menyampaikan khutbah Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Nurul Fatah Reremi Manoriang, Rabu (27/6/2026). Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam memperkuat ketakwaan, semangat berbagi, dan kepedulian sosial melalui ibadah kurban.FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.COM

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Masjid Nurul Fatah Reremi Manoriang menjadi lokasi pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu (27/6/2026) yang diisi khutbah oleh Ustadz Ali Mustofa dengan Imam Ustdz Asrofil Woretma.

Dalam khutbahnya, Ustadz Ali Mustofa menekankan makna kurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial kepada sesama.

Ia menjelaskan, kata kurban berasal dari istilah yang bermakna persembahan dan pengorbanan, sementara dalam bahasa Arab berasal dari kata qoroba yang berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut dia, ibadah kurban merupakan syariat yang telah ada sejak Nabi Ibrahim AS.

Ia kemudian mengisahkan kembali perjalanan Nabi Ibrahim saat mendapat perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ujian ketakwaan.

Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Sayyidah Hajar disebut tetap teguh menjalankan perintah Allah meski mendapat godaan dari iblis.

Namun, sebelum penyembelihan terjadi, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba.

Ustadz Ali Mustofa mengatakan, kisah tersebut mengandung pesan agar manusia tidak mengorbankan sesama demi kepentingan duniawi, jabatan, maupun harta.

“Manusia adalah makhluk mulia yang tidak boleh dikorbankan oleh keserakahan manusia lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat Idul Adha tidak hanya dimaknai melalui penyembelihan hewan kurban, tetapi juga melalui semangat berbagi, membantu, dan membahagiakan orang lain.

Menurut dia, kebahagiaan sejati lahir ketika seseorang mampu melihat orang lain ikut bahagia melalui sikap saling berbagi, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam khutbahnya, ia juga mengutip Surah Ali Imran ayat 92 yang menegaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai kebaikan sempurna sebelum menginfakkan harta yang dicintai.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT serta menjaga kecintaan kepada Allah agar tidak kalah oleh kecintaan terhadap dunia.

Khutbah Idul Adha tersebut ditutup dengan doa agar umat Islam senantiasa diberikan hidayah, keteguhan iman, dan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *