PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – PT PLN (Persero) UP3 Fakfak terus mematangkan langkah untuk meningkatkan jam nyala listrik pedesaan (listdes) dari 12 jam menjadi 24 jam penuh. Langkah strategis ini diawali dengan penguatan sistem kapasitas pembangkit di PLTD Bomberai yang ditargetkan beroperasi 24 jam secara permanen pada akhir Juni ini.
Kepala Perencanaan dan Distribusi PLN UP3 Fakfak, Hirzul, kepada media ini (Kamis, 18/06/2026) di Kantor PLN UP3 Fakfak, mengungkapkan bahwa saat ini proses instalasi tambahan mesin pembangkit di PLTD Bomberai sedang berjalan. PLN melakukan relokasi mesin berkapasitas 500 KW dari kota Fakfak untuk memperkuat kelistrikan di wilayah Distrik Bomberay hingga Distrk Tomage.
”Per hari ini, 18 Juni 2026, mesin baru sudah dalam proses instalasi. Kami estimasikan dalam 2 hingga 3 hari ke depan mesin ini sudah bisa beroperasi. Sementara untuk target operasi 24 jam secara permanen, kami sepakati bersama di tanggal 26 Juni 2026,” ujar Hirzul.
Menurutnya, dengan tambahan mesin tersebut, total kapasitas mesin pembangkit di PLTD Bomberai kini mencapai 850 hingga 900 KW, yang disokong oleh tiga mesin (satu mesin baru 500 KW dan dua mesin lama masing-masing 350 KW). Kapasitas ini dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi beban puncak wilayah Distrik Bomberay dan Tomage hingga 5 Kampung (Tessa, Mitimber, Waremu, Woos dan Salawir) yang baru terpasang jaringan listrik yang saat ini berkisar antara 300 hingga 350 KW.
Peningkatan layanan 24 jam ini nantinya akan interkoneksi dan dinikmati oleh Distrik Tomage, SP1, Salawir, serta beberapa kampung sekitarnya seperti Wos, Mintimber, dan Tesa.
Tidak hanya di Fakfak, PLN juga mengejar peningkatan jam nyala di Kabupaten Kaimana sesuai arahan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Di Kaimana, beberapa wilayah yang masuk dalam rencana program 24 jam antara lain: Listrik Desa Tanusan (saat ini sedang proses instalasi mesin relokasi mesin dari Teluk Patipi), Sawatewara, Lobo, Dorumo dan Teluk Etna., ujar Hirzul.
Sementara untuk wilayah lain seperti Distrik Karas (Malakuli) dan Distrik Arguni, peningkatan akan dilakukan menggunakan sistem simple base (baterai). Untuk Kampung Madoni, rencana serupa telah dicanangkan namun masih menunggu pembangunan jaringan.
Lanjutnya, berbeda dengan Bomberay, Distrik Teluk Patipi sebenarnya secara teknis sudah siap menyala 24 jam karena jaringannya telah terkoneksi langsung dengan PLTD Kebun Kapas Fakfak. Namun, hingga saat ini operasinya masih dibatasi 12 jam (menyala malam, padam pagi) atas permintaan masyarakat setempat.
Warga di beberapa kampung, khususnya Kampung Ofie dan Timar, menuntut adanya rehabilitasi total berupa penggantian kabel bungkus pada jaringan lama sebelum sistem 24 jam diaktifkan demi faktor keamanan.
”Kami sudah sampaikan dalam rapat koordinasi di Distrik Teluk Patipi bahwa perbaikan atau rehabilitasi jaringan tersebut baru bisa kami usulkan di RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) tahun 2027 karena anggarannya cukup besar. Jadi, untuk Teluk Patipi, kami kembalikan kesiapannya kepada masyarakat,” jelas Hirzul.
Hirzul mengimbau agar jika nantinya jaringan 24 jam sudah aktif, masyarakat perlu beradaptasi dengan budaya keselamatan baru dan saling menjaga agar tidak ada aktivitas berbahaya di sekitar jaringan listrik pada siang hari.
PLN menekankan bahwa komitmen menuju pemenuhan listrik desa 24 jam di wilayah kerja UP3 Fakfak akan dieksekusi secara bertahap berdasarkan jenis pembangkit yang digunakan. Target prioritas pertama adalah wilayah yang menggunakan sistem PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel), disusul oleh sistem Simple Base (Baterai), dan tahap terakhir adalah optimalisasi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), tutup Hirzul.(Enrico)













