Papua Barat

Cerita Dua Petani Binaan Dinas Pertanian Fakfak Sokong Kebutuhan Sayur Pasar Lokal

259
×

Cerita Dua Petani Binaan Dinas Pertanian Fakfak Sokong Kebutuhan Sayur Pasar Lokal

Sebarkan artikel ini
Fakfak
Suban Woretma Ketua Kelompok Tani OAP Binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Fakfak. Jumat (27/08/2026). FOTO : ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.

​​PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Kebutuhan komoditas sayur-mayur masyarakat Kabupaten Fakfak sebagian besar berhasil dipenuhi oleh hasil keringat petani lokal. Kehadiran para petani lokal, baik Orang Asli Papua (OAP) maupun Non-OAP binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Fakfak sebanyak 38 kelompok,  menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah melalui pasokan rutin ke pasar tradisional, seperti Pasar Thumburuni dan pasar Dulan Pokpok.

​Keberhasilan produksi ini tidak lepas dari peran aktif pendampingan dan dukungan sarana prasarana yang disalurkan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Fakfak Kabupaten Fakfak.

​Dari 38 kelompok petani binaan yang tersebar di 8 Distrik, salah satunya kelompok tani Orang Asli Papua (OAP) di Kelurahan Danaweria Distrik Fakak Tengah, Suban Woretma yang geliat pertanian berbasis kelompok terbukti efektif menjaga kestabilan produksi. Kelompok tani OAP ini beranggotakan lima orang termasuk anggota keluarganya, mampu mengelola lahan potensial seluas kurang lebih satu hektare.

​Sejak dirintis pada tahun 2011, kelompok tani ini konsisten membudidayakan ragam sayuran dan tanaman pangan, mulai dari sawi, kangkung, bayam, bontif, mentimun, jagung, hingga kacang panjang.

​”Untuk tanaman sawi, kami menerapkan pola tanam dengan jarak 20 x 20 sentimeter. Hasilnya, rata-rata produksi harian gabungan (sawi, bayam, kangkung) bisa mencapai sekitar 100 ikat per hari,” ungkap Suban Woretma, kepada tiga awak media di laha kebunnya, Jumat (26/08/2026).

​Seluruh hasil panen tersebut disalurkan langsung ke Pasar Thumburuni melalui sistem penadah (penampung) yang telah terjalin dengan baik. Kelompok Tani ini,  mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari Dinas Pertanian yang rutin menyalurkan bantuan obat-obatan pertanian dan pendampingan teknis. Mereka berharap perhatian pemerintah terus ditingkatkan agar sisa lahan potensial yang belum digarap dapat dimaksimalkan.

Suban Woretma, mengungkapkan dari hasil lahan pertanian ini, dia bersama istrinya mampu membiayai beberapa anaknya hingga kuliah di luar Fakfak, bahkan salah satu anaknya telah menyelesaikan kulaih di salah satu Perguruan Tinggi di Palembang, Sumatera Selatan.

Darno Petani Non OAP Binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Fakfak. Jumat (27/08/2026). FOTO : ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.

​Kisah ketangguhan lain datang dari Pak Darno, petani Non-OAP asal Jawa Timur, yang telah mengolah tanah di Fakfak sejak tahun 2008. Berbekal lahan milik pribadi yang dikelola bersama anak-anaknya, Pak Darno memilih fokus pada dua jenis komoditas utama bantuan Dinas Pertanian, yaitu buncis dan kacang panjang.

​Dinas Pertanian turut membekali usahanya melalui pendampingan rutin, bantuan unit alat kultivator, serta pasokan pupuk organik. Dari modal tersebut, Pak Darno menerapkan pola panen selang-seling (tiga kali panen dalam seminggu).

Menurut Darno, untuk Buncis panen awal mencapai 15 kg , panen ke-2 40 kg Panen puncak bisa menyentuh 60 kg.  Sedangkan panen Kacang Panjang, dipanen berkala (3x per minggu) Rata-rata menghasilkan 20 hingga 50 ikat sekali petik.

Meski produksinya terbilang menjanjikan dan rutin menyuplai pedagang Pasar Thumburuni  serta pasar Torea, Darno mengaku menghadapi kendala serius saat musim kemarau.

​Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah ketersediaan air. Untuk menjaga tanamannya tetap hidup, Pak Darno harus merogoh kocek pribadi untuk membeli air bersih.

​”Dalam satu bulan terakhir saja, saya sudah membeli air sebanyak 7 kali. Setiap pasokan harganya Rp150.000, jadi total biaya air saja sudah lebih dari Rp1.000.000. Keterbatasan biaya air ini yang jadi tantangan berat saat ini,” tutur Pak Darno di kebunnya yang terletak di Kampung Kapaurtutin, Distrik Pariwari.

​Padahal, petani asal Jawa Timur yang akrab disapa Darno masih memiliki lahan kedua seluas 50 x30 meter di area atas (Kapaurtutin atas) yang belum sempat digarap akibat keterbatasan pasokan air dan modal operasional.

​Dari dinamika kedua petani binaan tersebut, terlihat bahwa untuk komoditas hijau dan sayur-mayur, petani lokal Fakfak telah mampu menopang sebagian besar kebutuhan daerah. Namun, untuk beberapa komoditas seperti cabai dan kentang, pasokan pasar setempat hingga kini masih bergantung pada pengiriman dari luar daerah.

​Sinergi antara semangat petani OAP maupun Non-OAP dengan pendampingan berkelanjutan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Fakfak diharapkan dapat terus mengatasi hambatan infrastruktur dasar, seperti masalah air sehingga produktivitas lahan dapat digenjot secara maksimal di masa mendatang.(Enrico)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *