Papua Barat

1 Oktober 2026, 12 Tahun Polda Papua Barat: 9 Kapolda, 3 Putra Papua

449
×

1 Oktober 2026, 12 Tahun Polda Papua Barat: 9 Kapolda, 3 Putra Papua

Sebarkan artikel ini

PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI – Dua belas tahun perjalanan Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat bukan sekadar cerita tentang pergantian tongkat komando.

Di dalamnya terdapat perjalanan para perwira yang memimpin, perubahan organisasi dan wilayah, serta dinamika keamanan di Bumi Kasuari.

Polda Papua Barat diperintahkan untuk dibentuk pada 1 Oktober 2014 berdasarkan Keputusan Kapolri Nomor Kep/794/X/2014, dan mulai beroperasi penuh pada 19 Desember 2014.

Sejak berdiri, sembilan perwira tinggi Polri telah dipercaya memimpin Polda Papua Barat.

Kapolda pertama adalah Brigjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw, disusul Brigjen Pol. Drs. Royke Lumowa, M.M., Brigjen Pol. Drs. Martuani Sormin, M.Si., Brigjen Pol. Drs. Rudolf Alberth Rodja, Brigjen Pol. Drs. Herry Rudolf Nahak, M.Si., Irjen Pol. Dr. Tornagogo Sihombing, S.I.K., M.Si., dan Irjen Pol. Drs. Daniel Tahi Monang Silitonga, S.H., M.A.

Tongkat komando kemudian berada di tangan Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, S.I.K., M.T.C.P., putra asli Papua, sebelum mendapat penugasan sebagai Kepala Divisi Humas Polri.

Melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/99/I/KEP/2026 tertanggal 15 Januari 2026, Brigjen Pol. Alfred Papare, S.I.K. ditunjuk sebagai Kapolda Papua Barat.

Alfred sebelumnya pernah menjabat Wakapolda Papua Barat pada 2023–2024.

Dengan Alfred Papare, tercatat tiga putra Papua yang pernah memimpin Polda Papua Barat, yakni Paulus Waterpauw, Johnny Eddizon Isir, dan Alfred Papare.

Ketiganya memiliki perjalanan karier yang menorehkan catatan tersendiri dan membanggakan.

Johnny Eddizon Isir merupakan penerima Adhi Makayasa Akpol 1996, penghargaan bagi lulusan terbaik Akademi Kepolisian.

Sementara Paulus Waterpauw pernah mendapat kehormatan menjadi Komandan Upacara HUT ke-61 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2006 di Istana Merdeka, Jakarta.

Kariernya kemudian mencapai pangkat Komjen Pol (tiga bintang) sebelum memasuki masa purnatugas.

Adapun Alfred Papare merupakan cucu pahlawan nasional asal Papua, Silas Papare.

Lulusan Akpol 1995 ini memiliki pengalaman di bidang intelijen dan pernah menjabat Kapolda Papua Tengah sebelum dipercaya memimpin Polda Papua Barat.

Tiga sosok tersebut memberi warna tersendiri dalam perjalanan Polda Papua Barat—dari prestasi akademi, kehormatan dalam upacara kenegaraan, hingga jejak sejarah keluarga pejuang Papua.

Di tingkat Wakapolda, Polda Papua Barat juga telah dipimpin delapan pejabat.

Mereka adalah Kombes Pol. Imam Margono, Kombes Pol. Pietrus Waine, Kombes Pol. Tatang, Brigjen Pol. Mathius Derek Fakhiri, Brigjen Pol. Petrus Patrige Rudolf Renwarin, Brigjen Pol. Alfred Papare, Brigjen Pol. Yosi Muhamartha, dan kini Brigjen Pol. Dr. Sulastiana.

Pietrus Waine, Mathius Derek Fakhiri dan Alfred Papare merupakan putra asli Papua yang pernah menduduki posisi Wakapolda Papua Barat.

Perubahan penting terjadi pada 3 Februari 2020, ketika Polda Papua Barat berubah menjadi Polda Tipe A, sehingga jabatan Wakapolda menggunakan pangkat Brigjen Pol.

Seiring pemekaran wilayah di Tanah Papua, cakupan organisasi Polda Papua Barat juga mengalami perubahan.

Saat ini Polda Papua Barat membawahi tujuh satuan kewilayahan, yakni Polres Fakfak, Polres Kaimana, Polresta Manokwari, Polres Manokwari Selatan, Polres Teluk Bintuni, Polres Teluk Wondama dan Polres Pegunungan Arfak.

Di tengah wilayah yang luas, Polda Papua Barat masih menghadapi keterbatasan personel.

Dalam Press Release Akhir Tahun 2025, Kapolda Papua Barat saat itu, Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, menyebut kekuatan riil Polda dan Polres jajaran mencapai 5.776 personel.

Jumlah tersebut baru memenuhi 53,23 persen dari kebutuhan berdasarkan Daftar Susunan Personel (DSP) sebanyak 10.852 personel, sehingga masih terdapat kekurangan 5.076 personel.

Angka tersebut menggambarkan salah satu tantangan Polda Papua Barat dalam menjalankan tugas di wilayah dengan bentang geografis yang luas, dari kawasan perkotaan hingga pesisir, kampung dan pegunungan.

Dari Paulus Waterpauw hingga Alfred Papare, perjalanan Polda Papua Barat memperlihatkan perubahan organisasi sekaligus dinamika zaman.

Sembilan Kapolda, delapan Wakapolda, tiga putra Papua yang pernah memimpin, serta ribuan personel yang menopang tugas kepolisian menjadi bagian dari perjalanan 12 tahun institusi ini.

Kini, tongkat komando berada di tangan Alfred Papare.

Pejabat berganti, struktur berkembang dan wilayah hukum berubah.

Namun tugas utama tetap sama: menjaga keamanan, memberikan pelayanan dan menghadirkan negara di tengah masyarakat Papua Barat.

Dua belas tahun Polda Papua Barat pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memegang tongkat komando, tetapi juga tentang bagaimana sebuah institusi terus tumbuh menghadapi tantangan zaman di Bumi Kasuari.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *