Papua Barat

Penjual Bubur di Manokwari, Pernah Tinggal di Riyadh, Anak Kerja di PNG

370
×

Penjual Bubur di Manokwari, Pernah Tinggal di Riyadh, Anak Kerja di PNG

Sebarkan artikel ini

Tukang bubur keliling Sariyono yang tinggal di Kampung Jawa Wosi Manokwari Papua Barat bersama saya di Gudang Cargo Bandar Udara Rendani Manokwari, Ahad (2/10/2022) pagi. PAPUADALAMBERITA. FOTO: SETYO CAHYO.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – ‘’Buburnya berapa pak deh,’’ tanya saya. ‘’Enam ribu,’’  jawabnya. ‘’Mau yang campur atau biasa,’’ tanya dia.

Itulah pembuka cerita inspiratif tukang bubur keliling Sariyono yang tinggal di Kampung Jawa Wosi Manokwari Papua Barat bersama saya di Gudang Cargo Bandar Udara Rendani Manokwari, Ahad (2/10/2022) pagi.

Ia saat itu menjajakan bubur kacang hijau di tengah keluarga KKSS Manokwari dan Keluarga Sulawesi Utara saat mengantar empat korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)  di jalan Bintuni-Maybrat saat mau diterbangkan ke kampung halaman.

Kakek dua cucu ini sudah tujuh tahun bersama istrinya mengadu nasip sebagai tukang bubur kacang hijau keliling dan nasi bungkus di Manokwari demi masa depan anak dan cucunya.

‘’Ke Manokwari sejak tahun 2015, tinggal di kampung Jawa Wosi, rumah kontrak,’’ ujar ayah tiga anak kelahiran 24 September 1969 kepada papuadalamberita.com.

Ia tidak hanya pekerja keras, tetapi  dengan kesabaran hasilnya pun terbayar, sebelum ke Manokwari, tahun 2015, Sariyono asal Ciamis, Bandung Jawa Barat bertahun-tahun bekerja di ibu kota Saudi Arabia, Riyadh sebagi tukang kebun dan taman.

‘’Dulu kerja di Riyadh tahun 1997. Bayarannya waktu itu 800 real atau sekitar dua juta rupiah perbulan bulan, kerjanya urus taman bunga,’’ kenangnya.

”Ya, alhamdulillah kerja disana sampai haji bersama istri, haji kerja, artinya karena kami kerja disana jadi berkesempatan haji, kalau naik haji dari sini (Indonesia) ya susah kita orang kampung nga (tidak, red) mampu,’’ ucapnya berdialek Jawa Barat.

‘’Pulang dari Saudi 2013, tidak balik ke Riyadh, lama di kampung, kerja serabutan, karena punya saudara dari keluarga istri ada  yang bekerja di Manokwari sebagai pengusaha tahu, saya ke sini (Manokwari, red),’’ kata dia.

Sariyono yang beristrikan gadis sekampung dengannya, Ciamis Jawab Barat dikaruniai tiga anak, anak pertama Mustolik 23 tahun, kedua Nelly Soffa 21 tahun dan ketiga Fauzi N Azroh 15 tahun.

Laki-laki yang usianya kian menua ini ingin anak-anaknya berpenghasilan memadai, bekerja yang lebih baik dari dirinya.

‘’Caranya, yah kita mendidika mereka dengan baik, sekolah, mengenal agama yang benar sebagai modal hidup mereka. Alhamdulillah dari hasil kerja bersama istri saya bisa menyekolahkan anak-anak,” jelasnya.

‘’Anak pertama sudah selesai sekolahnya, dia kerja di perusahaan palywood  di Papua New Gunea (PNG),  dia punya satu anak, istrinya orang Kalimantan,’’ papar pak de sambil melayani pembeli bubur dan nasi bungkus.

Kata dia, anak kedu yang perempuan juga telah menikah dan dikarunia satu anak, dan yang ketiga masih sekolah SMA.

‘’Anak yang ketiga di Ciamis sekolah SMA Kelas 1, tinggal bersama kakanya yang telah menikah,’’ ujarnya.

Dengan kerja kerasnya waktu di Riyadh dan menjadi tukang bubur keliling di ujung Indonesia, Manokwari, Ia telah membangun rumah di Ciamis, bahkan hampir setiap tahun ketika lebaran Ia bersama istri mudik lebaran bertemu anak dan cucunya di Ciamis.

‘’Pulang lebaran  di kampung sudah tiga kali bersama istri, hampir setiap lebaran, rumah juga sudah punya di Ciamis yah gubuklah Alhamdulillah di sukuri,’’ ujarnya merendah.

Ketika ditanya rumahnya lantai dua atau satu lantai, Ia tersenyum. ‘’Satu lantai saja,’’ jawabnya pelan.

Sebagai penjual bubur dan nasi kuning keliling, Ia memang pekerja keras, karena setelah berdagang pada pagi hari, siang balik ke kontrakan bertemu istri dan istirahat.

Waktu istirahat Sariyono dan istrinya tidak banyak, harus bangun lagi pada subuh hari mempersiapkan dagangan dan jualan bubur kacang hijau, nasi bungkus.

‘’Bangun jam tiga jelang subuh untuk persiapkan bubur kacang ijo, masak nasi dan lauk untuk nasi bungkus. Bungkus nasi, kemudian persiapkan bubur di termos-termos seusai sholat subuh jam 06.00 mulai keluar rumah,’’ kata Sariyono.

‘’Yah dari Wosi ke Bandara Rendani Manokwari, di Bandara Rendani sampai jam sembilan pagi ke Mako Brimob, nanti dari Brimob ke kota lagi, jika jajannya belum habis keliling lagi,’’ tutur pak de bersemangat.

Tukang bubur keliling Sariyono saat menjajakan jajannya di Gudang Cargo Bandar Udara Rendani Manokwari, Ahad (2/10/2022) pagi. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAMMMADUBUN.

Lantas berapa penghasilan pak de dalam sehari, dari 70 nasi bungkus yang dijajakan, dan dua termos bubur kacang hijau itu?

‘’Yah kalau bubur kacang dan nasi bungkus laku semua pendapatan dalam sehari mencapai satu juta rupiah, itu pun kalau ada yang pesan bubur kacang, tetapi dalam sehari paling sedikit Rp300.000 bisa saya bawa pulang,’’ tambahnya.

‘’Alhamdulillah semua itu saya sukuri,’’ ujarnya mengulang.

Namun dibalik kesuksesan menjajakan bubur kacang ijo dan nasi bungkus Pak Sariyono mengaku pernah punya pengalaman buruk dan konyol.

Ada orang tidur di jalan dikira kecelakaan, Ia membangunkan, namun yang diperoleh Ia kembali dikejar, ternyata orang itu mambuk.

‘’Pertama jualan di Manokwari, kan saya tidak tahu, Saya kira orang itu jatuh dan tidur, saya mau tolong malah saya mau dipukul  dia ngejar saya, untung ada orang yang lihat dan membantu saya,’’ ceritanya.

‘’Saya dibilang orang itu (diberi tahukan, red), pak de lain kali kalau ada orang tidur di emper toko itu nga papa, mereka kecapaain, bukan kecelakaan, biarkan saja, dari situ saya paham,‘’ ungkapnya mengenang  peristiwa konyol yang dialami tahun 2018 lalu.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *