Papua Barat

Bagian 1: Jejak Pemikiran Paulus Waterpauw: Membalut  Luka Saudara

126
×

Bagian 1: Jejak Pemikiran Paulus Waterpauw: Membalut  Luka Saudara

Sebarkan artikel ini

Buku Biografi dan Jejak Pemikiran Paulus Waterpauw Mengabdi dengan Hati Jilid dua (2) telah diluncurkan dan dibedah. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Luka saudara, luka kita! Bagaikan tubuh, tatkala ada bagian yang sakit, keseluruhan badan pun akan merasakan sakit.

Demikian pula, pada saat terjadi bentrokan antar anak bangsa, antar saudara sebangsa, rasa sakit pun tak terhindarkan.

Ya, demikianlah yang Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw, MSI rasakan, tatkala mendengar peristiwa kerusuhan di Malang dan Surabaya yang melibatkan warga asal Papua saat itu (Agustus 20219).

Kisah itu tertuang dalam goresan dua penulis yang juga wartawan dengan judul *BIOGRAFI dan JEJAK PEMIKIRAN Paulus Waterpauw Mengabdi dengan hati Jilid dua (2) buku setebal 387 halaman itu di tulis dua wartawan senior Ensa Wiarna dan Rudi Hartono dalam cetakan pertama edisi September 2022 yang diterbitkan  oleh penerbit media pustaka dengan nomor ISB: 978-429-019-6.

Dalam sub judulnya kedua wartawan ini mengurai kisah itu, Kapolda Papua Ke-2 (2019-2021, ‘’Bak Satu Perahu Dua Sisi’’.

Bagaikan berdiri di dua sisi perahu, siapapun harus menjaga. Tataklah kaki kiri mengangkat, maka perahu akan tenggelam ke sebelah kanan. Begitu pula se baliknya.

Di titik pandang seperti itulah, yang dirasakan Irjen Pol Paulus Waterpauw tatkala berupaya mengatasi peristiwa di Papua.

Tak pelak lagi, di sisi manapun ia menekankan pihak akan berpengaruh kepada pihak lain. Oleh karena itu, ia  sangat berhati-hati, tatkala hadir di Papua sebagai utusan khusus Kapolri yang kemudian dipercaya menjabat lagi sebagai Kapolda Papua yang kedua kalinya.

Penugasan Paulus Waterpauw sebagai Kapolda Papua tertuang dalam Surat Telegram Nomor: ST/2569/IX/KEP/2019 yang rilis pada Jumat, 27 September 2019 lalu.

“Mohon kepada Jenderal agar memerintahkan para pati/pamen Polri tersebut segera melaksanakan tugas yang baru paling lambat 14 hari mulai tanggal ditetapkan keputusan mutasi ini,” ujar Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dalam telegram tersebut kala itu.

Dengan pertimbangan demi bangsa dan kepolisian Republik Indonesia, Paulus pun hadir di Papua sebagai Kapolda yang kedua kalinya.

Tugasnya untuk menyelesaikan permasalahan yang bermula dari peristiwa di Malang, (15/8/2019) dan Surabaya (16/8/2019), mengantarkannya kembali ke kampung halamannya waktu kecil, Papua.

Langkah-langkahnya, senantiasa ia lakukan dengan pertimbangan yang memungkinkan kedua pihak yang bertikai atau berseberangan pandangan bisa menerima kehadirannya.

Sebagai Kaka Besar, seperti yang biasa warga Papua Paulus memanggil kepercayaan yang menganggapnya sebagai kakak.

Dalam melaksanakan tugasnya,  Irjen Paulus lebih mengutamakan pendekatan persaudaraan.

la hadir sebagai  kakak bagi mereka yang membutuhkan kepercayaan dari adik-adiknya. Namun, tatkala ia hadir pula sebagai abdi bangsa, warga Papua pun harus menghargai kedudukannya sebagai pihak yang mengayomi masyarakat.

Dengan kehadirannya sebagai saudara warga Papua, yang juga pihak yang berwajib memastikan keamanan warga Papua,  Sang Jenderal pun membutuhkan dukungan saudara- saudaranya.

Tatkala menghadapi dua pihak yang berseberangan pendapat haluannya dalam menentukan arah perjuangan, Paulus tetap menghargai masing-masing pihak.

Paulus tetap menghargai masing-masing pihak. Namun, di samping itu, Ia pun patuh akan koridor tugas yang diemban, sebagai komponen yang berkewajiban memastikan kebutuhan bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, dalam mengurai benang kusut peristiwa yang terjadi di Malang – Surabaya (Jawa Timur) dan Papua, Ia yakinkan kepada kedua belah pihak bahwa hukum akan hadir setara bagi siapapun. Hal itu Ia yakinkan, bahwa pihak-pihak yang bersalah akan menanggung resiko sesuai dengan kesalahannya.

Namun, bagi yang tidak bersalah, walau untuk sementara waktu diamankan di markas kepolisian, akhirnya akan dibebaskan setelah memang tidak terbukti kesalahannya!

Bagi Paulus, perkataan harus bisa dipegang. Untuk itulah tatkala orang-orang yang diduga terkait peristiwa perusakan atau hal-hal yang melanggar aturan ditangkap, kemudian ternyata tidak memenuhi unsur-unsur untuk diajukan ke pengadilan, maka dilepaskanlah mereka, maka dilepaslah mereka.

Dua buku Biografi dan Jejak Pemikiran Paulus Waterpauw Mengabdi dengan Hati Jilid dua (2) telah diluncurkan dan dibedah. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.

Kepastian hukum seperti itu, berdampak positif! Yang semua merasa takut dan waswas tatkala diminta keterangan pihak berwajib, mereka pun menjadi mau. Sebaliknya, yang berbuat salah, juga menyadari kesalahannya dan bersedia menerima konsekuensinya.

Peristiwa Malang dan Surabaya yang kemudian menyebar ke Papua berujung kerusuhan, berangsur, mereda, dan akhirnya pulih seperti sedia kala.

Dengan kembalinya kehidupan normal di Papua, seperti itulah yang diharapkan semua pihak, terlebih oleh Paulus Waterpauw yang ditugasi secara khusus mengatasi permasalahan tersebut.

Penerimaan masyarakat Papua terhadap Kaka Besar kian menguat. Bahkan tidak sekedar bangga karena tingginya pangkat dan jabatan sebagai putra Papua tersebut, tapi juga sudah melekat di hati masyarakat, dengan harapan agar martabat kebaikannya bisa dihargai melalui karir yang lebih terhormat di tingkat nasional.

Oleh karena itu, penugasan Irjen Paulus kembali sebagai Kapolda Papua yang kedua kalinya, mendapat beragam tanggapan dari para tokoh Papua.

Seperti, menurut anggota DPR Papua, John NR Gobai yang memandang janggal atas penunjukkan Irjen Pol Paulus Waterpauw sebagai Kapolda Papua tersebut.

Di benak wakil rakyat asal Papua tersebut, tidak selayaknya, seseorang menjabat Kapolda sebanyak empat kali dan dua kali di tempat yang sama.

“Saya bilang ada kejanggalan karena bagi saya sudah waktunya Paulus Waterpauw dipromosikan naik pangkat menjadi Komisaris Jenderal Polisi dan menempati jabatan di Mabes Polri. Mestinya bukan dimutasi pada jabatan sama seperti sebelumnya, dengan pangkat yang sama,” kata John Gobai,  Selasa (1/10/2019) seperti yang dilansir situs jubi online.

Biografi dan Jejak Pemikiran Paulus Waterpauw Mengabdi dengan Hati Jilid dua (2) telah diluncurkan dan dibedah. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.

Menurutnya, ia ingin anak asli Papua diberi ruang untuk eksis dalam Kepolisian Republik Indonesia. Baginya, bukanlah hal yang tabu jika ada anak asli Papua yang memiliki pangkat bintang tiga atau bintang empat dalam institusi kepolisian.

Oleh karena itu pula, ia mengharap Presiden RI dan Kapolri memberikan promosi jabatan kepada Paulus di Mabes Polri, dan menunjuk anak asli Papua lainnya sebagai Kapolda Papua.

Tanggapan lain, berasal dari anggota komisi politik, hukum dan HAM DPR Papua, Emus Gwijangge, la berharap, kembalinya Paulus Waterpauw menjabat sebagai Kapolda Papua, bisa mampu mengurai dan mengatasi masalah di berbagai daerah di papua yang terjadi.

la percaya, Palus Waterpauw sebagai anak asli Papua yang lama bertugas di Papua hingga menjadi Kapolda dua kali di Papua, pasti tahu kondisi Papua dan karakter masyarakat Papua.

Dengan demikian, kehadiran Sang Jenderal di tanah leluhurnya pun akan berdampak positif bagi warga Papua.(rustam madubun/biografi dan jejak pemikiran paulus waterpauw)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *