Papua Barat

​BNPB Siapkan 8 Ton Garam untuk Operasi Modifikasi Cuaca di Papua Barat

312
×

​BNPB Siapkan 8 Ton Garam untuk Operasi Modifikasi Cuaca di Papua Barat

Sebarkan artikel ini
​Koordinator Lapangan Pelaksanaan OMC Papua Barat dari PT Smart Cakrawala Aviation (operator mitra BNPB), Fais Ramadan menjelaskan kepada Gubernur Papua Barat terkait persiapan pelaksanaan MCC di Bandar Udara Rendani Manokwari, Rabu (14/10/2026). FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.

​PAPUADALAMBERIT.COM.MANOKWARI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui pihak ketiga pelaksana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menyiapkan sebanyak 8 ton garam (NaCl) untuk mendukung penyemaian awan di wilayah Papua Barat.

Baca juga: Gubernur Papua Barat Tinjau Langsung Modifikasi Cuaca di Bandara Rendani Manokwari

Langkah ini dilakukan guna memicu hujan di titik-titik rawan bencana, khususnya lokasi hotspot (titik panas) kebakaran hutan dan lahan.

​Koordinator Lapangan Pelaksanaan OMC Papua Barat dari PT Smart Cakrawala Aviation (operator mitra BNPB), Fais Ramadan, menyampaikan bahwa dari total 8 ton garam yang disiapkan, sebanyak 4 ton sudah tiba di Bandara Rendani, Manokwari, sementara sisanya masih dalam perjalanan.

​”Kita sudah mempersiapkan 8 ton garam, saat ini dalam perjalanan setengahnya dan yang sudah ready ada 4 ton. Untuk kebutuhan sehari-hari nanti akan menyesuaikan dengan kondisi awan yang ada di Papua Barat,” ujar Fais saat ditemui di Bandara Rendani, Manokwari, Rabu (14/10/2026).

Koordinator Lapangan Pelaksanaan OMC Papua Barat dari PT Smart Cakrawala Aviation (operator mitra BNPB), Fais yang ditemui wartawan di Bandara Rendani MAnokwari, seusai persiapan pelaksanaan OMC di Bandar Udara Rendani Manokwari, Rabu (14/10/2026). FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.

​Fais menjelaskan, penentuan lokasi penyemaian garam sepenuhnya mengacu pada analisis dan arahan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tim di lapangan terus memantau pertumbuhan awan Cumulus potensial yang masuk ke wilayah Papua Barat, khususnya di area prioritas yang memiliki titik hotspot.

​”Untuk perencanaan saat ini masih belum ada arahan dari pihak BMKG untuk penyemaian di mana. Nanti akan kita pantau terus bersama ritual awan yang potensial. Ketika sudah masuk ke wilayah Papua Barat, apalagi wilayah prioritas titik hotspot, di situ akan kita lakukan penyemaian,” jelasnya.

​Dalam satu kali penerbangan, pesawat OMC mampu membawa hingga 1 ton garam. Adapun jumlah sortie atau frekuensi penerbangan saban harinya akan disesuaikan dengan kondisi awan dan rekomendasi BMKG.

​ ​Mengenai rentang waktu terjadinya hujan setelah proses penyemaian, Fais menuturkan hal tersebut sangat bergantung pada tingkat kejenuhan awan.

​”Jika kondisi awannya sudah jenuh, perkiraan hujan akan turun sekitar 1 hingga 3 jam setelah penyemaian. Namun jika awan belum terlalu padat, hujan kemungkinan baru akan turun pada malam harinya,” kata Fais.

​Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan air hujan hasil modifikasi cuaca ini, Fais menegaskan bahwa air hujan tersebut aman dan tidak berdampak negatif bagi lingkungan maupun kesehatan. Garam yang digunakan adalah garam dapur murni dan jumlah yang disemai sangat sedikit jika dibandingkan dengan volume air yang ada di dalam awan.

​”Aman untuk dikonsumsi. Kita sudah melakukan pengujian terkait dampak lingkungan dan tidak ada masalah. Garam ini seperti garam dapur pada umumnya. Dibandingkan dengan jumlah air di dalam awan, 1 ton garam itu posisinya hanya sedikit sekali,” tegasnya.

​Pelaksanaan OMC di Papua Barat ini dijadwalkan berlangsung hingga Kamis (15/10/2026), namun tidak menutup kemungkinan akan diperpanjang tergantung pada evaluasi dan arahan lebih lanjut dari BNPB.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *