ORANG BASODARA: Dua calon bupati Manokwari 2020 Hermus Indou dan Sius Dowansiba (tengah) jumpa dalam satu kegiatan pada Kamis 10 September 2020 di Manokwari.... Derby Sius – Hermus  untuk Manokwari Lebih Baik

ORANG BASODARA: Dua calon bupati Manokwari 2020 Hermus Indou dan Sius Dowansiba (tengah) jumpa dalam satu kegiatan pada Kamis 10 September 2020 di Manokwari. PAPUADALAMBERITA. FOTO: rustam madubun

OPINI OLEH: *Rustam Madubun

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Sius Dowansiba – Mozes Rudi Frans Timisela momor urut satu dan Hermus Indou – Edi Budoyo nomor urut dua adalah pasangan calon bupati dan wakil bupati pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Manokwari.

Hasil tinjauan kesehatan tim medis dari  IDI, IMSI dan BNN Daerah Papua Barat kedua pasangan dan wakilnya sehat dan mampu menjalankan tugas kepala daerah dan wakil kepala daerah. Mereka akan dipilih rakyat, siapa menjadi bupati dan wakil bupati membangun Manokwari lebih baik lima tahun kedepan?

Pilkada Manokwari menghadapkan Sius Dowansiba vs Hermus Indou merupakan derby dua putra Arfak terbaik dalam sejarah pemilihan kepala daerah Kabupaten Manokwari. Sius memastikan maju dengan tiga partai, Hermus Indou dengan tage line HEBO melenggang di Pilkada setelah mengantongi sembilan partai.

Jelang “laga final” 9 Desember 2020 sebagai derby putra Arfak, Sius-Hermus secara pemerintahan dan organisasi terbilang mumpuni, ada birokrat dan ada politisi.

Siapapun yang terpilih nanti, saat membangun berdasarkan skala pembangunan nasional dan daerah, tetapi masa – masa pencalonan hubungan emosional agama, partai, kultur dan budaya, pertemanan menjadi kantong suara penentu satu dari dua ini siapa yang akan berdiri di podium kehormatan.

Pada dasarnya hidup manusia itu berkomunitas, ini telah dibuktikan adanya partai berbasis agama, ada paguyuban, ada suku-suku, organisasi kemasyarakatan terorganisir baik dan positif, suara inilah dalam musim setiap Pemilu tiba dimanage baik oleh tim pemenangnya.

Suius – Rudi pasangan yang releginya sama, tetapi memiliki kedekatan dikalangan muslim non partai dan non organisasi, keduanya memiliki kolega, teman sebangku sekolah, teman satu alumni kampus.

Bagaimana dengan Hermus – Edi? HEBO  tidak sulit, selain Edi, Hermus sebagai tokoh religi “cakep” membangun tali silaturahmi dengan tokoh-tokoh muslim dari organisasi dan partai.

Bagaimana suara warga Arfak sebagai penduduk Manokwari yang memiliki hak pilih? Apa pilihannya? Bisa ada keseimbangan suara. Karena siapaun teripilih pemenangnya putra terbaik Arfak.

Tampilnya Sius dan Hermus dimusim ini menyejukan Manokwari, sehingga siapapun pemenangnya keduanya tetap menjaga stabilitas politik daerah, stabilitas keamanan daerah.

Karena keduanya akan melihat “kakaknya” yang kepala Suku Besar Arfak, Drs Dominggus Mandacan, Nataniel Mandacan dan sejumlah tokoh Arfak,  tentu sebagai adik dan anak dari tokoh – tokoh besar akan  menjaga marwah “abang-abangnya”

Manokwari sebagai ibu kota provinsi membawahi 13 daerah tingkat dua, Sius dan Hermus tidak akan gegabah mau mencoreng nama besar Dominggus Mandacan yang juga Gubernur Papua Bara. Keduanya lahir dari satu “rahim” yaitu putra Arfak, ingin memberi contoh berdemokrasi baik bagi warga Manokwari.

Apa peran wakil bupati? Mozes Rudi F Timisela dan Edi Budoyo punya karakter sama, tidak pendendam. Ini telah terlihat ketika Rudi sebagai Ketua DPP Partai Golkar Papua Barat bagaimana Ia “diuji” pada Musda partai yang tertunda berkali-kali, Rudi memilih diam.

Suka tidak suka, dikepemimpinan Rudi berapa kursi Golkar disumbangkan di DPR Papua Barat dan menjadi partai dengan suara terbanyak, Golkar sebagai ketua DPR Papua Barat, juga di DPRD Kabupaten, Golkar sebagai wakil ketua DPRD Manokwari.

Harus diacungi jempol untuk Rudi, dengan keberhasilan Golkar menguasai parlemen Rudy juga tidak jumawa, Ia tetap rendah hati pada siapapun.

Edi Budoyo?  Lima tahun kepemimppinannya bersama almarhum Demas Paulus Mandacan, Edi tetap kalaem menghadapi “badai”, tidak sedikit Edi memperoleh guncangan secara diam-diam dari kalangannya sendiri, tetapi Edi juga selalu bersabar.

Dengan kemampuannya, Edi telah mebuktikan dirinya bersama almarhum Demas Paulus Mandacan sebagai pemanang Pilkada tahun lalu. Akankah Ia mengulang prestasi gemilang itu.  Bisa, karena Edi punya kantong suara yang juga dekat dengan Hermus sebelum Hermus mencalonkan diri sebagai bupati.

Harapan besar keduanya, selain Hermus tokoh berjiwa satria, sabar dan tidak pendedam, konsep Hermus humanis , humnis ini sudah ditegaskan pada timnya ketika deklarasi HEBO FOR Manokwari di Lapangan Borasi Manokwari seusai pendaftaran  di KPU.

Pesan humanis yang telah dijalankan timnya dapat menggugah warga untuk kepincut pada HEBO, tetapi jika timnya lalai menjalankan yang diamanatkan Hermus cerita bisa berbeda.

Keindahan Kota Manokwari di malam hari menanti polesan yang lebih asri, nyaman dan aman dari siapa yang terpilih nanti. PAPUADALAMBERITA. FOTO: rustam madubun

Apa yang perlu dikuatirkan kedua pasangan?  “penghianatan”  oknum politis bisnis dan kader “nakal”. Politisi sambil berbisnis berhitung “dagang”,  saya dukung ko (kamu, red) nanti ko kasih sa apa?

Ini lagu lama “penyanyi “ baru dengan vokalis cerdik bagi suara, mau pakai suara partai, atau suara organisasi, kedua-duanya mitra, namun berbeda pasangan, dilematis kan? Karena harus “berhianat “ pada satu, mau pilih keduanya suara hangus.

POLA USANG . “Serangan fajar”? Kecil kemungkinan dipakai  tim keduanya, belajar dari Pemilu  terdahulu,  serangan fajar ibarat membuang garam ke laut yang tidak merubah cita rasanya.

Sebab pemilih sudah “pintar”, musim panen, dimana terima dari semua,  tetapi omongannya 100 persen tidak menjadi jaminan kepada siapa mereka memilih.

Pemilih berkata:  “Kaka aman, saya pilih kaka, nanti datang tim satu, ia berkata yang sama: Kaka aman saya pilih kaka, kalau begini caranya kandidat dapat suara apa. Itu sama saja “habis uang hilang balanja”.

Tidak dipakainya pola serangan fajar juga lantaran mudah terbaca, karena hanya dua konsestan, (beda dengan Pilcaleg, banyak yang berburu suara “talapas”, red) sehingga kedua tim sawang sinawang (saling mengintip, red) sebagai bahan laporan empuk ke  mahkama konstitusi ketika sengketa itu ada.

Karena hanya dua pasangan,  pola serangan fajar juga mudah diteropong intelijen dan dikeker jurnalis, keduanya lebih berhati-hati mengambil resiko besar yang hasil suaranya kecil.

Jalan terbaik pemilih adalah berikhtiar sebelum memilih, lihat visi misinya, lihat kualitas partainya di parlemen, lihat kualitas tim suksesnya,  tampil humanis atau blackkampain?

Ayo kita semua wujudkan Pilkada aman, damai dan sehat. Jangan selesai Pilkada Satgas COVID-19  swab tes masal banyak positif corona, kalau sudah positif  siapa mau marah siapa, yang ada hanya dirawat 14 hari atau meninggal dunia karena penyakit bawaan setelah tertular. *penulis adalah pemred papuadalamberita.com

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *