PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama RI, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd, mengungkapkan bahwa Musyawarah Nasional (Munas) Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) turut membahas wacana penyelenggaraan bersama Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) dan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik, setidaknya pada seremoni pembukaan.
Wacana tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan persaudaraan antara umat Kristen dan Katolik di Indonesia sekaligus menjadi simbol kebersamaan dalam kehidupan beragama.
Dalam sambutannya pada Munas LPPN di Manokwari, Kamis (25/6/2026) Papua Barat, Jeane mengatakan gagasan tersebut bukanlah hal baru.
Bahkan, Menteri Agama RI beberapa kali menanyakan kemungkinan penyelenggaraan pembukaan bersama antara Pesparawi dan Pesparani.
“Menteri Agama beberapa kali bertanya kepada saya, apakah Pesparawi bisa digabung dengan Pesparani, meskipun hanya pada acara pembukaannya saja,” kata Jeane.
Menurut dia, pihaknya bersama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik telah berulang kali mendiskusikan kemungkinan tersebut.
Namun hingga kini belum ditemukan format yang tepat karena adanya perbedaan jadwal penyelenggaraan kedua kegiatan.
“Pesparawi tahun 2026 dilaksanakan sekarang, sementara Pesparani baru akan digelar pada 2027. Karena itu, secara waktu memang belum bisa dipertemukan,” ujarnya.
Selain faktor jadwal, Jeane menjelaskan bahwa mekanisme penganggaran juga menjadi tantangan tersendiri.
Anggaran penyelenggaraan Pesparawi berada di bawah Direktorat Jenderal Bimas Kristen, sedangkan Pesparani dikelola oleh Direktorat Jenderal Bimas Katolik.
Meski demikian, Ia optimistis peluang kolaborasi tetap terbuka pada masa mendatang.
“Ke depan, ini bisa menjadi legacy bersama. Bukan tidak mungkin jika jadwal pelaksanaannya dapat diselaraskan, maka pembukaan Pesparawi dan Pesparani dapat dilaksanakan secara bersama-sama,” katanya.
Jeane mencontohkan pengalaman kolaborasi antara umat Kristen dan Katolik dalam penyelenggaraan Natal Nasional yang selama ini telah dilaksanakan secara bersama dan berjalan dengan baik.
Menurut dia, semangat kebersamaan tersebut dapat menjadi model dalam pelaksanaan event keagamaan yang lebih besar di masa depan.
Ia juga mengungkapkan bahwa gagasan penyatuan seremoni pembukaan Pesparawi dan Pesparani pernah disampaikan sejumlah tokoh agama, termasuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan.
“Beberapa tahun lalu, Pak Luhut juga pernah menyampaikan gagasan tersebut. Banyak tokoh agama Kristen maupun Katolik yang mendukung ide agar Pesparawi dan Pesparani bisa disatukan, minimal pada acara pembukaannya,” ujar Jeane.
Menurutnya, penyelenggaraan bersama akan menjadi simbol kuat persatuan dan sekaligus mempererat hubungan antara umat Kristen dan Katolik di Indonesia.
Karena itu, ia berharap pembahasan dalam Munas LPPN dapat menghasilkan rekomendasi resmi terkait wacana tersebut.
“Saya berharap dalam Munas ini muncul rekomendasi yang disepakati bersama. Jika ada rekomendasi resmi dari Munas, maka akan kami laporkan kepada Menteri Agama dan juga kepada Dirjen Bimas Katolik untuk ditindaklanjuti,” katanya.
Jeane menegaskan bahwa seluruh dinamika dan perbedaan pandangan yang muncul dalam Munas hendaknya menjadi kekuatan untuk melahirkan keputusan terbaik bagi pengembangan Pesparawi, kemajuan lembaga, serta penguatan kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.(rustaam madubun)













