Papua Barat

Dua Bulan Dikepung Asap TPA, Warga Masiepi dan Sowi Tagih Tindakan Pemkab Manokwari

653
×

Dua Bulan Dikepung Asap TPA, Warga Masiepi dan Sowi Tagih Tindakan Pemkab Manokwari

Sebarkan artikel ini

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Kepulan asap dari kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manokwari tak kunjung berakhir. Lebih dari dua bulan, warga di sejumlah permukiman sekitar TPA mengaku harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah paparan asap yang mereka khawatirkan berdampak terhadap kesehatan.

Dampak paling dirasakan warga Kampung Masiepi. Kampung yang berjarak sekitar satu kilometer dari TPA itu dihuni sekitar 129 kepala keluarga atau diperkirakan 300-400 jiwa.

Pemuda Kampung Masiepi, Erikson Dowansiba, mengatakan asap dari kawasan TPA telah mengganggu aktivitas warga, termasuk kegiatan berkebun. Kondisi tersebut juga mulai dikhawatirkan karena sejumlah anak disebut mengalami gangguan kesehatan.

“Anak-anak mulai jatuh sakit. Aktivitas masyarakat untuk berkebun juga sangat terganggu,” kata Erikson.

Menurut dia, persoalan asap tidak hanya dirasakan warga Masiepi. Kepulan asap juga disebut menyebar ke sejumlah kawasan lain, seperti Arfai, Marampa, hingga Sowi.

Erikson mengatakan asap biasanya semakin pekat pada pagi dan malam hari. Situasi itu membuat warga kesulitan beraktivitas secara normal.

Keluhan serupa disampaikan warga Sowi IV, Ika Rustika. Ia mengatakan asap dari TPA bahkan masuk ke dalam rumah sehingga dirasakan anggota keluarganya hampir sepanjang hari.

“Pagi, siang, malam kami harus menghirup asap, bahkan sampai masuk ke dalam rumah,” ujar Ika.

Warga Minta Penanganan Segera

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Manokwari tidak hanya melakukan penanganan sementara, tetapi memastikan kebakaran di kawasan TPA benar-benar dapat dipadamkan.

Menurut warga, persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama dan membutuhkan langkah konkret agar masyarakat tidak terus terpapar asap.

Selain pemadaman, warga juga meminta pemerintah memikirkan penanganan TPA dalam jangka panjang. Salah satu solusi yang diharapkan adalah penyediaan lokasi TPA baru yang lebih layak serta pembenahan sistem pengelolaan sampah.

Kondisi ini dinilai penting karena pembakaran sampah, terutama material seperti plastik dan karet, dapat menghasilkan asap yang mengandung berbagai polutan. Paparan asap dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.

Anak-anak dan lanjut usia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Selama asap masih pekat, warga di sekitar TPA disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah. Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel, seperti N95 jika tersedia, serta membatasi masuknya asap ke dalam rumah dapat menjadi langkah perlindungan sementara.

Warga berharap Pemkab Manokwari bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat segera mengambil langkah terukur untuk menghentikan kebakaran dan mengatasi dampak asap.

Bagi warga, persoalan TPA bukan lagi sekadar masalah sampah, melainkan telah menyentuh kenyamanan, aktivitas sehari-hari, dan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *