fbpx
PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Asam-asam buah belimbing, walau asam tolong petikan. Nasehat sebagai pembimbing, untuk hidup di masa depan. Bait pantun ini pantas disandang seniman... Feature (4) Seniman Papua Barat Elly Krey. Demi Lestarikan Budaya, Ia Rela Hidup di Bawah Jembatan Layang
PENGUKIR dan budayawan Papua Barat, Elly Krey dan ukirannya, Rabu (24/4/2019)/ FOTO: Rustam Madubun/papuadalamberita.com

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Asam-asam buah belimbing, walau asam tolong petikan.
Nasehat sebagai pembimbing, untuk hidup di masa depan
. Bait pantun ini pantas disandang seniman Papua Barat, Elly Krey.

Di usia 10 tahun ayah lima anak  ini hidupa tanpa kedua orang tuanya, Marinus Krey dan Dina Sada berpulang lebih awal.

Wasiat dan nasehat melestarikan budaya melalui seni ukir dan pahat untuk memiliki masa depan yang lebih baik dari almarhum Marinus Krey dipegang betul oleh Elly Krey,.

Walapun tanpa kedua orang tuanya, Krey sapaan akrab suami  dari Lince Mandober terus mengikuti pendidikan STM hingga mengantonggi surat tanda tamat belajar tehnik.

GERAY yang sekaligus ruang kerjanya sebagai Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua, Provinsi Papua Barat di Jalan Yogyakarta, Manokwari Papua Barat, Rabu (24/4/20). FOTO: Rustam Madubun/papuadlamberita.com

Setamat STM, hidupnya sempat goyang, Ia terseret dalam garis keras Oraganisasi Papua Merdeka, hidupnya bak seorang tentara, Ia berpindah-pindah dari hutan satu ke hutan lain di Iran, sampai pada akhirnya Ia harus melepas masa kelam itu, tetapi sebelumnya tima panas bidikan seorang serdadu bersarang di kakinya, Ia pun tumbang dan menyerah, Krey “turun gunung”.

Proses perawatan mebuahkan hasil, luka tembak dari lasar panjang senjata yang dimuntahkan tentara Indonesia berangsur pulih, kehidupan Krey membaik, sehingga pada tahun 1967 Krey terdafat di perusahaan daerah yang mendistribusikan bahan pokok antar daerah di Irian Jaya (kini Papua), PD Irian Bakti.

‘’43 tahun saya bekerja di Irian Bakti pada tahun 2009 saya pensiun,’ kenangnya.

Berbekal darah seni ayahnya yang mengalir ke tubuhnya Ia tidak berkehendak warisan budaya bermotifkan kultur Papua yang pernah dituangkan dalam lukisan, ukiran dan patung yang terpampang di media papan, kayu dan pot bunga serta kain itu hilang ditelan jaman.

‘’Nasehat bapak kepada saya, harus melestarikan budaya orang Biak dan orang Irian melalui seni ukir dan patung, supaya budaya kita tetap lestari dan masa depan saya juga tidak hilang, itu selalu tergiang-ngiang di telinga,’’ ujarnya.

Dimasa purna tugas seorang pegawai sederhana perusahaan daerah, Krey tidak hanya semangat membangun bahtera hidupnya sebagai kepala rumah tangga, namun karyanya mampu menyatukan nusantara, karena namanya terus tersohor sebagai seniman ukir mulai dari  Biak, Jayapura, Manokwari, Makassar, Bali, Surabaya hingga ke Jakarta Krey kebanjiran pesanan, secara kolektif,  ada pesanan dari pencinta seni ukir dan kolektor.

Kemahiran mengukir dengan filisofi budaya Biak Papua tidak membuatnya jumawa, puas dan terhenti di ukir mengukir. Terinspirasi dari tayangan televisi perajin pot bunga, membuat darah seninya mendidih, Ia mulai berpindah dari media  papan dan kayu, Krey melirik media pot bunga.

Demi memenuhi cita-cita untuk terus mengembangkan melestarikan budaya Papua sebagaimana yang diwasiatkan ayahnya, Ia mengambil langkah tergolong “nekat” meninggalkan Papua dan hijrah ke Ibu kota Negara, Jakarta untuk mendalami pembuatan pot bunga.

Di media pot bunga nilai-nilai kultur terukir lagi. Namun ia memperoleh ilmu tidak semudah yang dibayangkan, Krey dua bulan memilih makan apa adanya, hidup di bawah kolong jembatan layang di bilangan Cempaka Putih, Jakarta pusat, walaupun Ia memiliki keluarga yang hidup berkecukupan di Jakarta.

Kerasnya kehidupan kota metropolitan, tidak menurunkan hasrat anak desa dari ujung Indonesia Timur ini untuk menimbah ilmu, ibarat pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba, Ia dipertemukan dengan seorang perajin pot bunga dan hidup dalam gubuk reot milik perajin.

BERSAMA seniman Papua Barat, Elly Krey depan gerau seninnya di Jalan Yogyakarta, Manokwari Papua Barat, Rabu (24/4/2019). FOTO: Selfie rustam madubun/papuadalamberita.com

Krey pamit pada “gurunya” sang perajin pot bunga untuk pulang ke Papua sebagai tanah tumpah darahnya. “Setelah belajar membuat pot bunga kemudian saya minta pulang ke Manokwari,’’ urai “jebolan perajin bawah jembatan layang,”  merendah.  

Sudah bisa mengukir, memahat, menggambar di media kayu dan papan, Kery juga mampu mengukir di media pot bunga,  bak mangkok ketemu tutupnya, pas sudah. Di Manokwari Krey tidak henti-henti menerima pesanan ukiran patung hingga pot bunga.

Karya Ketua Perhimpunan Ojek Manokwari tidak henti-hentinya tampil dalam berbagi ivent-iven budaya mewakili Papua Barat. ‘’Selalu ikut pameran budaya mewakili Papua Barat di Jakarta, Bali dan Batam, dengan pameran lukisan dan ukiran saya makin di kenal,’’ ujarnya.

Diusia berkepala enam, peraih juara pertama lomba cipta karya seni Se-Indonesia pada Juli tahun 2015 di Batam energy untuk melestarikan seni budaya ukir bermotif Papua terus menyala-nyala.

Pemegang juara favorit lomba karya cipta seni budaya dalam perayaan seni budaya ke-III Festival Seni Budaya Ke-I Papua Barat tahun 2013 menaruh impian dan harapan besar di pundak anak-anak asli Papua untuk jangan pernah berhenti mengsah insting mencintai seni budaya Papua.

“Mari berkarya, berkarya sebelum mati, mati tinggal kenangan,’’ ulang Krey dengan filisofinya.

Apa harapannya kepada generasi millennial Papua? ‘’Mengangkat dan menjaga budaya kami, jangan sampai hilang, itu harapan saya ke depan, karena budaya ini adalah jati diri kami sebagai orang Papua, makanya kita harus lestarikan,’’ pesannya.(rusatam madubun)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!