NasionalPapuaPapua BaratPapua Barat Daya

IA-ITB Dorong Investasi dan Penguatan SDM Lokal untuk Percepat Pembangunan Papua

268
×

IA-ITB Dorong Investasi dan Penguatan SDM Lokal untuk Percepat Pembangunan Papua

Sebarkan artikel ini

PAPUADALAMBERITA.COM.JAKARTA – Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Papua dan Papua Barat mendorong penguatan investasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal, dan kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi mineral dan minyak dan gas bumi (migas) sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Upaya tersebut dibahas dalam Seminar Nasional bertajuk ”Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua” yang diselenggarakan IA-ITB Papua dan Papua Barat di Jakarta, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah pusat dan daerah, akademisi, pelaku industri, serta pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan strategi pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Ketua IA-ITB Papua dan Papua Barat Hengky Rumbino mengatakan, besarnya potensi mineral dan migas di Papua perlu didukung perencanaan jangka panjang, kepastian kebijakan, dan sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, serta masyarakat.

Menurut dia, pemanfaatan sumber daya alam tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan investasi dan produksi. Pengelolaannya juga perlu mendorong peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, penguatan ekonomi daerah, dan pemerataan manfaat pembangunan.

”Potensi mineral dan migas Papua harus menjadi penggerak pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, kita perlu memastikan keberlanjutan investasi berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas SDM lokal, penguatan ekonomi daerah, dan pemerataan manfaat pembangunan,” ujar Hengky.

Ia menilai, keberlanjutan investasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Papua. Pengalaman investasi berskala besar, seperti kegiatan pertambangan PT Freeport Indonesia di Papua Tengah dan proyek gas Tangguh di Papua Barat, menunjukkan keterkaitan industri ekstraktif dengan aktivitas ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan sektor pendukung.

Namun, pengembangan investasi baru masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, ketersediaan energi, dan kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi sesuai industri menjadi tantangan yang perlu diatasi.

Selain itu, penguatan kegiatan eksplorasi dan kepastian berusaha dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam Papua. Kebijakan investasi, menurut IA-ITB Papua dan Papua Barat, perlu dirancang agar mampu mendukung kegiatan usaha jangka panjang sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Penguatan ekonomi lokal

Direktur sekaligus Executive Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia Claus Wamafma mengatakan, pengelolaan potensi mineral dan migas Papua perlu mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, tata kelola, serta penghormatan terhadap kearifan lokal.

Ia mengatakan, kontribusi industri pertambangan tidak hanya dapat dilihat dari nilai investasi dan produksi, tetapi juga dari dampaknya terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.

Di Freeport Indonesia, misalnya, kegiatan pertambangan turut menggerakkan sektor-sektor pendukung melalui penciptaan lapangan kerja, belanja lokal, kemitraan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan rantai pasok, serta kontribusi fiskal bagi daerah dan negara.

Claus menambahkan, pengolahan mineral dan pengembangan industri hilir di dalam negeri juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Langkah tersebut diharapkan memperkuat rantai industri nasional dan memperluas manfaat ekonomi dari kegiatan pertambangan.

Meski demikian, keberlanjutan kegiatan industri membutuhkan kepastian investasi dan perencanaan yang didukung ketersediaan sumber daya mineral terukur. Kepastian tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap aspek sosial dan lingkungan.

”Kepastian investasi jangka panjang perlu berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat adat, dan generasi muda memiliki peran penting untuk memastikan potensi yang dimiliki Papua dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan,” kata Claus.

Perluasan kesempatan bagi masyarakat Papua

Seminar tersebut juga menyoroti pentingnya memperluas partisipasi masyarakat Papua dalam industri mineral dan migas. Pendidikan, pelatihan, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal dinilai perlu diselaraskan dengan kebutuhan industri agar masyarakat memiliki akses lebih luas terhadap kesempatan kerja.

Partisipasi masyarakat juga diharapkan meningkat dalam berbagai tahapan kegiatan industri, mulai dari eksplorasi dan produksi hingga pengolahan dan hilirisasi. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati perusahaan berskala besar, tetapi juga dapat menjangkau pelaku usaha lokal melalui rantai pasok dan kemitraan.

Di sektor migas, perhatian diarahkan pada penguatan eksplorasi dan produksi, penyediaan infrastruktur pendukung, serta keterlibatan badan usaha milik daerah melalui skema participating interest atau kepemilikan hak partisipasi dalam kegiatan usaha hulu migas.

IA-ITB Papua dan Papua Barat juga mendorong pembahasan mengenai peningkatan manfaat keuangan bagi daerah penghasil. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pembiayaan pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Panitia Seminar Nasional IA-ITB Papua dan Papua Barat Paul Antoh mengatakan, penyelenggaraan seminar di Jakarta dimaksudkan untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan di Tanah Papua.

Menurut Paul, upaya tersebut diharapkan sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Melalui seminar ini, IA-ITB Papua dan Papua Barat berharap dialog antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan potensi mineral dan migas di Papua.

Hengky menegaskan, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari besarnya investasi atau volume produksi sumber daya alam. Ukuran lainnya adalah sejauh mana masyarakat Papua memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kapasitas, berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, dan menikmati manfaat pembangunan secara berkelanjutan.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *