fbpx
Bupati Fakfak saat membuka Konferensi III PWI Fakfak, juga dihadiri, Kepala PUPR Fakfak (baju biru) Wakapolres Fakfak, Ketua KPU Fakfak, dan Perwakilam Kodim Fakfak.... Ini Pandangan Bupati Fakfak Terhadap Kerja Jurnalis

Bupati Fakfak saat membuka Konferensi III PWI Fakfak, juga dihadiri, Kepala PUPR Fakfak (baju biru) Wakapolres Fakfak, Ketua KPU Fakfak, dan Perwakilam Kodim Fakfak. FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.com

Sambutan Ketua PWI Papua Barat, Bustam pada Pembukaan Konferensi III PWI Fakfak, Kamis (21/11/2019) di Hotel Grand Papua Fakfak. FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.com

PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK –  Pers tidak sekedar pekerjaan biasa, pers adalah jurnalisem yang membawa kabar baik. Jadi, keliru jika menafsirkan pers itu hanya sebagai pekerja biasa.

Baca juga: Enrico Letsoin Jabat Ketua PWI Fakfak, Segera Gelar UKW dan Pengurusan Kartu Anggota PWI

‘’Misi yang dibawah pers adalah kabar baik, bagaimana menggambarkan informasi kepada masyarakat, mengintegrasikan dengan strategi serta semangat masyarakat yang arahnya kepada transformasi sosial,’’ jelas Bupati Fakfak Dr. Drs. Mohammad Uswanas, M.Si ketika membuka Konferensi III PWI Fakfak, Kamis (21/11/2019) di Fakfak.

Semangat pers itu tidak berhenti hanya karena satu factor, karena pers seperti spiritualis yang membangun spirit.

‘’Saya dulu merupakan salah satu anak muda Papua yang sering dibimbing Pak Harmoko (mantan Menteri Penerangan RI era Presiden Soeharto) jadi dalam bimbingan-bimbingan itu muncul semangat jurnalisme, di era itu selain Harmoko ada Parni Hadi, Subari mereka adalah tokoh-tokoh pers yang hebat.

‘’Tokoh-tokoh pers itu pada jaman mereka tidak bawa apa-apa. Mereka cuma bawa pena. mereka bawa mesin ketik portable yang bisa dijinjing tetapi semangatnya tidak pernah putus untuk mengabdi dengan profesi jurnalisme dalam rangka pembangunan bangsa dan negara. Itu hebat sekali,’’ kenang Bupati Fakfak ketika masa mudanya dalam bimbingan mereka.

Pers ikut menentukan strategi politik,  lanjut Bupati Fakfak sehingga pada era-era terdahulu ada pameo menyebutkan siapa yang menguasai pers dia menjadi pemenang.  Jadi semangat pers itu lebih daripada semangat demokrasi.

‘’Jurnalis juga mampu membangun strata dalam rangka pranata sosial. Tugas pers itu spiritualisme oleh sebab itu, maka saya bilang mari kita benahi pers di Fakfak sebagai pers yang bertanggungjawab,’’ terang Mohammad Uswanas.

Khususnya pemerintah daerah Fakfak, kata bupati  sangat senang atas kehadiran pers di Fakfak. Tanpa pers tidak mungkin pemerintah bisa bekerja baik dan benar. Pers harus menjadi terbaik bukan membuat memperkeruh masalah, pers mempromosi masalah untuk pemerinta dapat mengambil keputusan.

‘’Tanpa pers kita sulit, sekarang kita lihat diera digital informasi itu penting. Kita tidak bisa tanpa pers. Selain media cetak, rohnya pers kini muncul dengan desain teknologi digital media online,’’ ucap Uswanas.

Bupati Fakfak dua periode ini mengatakan, hingga kini public masih percaya informasi yang baik dan benar adalah informasi yang dilahirkan dari goresan-goresan tangan dan pemikiran jurnalis, meskipun wartawan itu juga manusia, sehingga ada ulasan atau tulisan menjadi  pro-kontra. Tetapi pada akhirnya pers juga mampu mendefinisikan satu persoalan berdasarkan pendekatan pendekatan jurnalisme.

Ekspresi Bupati Fakfak pada pembukaan Konfrensi III PWI fakfak. FOTO: RUSTAM MADUBUN/papuadalamberita.com

‘’Jurnalisme harus berpikir proporsional, pers harus mendorong masyarakat, pemerintah supaya memiliki semangat membangun. Pers mampu membuat sesuatu menjadi redup dan juga mampu membangkitkan semangat, pers adalah motivator, stabilisator, pers bukan sekedar penyeimbang, Oleh sebab itu marilah kita sama-sama di era informasi digital kita berperan,’’ tambah Uswasnas yang pada tanggal 24 ini diundang memberikan kuliha umum di Universitas Pertamina Jakarta.

‘’Oleh sebab itu saya tambahkan sedikit, sebentar lagi Fakfak akan masuk masa pemilihan kepala daerah, dimana masa itu masa-masa rawan.  Tetapi saya yakin dan percaya insan-insan pers di Fakfak mampu menjembatani agenda-agenda sebelum maupun sesudah pelaksanaan Pilkada dengan membangun semangat demokrasi. Disinilah peran pers,’’ tambah Uswanas.

Diakhir penyampainnya, Uswanas yang juga Ketua DPD Golkar Kabupaten Fakfak mengatakan mudah-mudahan di hari ulang tahun Otsus (21 November) ini mampu meningkatkan peranan pers dalam rangka menjawab desentralisasi sebagai tuntutan dalam formulasi percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat.

Ketua PWI Papua Barat, Bustam dalam arahnya mengingatkan pers di Kabupaten Fakfak harus menjaga marwa organisasi PWI di Fakfak, karena pers juga dinilai masyarakat.

”Pers masyarakat dan pemerintah harus berjalan bersama, pers tanpa masyarakat, pers tanpa pemerintah tidak dapat berjalan baik, begitupula sebaliknya,” pesan pemilik media online klikpapua. com.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!