Papua Barat

Jejak Kecil Dominggus Mandacan: Jualan Sayur, Berpayung Daun Pisang, hingga Jadi Gubernur

469
×

Jejak Kecil Dominggus Mandacan: Jualan Sayur, Berpayung Daun Pisang, hingga Jadi Gubernur

Sebarkan artikel ini
Gubernur Papua Barat Drs Dominggus Mandacan, M.Si. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADLAMBERITA.COM

Pengalaman membantu orangtua berjualan sejak kecil menjadi bekal Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan memahami arti kerja keras. Di hadapan para pelajar, ia mengajak generasi muda belajar dari potensi di sekitar mereka dan berani menciptakan lapangan kerja.

PAPUADALAMBERITA.COM, MANOKWARI — Sebelum mengenal ruang-ruang pemerintahan, Dominggus Mandacan lebih dahulu akrab dengan jalanan Manokwari. Saat masih kecil, ia mengikuti orangtuanya menjajakan hasil kebun, membawa sayur-mayur, rambutan, langsat, cabai, hingga sisir pisang. Dari satu kawasan ke kawasan lain, ia berjalan mengikuti orangtuanya yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Kenangan itu dibagikan Gubernur Papua Barat kepada pelajar dalam Pameran Dagang Lokal di Atrium Manokwari City Mall, Manokwari, Jumat (9/10/2026).

Di tengah beragam produk usaha lokal, Dominggus tidak hanya berbicara tentang peluang ekonomi, tetapi juga mengajak generasi muda belajar dari perjalanan hidupnya.

Manokwari yang dikenalnya semasa kecil berbeda dengan kota sekarang. Pasar Sanggeng belum berdiri seperti yang dikenal masyarakat hari ini. Kawasan Borobudur, menurut ingatannya, masih menjadi tempat penjualan ikan di atas papan-papan yang dibangun di atas air.

Dominggus kecil membantu orangtuanya menjajakan hasil kebun. Kadang-kadang, ia membawa seikat sayuran di tangan kanan dan kiri. Pada kesempatan lain, sisir pisang menjadi barang yang dibawanya menyusuri Fanindi, Anggrem, hingga Wirsi dan Biriosi.

“Jadi maksudnya itu kita ikut orangtua jualan-jualan,” tutur Dominggus.

Kegiatan itu berlanjut ketika ia mulai bersekolah. Pagi hari, ia membantu mengantar hasil kebun ke tempat penjualan sebelum berangkat belajar. Sepulang sekolah, ia kembali membantu menjaga dagangan. Belajar dan bekerja menjadi bagian dari kesehariannya, mengajarkannya tentang tanggung jawab sejak usia dini.

Perjalanan menuju sekolah pun bukan perkara mudah. Dominggus mengenang masa ketika ia berjalan kaki dari Mandopi menuju sekolah di kawasan Manggoapi. Saat hujan turun, daun pisang atau daun keladi terkadang digunakan untuk melindungi kepala menjad payung.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan dan tanggung jawab membutuhkan ketekunan. Anak-anak sekarang mungkin memiliki akses pendidikan dan teknologi yang lebih baik, tetapi kemudahan itu semestinya menjadi kesempatan untuk berkembang, bukan alasan untuk kehilangan semangat berusaha.

Bagi Dominggus, pelajaran tentang kemandirian tidak hanya diperoleh di ruang kelas. Seorang anak juga belajar ketika melihat orangtuanya bekerja, membantu menjajakan dagangan, dan memahami bahwa setiap penghasilan membutuhkan usaha.

BERBAGI KASIH – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan membeli produk noken berbentuk baju hasil kerajinan mama-mama Papua, kemudian menghadiahkannya kepada dua pelajar SMK Negeri Manokwari, Anti Kano dan Natalia Windesi, di stan pameran produk lokal Manokwari City Mall, Jumat (9/10/2026). Pemberian tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap produk kerajinan lokal sekaligus dukungan bagi pelaku UMKM Papua Barat.FOTO: RUSTAM MADUBUN/PAPUADALAMBERITA.COM

Ingatan masa sekolah Dominggus juga menyimpan cerita tentang perjuangan dan kekompakan. Saat bersekolah di SMP Negeri 1 Manokwari, ia pernah memimpin regu beranggotakan tujuh orang dalam lomba lari lintas alam yang diikuti pelajar tingkat SMP dan SMA.

Rute perlombaan melintasi sejumlah kawasan Manokwari, mulai dari sekitar kantor gubernur lama, Gunung Meja, Universitas Papua, Manggoapi, Reremi, Sowi, hingga Sanggeng.

Di tengah perjalanan panjang itu, Dominggus membawa Kayu Akwai, bahan lokal yang telah dikenalnya sejak kecil. Ia membagikannya kepada teman-teman satu regunya untuk dikunyah selama perlombaan. Dalam kenangannya, regu tersebut akhirnya meraih juara pertama, mengungguli peserta dari jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Cerita tentang Akwai kemudian mengantarkannya pada pembahasan mengenai kekayaan lokal Papua Barat. Dominggus menyebut rumput kebar, buah bakau yang dapat diolah menjadi sirup, serta berbagai kerajinan, anyaman, dan ukiran sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Potensi itu tidak cukup hanya dikenal sebagai kekayaan alam. Masyarakat perlu mengolahnya menjadi produk berkualitas, memperbaiki kemasan, dan memperluas pemasaran agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Pameran Dagang Lokal yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua Barat dengan melibatkan 27 peserta menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan hasil usaha tersebut. Kegiatan itu merupakan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Ke-27 Provinsi Papua Barat 12 Oktober 2026.

Dominggus mengingatkan para pelajar agar tidak membatasi cita-cita hanya pada keinginan menjadi aparatur sipil negara, anggota TNI, atau Polri. Profesi tersebut tetap menjadi pilihan, tetapi bukan satu-satunya jalan untuk membangun masa depan.

Pertanian, perdagangan, dan kewirausahaan dapat menjadi pilihan. Usaha yang dirintis seseorang bahkan berpeluang membuka lapangan kerja bagi orang lain, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan pemilik usaha dan keluarganya.

Ia mencontohkan Pegunungan Arfak yang memiliki potensi pertanian, seperti sayur-mayur, kol, wortel, dan kentang. Hasilnya dapat dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, termasuk pasar di Manokwari.

Drs Dominggus Mandacan sesuai berbelanja kuliner dan memberikan kepada dua pelajar SMP Manokwari yang kebetulan melintas didekatnya. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA

Selama produksi lokal belum mampu memenuhi permintaan, pasokan dari luar daerah akan tetap diperlukan. Sebaliknya, peningkatan produksi dan ketersediaan hasil panen dapat membuka peluang agar manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan petani dan masyarakat Papua Barat.

Karena itu, pertanian tidak semestinya dipandang sebagai pilihan terakhir bagi mereka yang belum memperoleh pekerjaan formal. Dengan pengetahuan, pengelolaan yang baik, dan akses pasar, pertanian dapat berkembang menjadi usaha yang menjanjikan.

Untuk menggambarkan pandangannya, Dominggus mengilustrasikan seorang petani yang tampil rapi dengan kacamata hitam, celana jins, baju lengan panjang, dan topi. Gambaran itu menyiratkan bahwa bekerja di ladang tidak menghalangi seseorang untuk tampil percaya diri sebagai pelaku usaha.

Bertani, berdagang, dan mengembangkan usaha kecil membutuhkan kedisiplinan, kreativitas, serta kemampuan membaca peluang. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar hasil pertanian, memperkenalkan kerajinan kepada konsumen di luar daerah, dan mengembangkan pangan khas Papua Barat menjadi produk yang memiliki daya saing.

Namun, peluang tidak akan berkembang hanya dengan mengandalkan kekayaan alam. Diperlukan kemauan belajar, keberanian memulai, dan kesungguhan mengelola usaha.

Gubernur dan Sekda. FOTO RUSTAM MADUBUN.PAPUADLAMBERITA.COM

Perjalanan Dominggus, dari seorang anak yang membantu orangtuanya menjajakan hasil kebun hingga menjadi gubernur, bukan rumus yang menjamin setiap anak dengan pengalaman serupa akan menempuh jalan yang sama. Namun, kisahnya memperlihatkan bahwa tanggung jawab, ketekunan, dan kemauan belajar dapat tumbuh dari pengalaman sederhana sehari-hari.

Ia tidak meminta generasi muda mengulangi persis perjuangan masa lalunya. Zaman telah berubah, kesempatan pendidikan semakin terbuka, dan teknologi menyediakan berbagai kemungkinan baru. Yang perlu dipertahankan adalah semangat untuk tidak malu bekerja, terus belajar, dan berani memulai dari apa yang tersedia di sekitar mereka.

Pembangunan ekonomi Papua Barat tidak hanya bergantung pada program pemerintah atau investasi berskala besar. Petani, pedagang, perajin, pelaku usaha lokal, dan generasi muda juga berperan dalam mengembangkan potensi daerah menjadi sumber penghidupan.

Dari langkah-langkah kecil menyusuri jalanan Manokwari sambil membawa hasil kebun, Dominggus menyimpan pelajaran yang kini dibagikannya kepada generasi berikutnya: kerja keras bukan sekadar cara bertahan hidup, melainkan bekal untuk mengenali peluang, membangun kemandirian, dan membuka jalan bagi orang lain.

Masa depan Papua Barat bukan hanya tentang berapa banyak anak muda yang berhasil mendapatkan pekerjaan, tetapi juga tentang berapa banyak yang berani menciptakan pekerjaan, mengembangkan potensi kampungnya, dan memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *