PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat memprediksi potensi pertumbuhan awan hujan di Papua Barat meningkat pada 11–15 Oktober 2026. Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk mendukung operasi modifikasi cuaca guna mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta sebaran asap.
Hal itu disampaikan Direktur Meteorologi BMKG, Pusat Dr. Ida Pramuwardani dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla dan Asap yang dihadiri Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani di Ruang Multimedia Kantor Gubernur Papua Barat, Manokwari, Rabu (8/10/2026). Rapat berlangsung secara tatap muka dan daring.
Rapat koordinasi dipimpin Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani, SH., M.SI didampingi Sekda Papua Barat Drs Ali Baham Temongmere, P.TP.
Baca juga: MRP Papua Barat Desak Penanganan Asap Karhutla Perhatikan Dampak Kesehatan
Ida mengatakan, secara umum kondisi cuaca Papua Barat masih relatif kering hingga 15 Oktober. Namun, dinamika atmosfer menunjukkan peluang pertumbuhan awan hujan mulai meningkat pada 11 Oktober dan lebih signifikan pada 12–13 Oktober.
“Potensi pertumbuhan awan hujan” didukung oleh kondisi kelembapan udara di berbagai lapisan atmosfer. Selain itu, terdapat daerah belokan angin di Papua Barat bagian utara yang dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.
Potensi tersebut diperkirakan lebih signifikan di Papua Barat bagian utara dibandingkan wilayah selatan. Secara umum, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah Papua Barat, terutama pada 12–15 Oktober.

Di tengah peluang hujan tersebut, ancaman karhutla masih perlu diwaspadai. BMKG mendeteksi 53 titik panas (hotspot) di Papua Barat berdasarkan pemantauan satelit terbaru. Secara keseluruhan, terdapat 747 titik panas di wilayah Papua.
Ida menjelaskan, asap yang menyelimuti Papua Barat tidak hanya berasal dari kebakaran di wilayah setempat, tetapi juga terbawa dari Papua bagian selatan. Angin dominan dari timur hingga tenggara menuju barat laut memungkinkan asap bergerak dan terakumulasi di Papua Barat.
Dalam 10 hari terakhir, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Papua Barat berfluktuasi. Jumlah tertinggi tercatat pada 1 Oktober, yakni 61 titik, sementara pada 5 dan 6 Oktober jumlahnya masih berada di atas 50 titik.
BMKG juga memperkirakan potensi kemudahan terjadinya kebakaran masih tinggi pada 8–11 Oktober. Risiko tersebut diprediksi menurun pada 12–14 Oktober seiring meningkatnya peluang pertumbuhan awan dan hujan.
Sejumlah wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain Teluk Bintuni, Fakfak, sebagian Manokwari, Teluk Wondama, dan Kaimana.
Ida mengatakan, kondisi atmosfer pada 11–15 Oktober perlu dimanfaatkan apabila operasi modifikasi cuaca diperlukan. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada ketersediaan dan karakteristik awan yang memenuhi syarat untuk dimodifikasi.
Dengan ancaman karhutla yang masih tinggi dan asap yang berasal dari wilayah Papua bagian selatan, periode meningkatnya pertumbuhan awan hujan pada pertengahan Oktober menjadi salah satu momentum penting untuk membantu mengurangi dampak kebakaran dan asap di Papua Barat.(rustam madubun)













