Papua Barat

Kisah Suyono, Transmigran Terakhir SP 8 Tomage Bertahan Tanpa Listrik dan Jembatan

231
×

Kisah Suyono, Transmigran Terakhir SP 8 Tomage Bertahan Tanpa Listrik dan Jembatan

Sebarkan artikel ini
Fakfak
Suyono dan Istri Warga Transmigran SP 8 Distrik Tomage Bersama Tim IPB University Ekspedisi Patriot. Rabu (10/12/2025). FOTO : ISTIMEWA. PAPUADALAMBERITA.COM.

PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK –  Di Distrik Tomage, berdiri kokoh satu – satunya rumah yang masih berpenghuni di lokasi Transmigrasi Satuan Pemukiman (SP) 8. Di sanalah Pak Suyono bersama istri dan anak – anaknya menjalani hidup dalam isolasi, menanti perbaikan infrastruktur yang telah diusulkan selama delapan tahun namun tak kunjung terealisasi.

​Kisah perjuangan ini terungkap saat Tim Ekspedisi Patriot IPB University mengunjungi kediaman Pak Suyono pada Senin, 24 November 2025. Kunjungan tersebut menyoroti kondisi kawasan yang telah ditinggalkan seluruh keluarga transmigran lainnya akibat akses infrastruktur yang tidak memadai.

​Tim IPB University mendokumentasikan secara langsung kondisi lapangan, di mana akses jalan telah rusak parah dan jembatan utama kawasan transmigrasi tersebut telah putus. Kerusakan ini menyebabkan isolasi total bagi keluarga Pak Suyono. Tanpa jaringan listrik dan telekomunikasi, Pak Suyono hanya mengandalkan genset untuk penerangan seadanya.

​Keputusan untuk bertahan didasari ketiadaan tempat tinggal lain. Beliau tetap mengelola lahan pertanian sebagai sumber penghidupan utama, menanam berbagai komoditas seperti sayuran dan buah-buahan.

​Beruntung, upaya mempertahankan hidup Pak Suyono mendapat uluran tangan sementara. Setelah jembatan utama putus, PT Rimbun Sawit Papua (RSP) membuka akses jalan menuju rumah Pak Suyono melalui jalur kebun sawit. Perusahaan tersebut juga memberikan dukungan pupuk untuk membantu meningkatkan hasil panen.

​“Saya berterima kasih kepada PT. Sawit (RSP)  karena sudah membuka akses jalan dan membantu pupuk. Dengan begitu saya bisa keluar masuk menjual hasil tani. Kalau tidak, kami terisolasi,” ujar Pak Suyono.

​Meski mendapatkan bantuan sementara, Pak Suyono menaruh harapan besar agar Pemerintah dan Kementerian Transmigrasi memberikan perhatian serius terhadap perbaikan infrastruktur utama. Beliau menyebut perbaikan jalan telah diusulkan selama delapan tahun.

​“Harapan saya pemerintah bisa memperbaiki jalan supaya tidak lagi lewat jauh-jauh melalui kebun sawit, dan supaya ada warga lain yang kembali tinggal agar saya tidak sendiri,” tambahnya.

​Selain perbaikan jalan, Pak Suyono juga berharap adanya bantuan motor roda tiga yang sangat dibutuhkan sebagai sarana untuk membawa hasil panen keluar dari wilayah yang terisolasi tersebut.

​Kunjungan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi pemerintah Pusat dan Daerah untuk segera bertindak mengatasi ketimpangan pembangunan yang dialami Pak Suyono dan kawasan transmigrasi SP 8 Tomage.(rls TEP/Editor : Enrico)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *