PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Peringatan 666 Tahun Islam di Tanah Papua yang berlangsung di RTH Ma’ruf Amin Kabupaten Fakfak selain diwarnai dengan Tausiyah yang sampaikan KH Munawir Aseli juga dilakukan peluncuran buku sejarah masuknya Islam di tanah Papua.
Peluncuran ini ditamdai dengan buku sejarah masuknya Islam di Tanah Papua yang dipegang, Gubernur Papua Mathius Fakhiri, Wagub Papua Barat Mohamad Lakutani, Bupati Fakfak Samaun Dahlan, Wakil Bupati Fakfak Donatus Nimbitkendik, Wakil Bupati Bintuni Joko Lingara, Sekda Papua Barat Ali Baham Temongmere, Pj Sekda Fakfak Aroby Hindom, Ketua MUI Papua Barat Mulyadi Djaya, Presiden AFKN K.H. Dr. M.Z. Fadzlan Garamatan, Tokoh Agama dan Para Raja membuka buku tersebut di hadapan umat Muslim yang hadir dalam peringatan 666 Tahun Islam di Panah Papua.
Maka dengan dibukanya buku tersebut maka dengan resmi buku Sejarah Masuknya Islam di Tanah Papua diluncurkan. Dengan peluncuran tersebut Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Barat, Ali Baham Temongmere, menegaskan bahwa penetapan tanggal 8 Agustus 1360 Masehi sebagai waktu resmi masuknya agama Islam di Tanah Papua telah bersifat final dan tidak akan bergeser. Penegasan tersebut disampaikannya dalam acara peluncuran buku sejarah Islam sekaligus peringatan 666 Tahun Islam di Tanah Papua.
Ali Baham dihadapan umat Muslim yang menghadiri peringatan 666 Tahun Islam di Tanag Papua, menceritakan perjalanan panjang nan berliku yang memakan waktu hingga 31 tahun (1994–2025) hanya untuk menyepakati satu tanggal bersejarah bagi umat Islam di tanah Papua.
”Proses ini mengendap selama 30 tahun lebih. Dari tahun 1994, 2014, 2024, hingga Januari 2025. Kita terus melakukan seminar dan penelusuran sejarah dari Ternate, Aceh, hingga keliling Bintuni, Kaimana, dan Raja Ampat untuk mengumpulkan data. Hari ini sudah final, tanggal 8 Agustus 1360 adalah yang resmi masuknya agama Islam di Tanah Papua,” ujar Ali Baham di hadapan jajaran pejabat Pemprov Papua dan Papua Barat, para Bupati, pimpinan TNI/Polri, serta para Raja dan tokoh adat.
Ali Baham mengisahkan, alotnya penentuan tanggal ini lantaran banyaknya versi sejarah di lapangan, mulai dari versi Patipi, Patimunin, Pulau Adi, hingga Bintuni. Bahkan dalam kelakar khasnya, Dia mengutip percakapan masa lalu yang menyoroti betapa sulitnya menyatukan pendapat di kalangan umat Islam Papua dibandingkan saudara-saudara beragama Katolik.
Titik terang penetapan ini mulai dieksekusi secara tegas saat Ali Baham menjabat sebagai Penjabat (Pj.) Gubernur Papua Barat pada tahun 2023. Kala itu, ia mengambil langkah berani untuk menghentikan wacana seminar yang tak kunjung usai dan bertekad langsung mengetuk palu pengesahan.
Dia menceritakan kisah bersejarah ketika Presiden Soekarno berdialog dengan Raja Rumbati, Haji Ibrahim Bauw, terkait momentum pembebasan Irian Barat. Kala itu, sang Raja menyarankan agar momen merebut Irian Barat diselaraskan dengan tanggal masuknya Islam di Fakfak, yaitu 8 Agustus.
”Jadi, ada nilai spiritualnya, tetapi ada juga semangat patriotisme untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” jelasnya menyambungkan memori sejarah masuknya pasukan Brimob pelopor dari Kataloka ke Rumbati yang disambut hangat oleh warga lokal dengan nyanyian adat.
Menutup sambutannya, Sekda Papua Barat menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyusunan buku hingga pengesahan sejarah ini, mulai dari jajaran pemerintah daerah, MUI, lembaga legislatif, para Raja/Pertuanan, hingga masyarakat luas dari Karas Latu 3 hingga Wermusa.
”Bahwa kalau dalam buku ini nanti masih ada hal yang kurang, tentunya silakan berikan masukan untuk edisi berikutnya. Namun yang pasti, tanggal dan tahunnya tidak akan pernah berubah lagi,” pungkas Ali Baham.(Enrico)













