PAPUADALAMBERITA.MANOKWARI — Sebuah sepeda gunung, dua baju berbentuk noken, dan sejumlah bingkisan produk lokal menjadi bagian dari cerita yang mewarnai pembukaan Pameran Dagang Lokal Papua Barat 2026.
Namun, di balik hadiah-hadiah itu, terselip pesan tentang Pancasila, budaya, dan agama sebagai tiga unsur yang perlu berjalan beriringan dalam membangun Papua Barat.
Baca juga: Pameran Produk Lokal Papua Barat Buka Peluang Pasar bagi UMKM
Cerita itu bermula di penghujung sambutan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan pada pembukaan Pameran Dagang Lokal di Manokwari City Mall (MCM), Jumat (9/10/2026).
Pameran yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Papua Barat tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Provinsi Papua Barat.
Sebelum meninggalkan podium, Dominggus Mandacan mengajukan pertanyaan kepada masyarakat yang memenuhi lokasi acara.
Gubernur belanja makota adat produk UMKM Manokwari. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.
Pertanyaannya bukan tentang angka pertumbuhan ekonomi atau target pendapatan daerah, melainkan tentang bunyi tifa yang baru saja ditabuhnya menandai pembukaan pameran.
Pertanyaan sederhana tersebut segera mengundang perhatian hadirin.
Hadiah sepeda gunung disiapkan bagi warga yang dapat menjawab dengan benar. Kesempatan itu terbuka bagi masyarakat, tetapi tidak berlaku bagi aparatur sipil negara (ASN) yang hadir.
Dua orang mencoba menjawab lebih dahulu, tetapi belum tepat.
Kesempatan berikutnya datang kepada Rustam Madubun, jurnalis sekaligus pemimpin redaksi papuadalamberita.com.
Ia menjelaskan bahwa pukulan tifa pertama sebanyak lima kali melambangkan Pancasila sebagai dasar negara.
Pukulan kedua yang panjang dan cepat melambangkan budaya. Adapun pukulan ketiga melambangkan agama.
Bagi Rustam, ketiga unsur itu menyampaikan pesan bahwa pembangunan daerah Papua Barat memerlukan kebersamaan pemerintah, masyarakat adat, dan pemimpin agama. Ketiganya perlu bergandengan tangan, berjalan seiring, dan saling menopang.
Gubernur belanja produk UMKM Minyak Lawang Wondama Produk UMKM milik Melianus Auri. FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.
Jawaban itu membuat Rustam berhak membawa pulang sepeda gunung.
Ia dipersilakan naik ke podium kehormatan berdampingan gubernur sebagai pemenang hadiah dari gubernur.
Tepuk tangan pun terdengar dari Sekretaris Daerah Papua Barat Ali Baham Temongmere, para pimpinan organisasi perangkat daerah, serta undangan yang hadir.
Di tengah suasana pembukaan pameran yang resmi, hadiah tersebut menghadirkan selingan yang akrab.
Tifa yang semula menjadi penanda acara kemudian menjadi pintu masuk untuk mengingat kembali nilai-nilai yang menopang kehidupan masyarakat Papua Barat.
Namun, cerita hari itu tidak berhenti pada sebuah sepeda.
Setelah rangkaian pembukaan, gubernur berkeliling mengunjungi stan-stan pameran. Ia tidak hanya melihat-lihat produk yang dipajang, tetapi juga berbelanja langsung dari para pelaku usaha lokal.
Di salah satu stan, ia bertemu mama-mama Papua yang menjual tas rajutan noken berbentuk baju. Produk itu ditawarkan dengan harga Rp 250.000 per buah.
Dominggus Mandacan membeli dua baju noken tersebut. Alih-alih membawanya pulang, ia menghadiahkannya kepada dua pelajar SMK Negeri Manokwari, Anti Kano dan Natalia Windesi, yang ditemuinya di lokasi pameran.
Bagi kedua pelajar itu, pemberian tersebut menjadi kejutan yang tidak mereka duga.
Mereka bukan datang untuk menerima hadiah, tetapi pulang membawa kenangan dari pertemuan singkat dengan orang nomor satu di Papua Barat.
“Kami sangat bangga, tidak menyangka bisa dipanggil Bapak Gubernur. Selain berjabat tangan, kami juga diberikan hadiah baju noken. Ini kejutan. Terima kasih, Bapak Gubernur. Sehat selalu,” ujar Anti dan Natalia kepada papuadalamberita.com.
Baju noken itu bukan sekadar barang yang berpindah tangan. Di dalamnya ada hasil keterampilan perajin lokal, waktu yang dicurahkan untuk merajut, dan harapan agar produk budaya Papua memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Ketika produk tersebut dibeli, pelaku usaha memperoleh pemasukan. Ketika kemudian diberikan kepada pelajar, produk yang sama menemukan cerita baru: tentang kebanggaan, perhatian, dan penghargaan terhadap karya masyarakat sendiri.
Perjalanan Dominggus bersama Sekda Ali Baham Temongmere berlanjut ke stan-stan lainnya. Para pimpinan organisasi perangkat daerah, kepala badan, dan kepala biro turut diajak berbelanja di 27 stan yang menampilkan beragam produk lokal.
Ada cokelat Ransiki, balsem kayu lawang, serta berbagai produk kebutuhan sehari-hari, mulai dari sabun mandi, sampo, hingga sabun pencuci piring yang diproduksi pelaku UMKM, termasuk usaha milik Melianus Auri, dari Kabupaten Teluk Wondama.
Dominggus, Sekda, dan jajaran pimpinan perangkat daerah membeli sejumlah produk yang ditawarkan. Sebagian hasil belanja kemudian dibagikan kepada mama-mama Papua, pelajar, dan masyarakat yang ditemui di sekitar stan pameran.
Di antara keramaian pengunjung, gubernur terlihat menyapa warga sambil menyerahkan bingkisan yang baru dibelinya.
“Kesini, Ibu, ambil ini kue untuk keluarga,” ujarnya kepada seorang warga sambil memberikan barang belanjaannya.
Sapaan itu sederhana. Begitu pula bingkisan yang diberikan. Namun, peristiwa-peristiwa kecil tersebut memperlihatkan sisi lain sebuah pameran dagang: hubungan antara orang yang memproduksi barang, orang yang membeli, dan masyarakat yang menikmati manfaatnya.
Dua pelajar SMP Negeri Manokwari memperoleh hadiah dari Gubernur Papua Barat Dominggus MAndacan di boot kuliner produk UMKM Manokwari. FOTO: RUSTAM MADUBUN.
Pameran Dagang Lokal 2026 yang berlangsung pada 9–10 Oktober itu memang diselenggarakan untuk memperkenalkan produk unggulan Papua Barat. Lebih dari sekadar tempat memajang barang, pameran menjadi ruang pertemuan antara perajin, pelaku usaha, pembeli, dan pemerintah.
Di ruang itu, produk lokal tidak hanya berbicara melalui harga dan kemasan. Noken membawa identitas budaya.
Cokelat Ransiki memperkenalkan hasil olahan daerah. Produk berbahan kayu lawang dan barang kebutuhan rumah tangga menunjukkan bahwa potensi lokal dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan terhadap produk-produk tersebut akan lebih berarti apabila pembelian diikuti upaya memperluas pasar, meningkatkan kualitas, memperkuat kemasan, dan menjaga keberlanjutan usaha para produsennya.
Pada hari itu, Rustam memperoleh sepeda gunung setelah menjawab pertanyaan tentang tifa. Anti dan Natalia menerima baju noken yang tidak mereka sangka akan menjadi milik mereka.
Sementara itu, para pelaku UMKM memperoleh kesempatan memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang.
Hadiah-hadiah itu memiliki bentuk dan penerima yang berbeda. Namun, semuanya bertemu dalam satu ruang: pameran yang mempertemukan kebudayaan, usaha, dan kehidupan masyarakat.
Di balik bunyi tifa, rajutan noken, dan bingkisan yang berpindah tangan, tersimpan pesan bahwa membangun daerah bukan hanya perkara kebijakan dan program. Ia juga tumbuh melalui penghargaan terhadap karya warga, keberanian pelaku usaha untuk terus berproduksi, serta kesediaan untuk saling mendukung.
Seperti tiga rangkaian pukulan tifa yang dijelaskan di podium hari itu, pembangunan Papua Barat membutuhkan unsur-unsur yang berjalan bersama. Pemerintah, adat, dan agama memiliki ruang masing-masing, tetapi tujuan mereka bertemu pada harapan yang sama: masyarakat yang lebih berdaya dan daerah yang terus berkembang.(rustam madubun)













