Feature:
PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Saya baru saja keluar dari Auditorium Gedung PKK Provinsi Papua Barat di Arfai, Manokwari, setelah meliput Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 untuk Papua Barat dan Papua Barat Daya, Selasa (2/12/2025).
Setiap kali memasuki acara yang digelar Bank Indonesia, selalu ada rasa penasaran: konsep apa lagi yang mereka tampilkan tahun ini? Dan kembali, Bank Indonesia Papua Barat di bawah pimpinan Setian menghadirkan standar tinggi dalam penyelenggaraan acara resmi.
Sebelum acara dibuka pukul 13.00 WIT, jamuan makan siang telah disiapkan sejak pukul 12.00. Penataannya bukan sekadar rapi, tetapi berkelas.

Gedung PKK yang biasanya bernuansa instansi pemerintah berubah total menjadi ruang elegan bak ballroom hotel bintang lima.
Meja-meja bundar disusun berlapis kain putih bersih. Namun ada detail kecil yang sangat bermakna: setiap meja memiliki label nama undangan.
Bahkan di dua meja yang disediakan khusus untuk wartawan, pada kartu meja tertulis jelas: MEDIA.
Sebuah penghormatan yang jarang ditemui, bahkan nyaris tak pernah, pada acara-acara resmi instansi lain.
Ini bukan soal kursi atau meja, tetapi soal pengakuan derajat dan martabat tamu. Bahwa ketika seseorang diundang, ia dihargai sama mulianya dengan undangan lain.
Bank Indonesia Papua Barat membuktikan bahwa kesetaraan bukan slogan, melainkan tindakan nyata.
Para penerima tamu, karyawan Bank Indonesia, berbusana batik bermotif kembang gelap, menyambut setiap tamu dengan ramah, mengarahkan, dan mempersilakan menikmati hidangan. Ada coffee corner dengan aroma kopi yang menggoda, aneka buah, dessert, hingga hidangan berat yang tertata simetris.
Perwakilan penerima penghargaan dari Bank Indonesia Papua Barat berpose usai menerima apresiasi pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Auditorium Gedung PKK Provinsi Papua Barat, Arfai Manokwari, Selasa (2/12/2025). Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan BI kepada mitra terbaik yang berkontribusi dalam stabilitas ekonomi daerah sepanjang tahun 2024–2025. FOTO: RUSTAM MADUBUN/PAPUADALAMBERITA.COM
Semua serba rapi, elegan, dan dikerjakan dengan sentuhan dan rasa seni.
Lalu musik. Grup musik dari Flaka Projec hadir membawakan lagu-lagu bernuansa jazz, meluruhkan suasana formal menjadi hangat dan santai.
Lantunan piano, bass, dan saksofon membuat saya sesaat merasa seolah berada di lounge hotel berbintang lima, bukan gedung pemerintah.
Hal lain yang membuat saya terkesan adalah kesetaraan hidangan. Set menu untuk tamu VIP sama persis dengan menu yang tersaji di meja media.
Dalam banyak kegiatan instansi lain, hal ini hampir mustahil ditemukan. Bank Indonesia telah menempatkan seluruh undangan dalam derajat yang sama, tanpa membeda-bedakan jabatan.
Di atas meja pun tersedia camilan UMKM binaan Bank Indonesia, keripik, kacang, bronis Manokwari-Sorong, sebuah bentuk dukungan pada pelaku usaha kecil yang dipajang dengan bangga kepada semua tamu.
Dan ketika acara ditutup, Bank Indonesia kembali menghadirkan satu sentuhan lembut: suvenir yang sama bagi semua undangan. Lagi-lagi, tanpa kelas, tanpa perbedaan.
Dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani, pesan utama tahun ini adalah tentang ketangguhan, kemandirian, dan sinergi menghadapi tahun 2026.
Namun sesungguhnya, tanpa disadari, Bank Indonesia Papua Barat melalui pelaksanaan PTBI 2025 ini telah menampilkan contoh konkret tentang nilai-nilai tersebut:
Tangguh dalam penyelenggaraan, Mandiri dalam kreasi, Sinergis dalam memperlakukan semua orang dengan hormat yang sama.
Hari ini, saya melihat bagaimana sebuah acara formal bisa menjadi ruang yang hangat dan manusiawi.
Penampilan grup band Flaka Project menghidupkan suasana Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Auditorium Gedung PKK Provinsi Papua Barat, Arfai Manokwari, Selasa (2/12/2025). Alunan musik bernuansa jazz dan pop akustik yang mereka bawakan menambah kesan elegan dan hangat sepanjang acara. FOTO: RUSTAM MADUBUN/PAPUADALAMBERITA.COM
Gedung PKK berubah bukan karena dekorasinya semata, tetapi karena cara Bank Indonesia memperlakukan setiap tamu sebagai bagian penting dari harmoni acara.
Dan saya pulang dengan perasaan yang jarang saya dapatkan: dihargai sebagai undangan, bukan sekadar peliput..
Dilayani, dihargai, dan dihormati.
PTBI 2025 bukan hanya pertemuan ekonomi tahunan. Ia adalah panggung elegan tentang bagaimana menghargai orang, bagaimana menciptakan suasana yang membuat siapa pun merasa “diterima,” dan bagaimana sebuah lembaga negara menampilkan wajah pelayanan publik yang benar-benar layak dicontoh.
Hari ini, Gedung PKK bukan sekadar tempat acara. Ia berubah menjadi ruang yang hangat, ramah, dan penuh nilai.(rustam madubun)












