Papua Barat

Saat “Jubilate Deo” Bergaung, Gesekan Violin dan Harmoni Suara Papua Menyulam Doa di Auditorium UNIPA

399
×

Saat “Jubilate Deo” Bergaung, Gesekan Violin dan Harmoni Suara Papua Menyulam Doa di Auditorium UNIPA

Sebarkan artikel ini
Pemain violin Celi dan Saviera mengiringi penampilan Kontingen Paduan Suara Wanita (PSW) Papua saat membawakan "Jubilate Deo" karya komposer Hungaria Levente Gyöngyösi di Auditorium Rektorat Universitas Papua, Manokwari, Jumat (26/6/2026). Gesekan dawai keduanya membuka harmoni yang kemudian berpadu dengan puluhan suara penyanyi, menghadirkan sajian musikal yang memukau pada ajang Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026.FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADLAMBERITA.COM.

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Gesekan violin mengalun lirih, membuka ruang hening yang perlahan dipenuhi harmoni.

Dari tangan Celi dan Saviera, setiap sapuan dawai menjadi prolog bagi “Jubilate Deo”, karya komposer Hungaria Levente Gyöngyösi.

Lalu, puluhan suara perempuan menyatu dalam keseimbangan sopran, alto, dinamika, dan frasa musikal, menghadirkan pujian yang tidak sekadar dinyanyikan, tetapi dihidupkan di Auditorium Rektorat Universitas Papua, Jumat (26/6/2026).

Pada kategori Paduan Suara Wanita (PSW) Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026, kontingen Papua tidak hanya menyuguhkan ketepatan nada dan ritme.

Mereka merangkai sebuah lanskap musikal yang kaya warna. Gesekan violin menjadi benang halus yang mengikat setiap frasa lagu, sementara pada bagian ketiga komposisi, dentum gendang dan gemerincing tamborin hadir sebagai aksen ritmis, membangun klimaks yang megah tanpa menghilangkan nuansa sakral.

Usai irisan nada violin menghilang bersama akor penutup, sejenak auditorium berbentuk oval itu tenggelam dalam keheningan.

Sesaat kemudian, suasana pecah. Tepuk tangan bergemuruh dari para peserta Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 yang memadati ruangan.

Kekaguman mengalir tanpa aba-aba, mengubah hening yang semula menghanyutkan menjadi riuh apresiasi yang panjang.

Di deretan kursi dewan juri, lima penilai kategori Paduan Suara Wanita, Tony Mulumbot, Henry Susanto Pranoto, Pdt. Oskar A. Wompere, Jasahdin Saragih, dan Jan R. Sinaga—tampak saling berpandang sembari melempar senyum tipis.

Tak ada tepuk tangan yang berlebihan dari meja penjurian, tetapi ekspresi mereka seolah menyiratkan pengakuan atas penampilan yang matang secara musikal.

Bagi penonton, sajian itu terasa melampaui sebuah lomba paduan suara.

Harmoni puluhan suara perempuan yang berpadu dengan violin, gendang, dan tamborin menghadirkan pengalaman musikal yang utuh.

Seolah-olah mereka baru saja menyaksikan sebuah konser orkestra, ketika setiap instrumen, setiap dinamika, dan setiap jeda berpaut dalam satu komposisi yang mengalir elegan.

Di bawah lengkung melodi karya Levente Gyöngyösi, violin tidak sekadar menjadi pengiring, melainkan berdialog dengan paduan suara, membangun tekstur bunyi yang kaya dan berlapis. Setiap crescendo, setiap perubahan tempo, hingga akor terakhir, ditutup dengan presisi yang membuat pujian itu tak hanya terdengar, tetapi juga terasa.

Di Auditorium Rektorat Universitas Papua pagi itu, “Jubilate Deo” bukan sekadar lagu pilihan dalam kompetisi.

Ia menjelma menjadi narasi musical, tentang disiplin, penghayatan, dan keindahan yang lahir ketika teknik bertemu jiwa.

Tepuk tangan yang bergema panjang menjadi penutup yang paling jujur bagi sebuah penampilan yang meninggalkan kesan mendalam.(rustam madubun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *