PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Di bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, suasana religius di Kabupaten Fakfak terasa semakin kental. Dalam momentum Safari Ramadhan di Masjid Al-Ikhlas Kampung Onim Sari, Distrik Bomberay, yang dihadiri langsung oleh Bupati Fakfak Samaun Dahlan, S.Sos., M.Si., dan Wakil Bupati Fakfak, Drs. Donatus Nimbitkendik, MT., bersama Dandim 1803/ Fakfak, Letkol Inf Wahlin Rahman, S.Pd., Wakil Ketua DPRK Abdul Rahman, serta para kepala OPD hingga pengurus PHBI Fakfak,
Ustaz Fatih Ibrahim yang juga Santri Mahad Ali dan Dai AFKN, tampil di momen safari Ramadhan Pemkab Fakfak dan PHBI, yang berlangsung di Masjid Al-Ikhlas, menyampaikan tausiyah mendalam mengenai pentingnya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri.
Dalam ceramahnya jelang berbuka puasa di Masjid Al-Ikhlas Onim Sari, Ustaz Fatih Ibrahim, mengaku terkesan dengan atmosfer Ramadhan di Fakfak. Sebagai seseorang yang berasal dari Pulau Jawa, Dia menilai program-program yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Fakfak sangat positif dan unik, sebuah pengalaman baru yang patut diceritakan kepada saudara-saudara di daerah asalnya.
”Momentum kehadiran Bapak Bupati di tengah-tengah kita ini adalah hal yang langka, sama seperti momentum bulan Ramadhan. Jika bertemu Bupati adalah kesempatan rakyat menyampaikan aspirasi, maka bertemu Ramadhan adalah kesempatan besar bagi kita untuk beribadah maksimal demi perubahan besar dalam hidup,” ujar Ustaz Fatih Ibrahim yang juga Dai AFKN.
Mengutip perkataan tokoh Tabi’in, Hasan al-Basri, Ustaz Fatih mengingatkan bahwa manusia hanyalah kumpulan dari hari-hari yang berlalu. Setiap kali satu hari terlewati, maka berkurang pula sebagian dari usia manusia.
Suasana Safari Ramadhan Yang Dilaksanakan Pemkab Fakfak dan PHBI, Berlangsung di Masjid Al-Ikhlas Kampung Onim Sari, Distrik Bomberay, Fakfak – Papua Barat Pada Rabu (25/02/2026) Kemarin. Jumat (27/02/2026). FOTO : ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.
”Umat Rasulullah memiliki kuota umur yang relatif singkat, antara 60 hingga 63 tahun. Namun, Allah SWT dengan kasih sayang-Nya memberikan Ramadhan agar kita bisa mengejar dan menyaingi pahala umat-umat terdahulu yang umurnya jauh lebih panjang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dai AFKN ini, menekankan pentingnya menjaga kualitas amal di akhir hayat. Mengutip pemikiran Fudayl bin Iyad, Ustaz Fatih menjelaskan bahwa kebaikan yang dilakukan di sisa umur dapat menghapuskan dosa-dosa di masa lalu. Sebaliknya, keburukan di akhir hayat bisa merusak ketaatan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
”Bulan Ramadhan yang kita jalani sekarang sebenarnya tidak tersisa lama, hanya sedikit saja. Maka, siapa pun yang telah maksimal, sempurnakanlah. Namun bagi yang kemarin sempat menyepelekan, akhirilah dengan kebaikan (falyakhtimahu bilhusna),” tambahnya.
Menutup tausiyahnya, Ustaz Fatih mengajak jamaah untuk membiasakan lisan membaca istighfar. Berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud, Dia mengingatkan bahwa istighfar bukan sekadar kata-kata pendek, melainkan kunci pembuka jalan keluar dari kesulitan, kelapangan dari kesempitan, dan pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.
”Mari kita keluar dari bulan Ramadhan ini dengan gelar orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan ampunan Allah atas dosa-dosa yang telah lalu,” pinta Ustaz Fatih Ibrahim yang juga Santri Mahad Ali dan Dai AFKN. (Enrico Letsoin)













