Papua Barat

Senja di Jantung Kota, Menyesap Kehangatan Pantai Reklamasi Fakfak

201
×

Senja di Jantung Kota, Menyesap Kehangatan Pantai Reklamasi Fakfak

Sebarkan artikel ini
Fakfak
Warga Fakfak Menikmati Senja di Pantai Reklamasi Fakfak. Selasa (27/01/2026). FOTO : ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.

Oleh: Enrico Letsoin

PAPUADALAMBERITA.COM, FAKFAK – Ketika jarum jam beranjak menuju pukul lima sore, wajah Kota Fakfak perlahan berubah. Pusat aktivitas yang sejak pagi berdenyut di perkantoran dan pasar, mulai bergerak ke arah pesisir—tepatnya di kawasan Pantai Reklamasi, Jalan Dr. Salasa Namudad.

Di kawasan yang kini tumbuh sebagai pusat perkotaan baru dan penggerak ekonomi itu, yang tersaji bukan sekadar hamparan beton dan jalur pedestrian. Pantai Reklamasi menjelma panggung alami, tempat kehidupan warga berpadu mesra dengan debur ombak dan semilir angin laut.

Dahulu kawasan ini identik dengan kesan kumuh dan tak tertata. Kini, berkat penataan yang diinisiasi pemerintah daerah, Pantai Reklamasi bersolek menjadi “ruang tamu” Kota Fakfak yang bersih, rapi, dan ramah bagi siapa saja.

Senja di Janung Kota Fakfak Yang Menjadi Daya Tarik Bagi Warga Untuk Menikmati Suasana Sore Dari Pantai Reklamasi Jalan Dr. Salasa Namudad. Rabu (27/01/2026). FOTO : ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.

Bagi warga, kawasan ini bukan sekadar tempat duduk menikmati senja. Jalan Dr. Salasa Namudad telah menjadi lintasan favorit pencinta gaya hidup sehat. Setiap sore, warga dari berbagai usia tampak berlari kecil atau berjalan santai menyusuri bibir pantai.

Bagi penggemar olahraga beregu, sejumlah titik strategis turut melengkapi denyut kawasan ini. Sport Center Norten Mareh menjadi pusat aktivitas voli, basket, hingga futsal. Sementara Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ma’ruf Amin hadir sebagai pilihan bagi warga yang ingin berolahraga ringan atau sekadar melakukan peregangan di ruang hijau terbuka.

Tak hanya itu, kawasan ini juga menawarkan wisata air. Bagi pencinta adrenalin, wahana banana boat siap membelah ombak. Gelak tawa para pemuda yang tercebur ke laut saat manuver tajam menjadi pemandangan khas, berpadu dengan cahaya matahari jingga yang perlahan ditelan cakrawala.

Keunikan Pantai Reklamasi mencapai puncaknya saat matahari menyentuh garis horison di balik pulau panjang. Di tengah hiruk pikuk aktivitas warga, sayup-sayup lantunan azan Maghrib terdengar bersahutan dari masjid-masjid sekitar, menciptakan suasana magis—hangat, religius, dan menenangkan.

Suasana Pantai Reklamasi di Sore Hari Ketika Warga Menyambut Sejah. Selasa (27/01/2026). FOTO : ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.

Di bibir pantai, berdiri megah Tugu Satu Tungku Tiga Batu, monumen simbol toleransi yang telah lama menjadi identitas Fakfak. Monumen ini menjadi magnet bagi keluarga. Anak-anak berlarian dengan riang, sementara para orang tua mengawasi sambil menikmati semilir angin laut.

“Pantai ini sekarang sudah jadi jantungnya Fakfak. Mau olahraga ada tempatnya, mau ajak anak-anak bermain juga dekat. Tidak perlu jauh-jauh ke luar kota,” ujar Jailany, salah seorang warga yang ditemui di lokasi.

Seiring senja benar-benar tenggelam, cahaya lampu dari puluhan lapak UMKM mulai berpendar. Aroma kopi hitam hangat, pisang goreng, dan aneka kudapan khas Papua menguar di udara, mengundang pengunjung untuk duduk dan berbagi cerita. Kehadiran pelaku usaha lokal ini tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi denyut ekonomi kreatif di jantung kota.

Pantai Reklamasi Fakfak kini bukan lagi sekadar proyek infrastruktur. Kawasan ini telah menjelma ruang publik inklusif—titik temu tempat keringat olahraga, tawa wisatawan, kelezatan kuliner, dan gema spiritualitas berpadu dalam satu harmoni yang menenangkan.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *