PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI– Siang itu, terik matahari begitu menyengat di perempatan Jalan Makaleo, Manokwari, Selasa (2/9/2025).
Baca juga: Gubernur, Ketua DPR Terima Aspirasi Mahasiswa yang Tolak Kenaikan Tunjangan DPR RI
Di tengah panas yang membakar kulit, berdiri tiga sosok penting daerah: Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si, Ketua DPR Papua Barat Orgenes Wonggor, S.I.P, Sekda Papua Barat Drs Ali Baham Temongmere MTP, dan Kapolda Papua Barat Irjen Pol Johnny Edison Isir, S.I.K., M.T.C.P.
Mereka tidak duduk di kursi empuk berpendingin ruangan.
Tidak pula bersembunyi di balik kaca mobil gelap. Selama hampir empat jam, mereka berdiri tegak, menyimak setiap kata yang keluar dari pengeras suara mahasiswa.

Di samping mereka hadir pula Wakil Ketua I DPR Papua Barat Petrus Makbon, Wakil Ketua II DPR Papua Barat Syamsyudin Seknun, S.Sos., S.H., M.H, serta Ketua MRP Papua Barat Judson Ferdinandus Waprak.
Pemandangan itu jarang terlihat: pejabat-pejabat daerah berdiri sejajar dengan mahasiswa, meniadakan jarak, seolah hendak berkata, “Kami mendengar kalian.”
Puluhan mahasiswa sudah lebih dulu berdiri menunggu. Ada yang mengenakan jas almamater kuning Universitas Papua (Unipa), ada pula yang datang dengan pakaian sederhana.
Saat gubernur dan rombongan tiba, sambutan hangat berupa tepukan tangan menggema. Beberapa mahasiswa bahkan menyodorkan tangan, menyalami para pejabat dengan raut wajah lega, seakan aspirasi mereka benar-benar mendapat tempat.
Namun suasana tidak sepenuhnya tanpa ketegangan. Di depan barisan mahasiswa, satu unit mobil water canon dan pasukan anti huru-hara lengkap dengan tameng berjaga.
Mereka siaga, meski situasi berlangsung damai.
Korlap umum, Yakonias Surune, membuka orasi dengan sebuah permintaan. Ia meminta Kapolda memberi izin agar rekan-rekan mahasiswa di Amban bisa bergabung di Makaleo.
Kapolda menyetujui.
Dengan instruksi singkat kepada Karops dan Kapolresta, mahasiswa di Amban pun diperkenankan datang.
Keputusan itu seketika meredakan kekhawatiran, menambah keyakinan bahwa aspirasi benar-benar ingin didengar.
Sambil menunggu kawan-kawan mereka, sembilan perwakilan mahasiswa bergantian berorasi. Satu per satu suara lantang terdengar: soal kenaikan tunjangan DPR RI yang kontroversial, soal ketidakadilan lapangan kerja, soal regulasi yang belum sepenuhnya melindungi hak orang asli Papua, hingga soal maraknya minuman keras di Manokwari.
Hingga sore mereka setiap mendegar aspirasi para mahasiswa, Selasa (2/9/2025) FOTO: RUSTAM MADUBUN.PAPUADALAMBERITA.COM
Bahkan isu makan bergizi gratis bagi mahasiswa dan rakyat kecil pun turut mereka dendangkan.
Yang menarik, para pejabat itu tetap berdiri. Tanpa payung, tanpa teduhan, mereka menyimak.
Tidak ada yang beringsut pergi.
Dari ekspresi wajah, terlihat kelelahan, tapi juga kesungguhan. Ada pesan moral yang terpancar: kekuasaan seharusnya tidak tuli terhadap suara rakyat.
Puncak aksi ditandai dengan penyerahan dokumen berisi 17 poin tuntutan.
Dokumen itu diserahkan langsung ke Ketua DPR Papua Barat Orgenes Wonggor, disaksikan gubernur, Kapolda, dan pejabat lain.
Aksi ditutup dengan doa bersama, lalu mahasiswa bubar dengan tertib.
Hari itu, Jalan Makaleo bukan sekadar persimpangan jalan.
Ia menjadi ruang perjumpaan: antara mahasiswa yang berteriak lantang membawa idealisme, dan pejabat yang memilih diam berdiri, mendengar tanpa bergeming.(rustam madubun)













