PAPUADALAMBERITA.TIMIKA – Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 Tahun 2026 tidak sekadar menjadi ajang adu keterampilan tim penyelamat dalam menghadapi situasi darurat.
Kompetisi yang berlangsung di Timika, Papua Tengah, pada 24–31 Oktober 2026 itu juga menjadi momentum untuk memperkuat budaya keselamatan dan kesiapsiagaan di Tanah Papua.
Sebanyak 17 tim dari 16 perusahaan pertambangan mengikuti kompetisi yang diselenggarakan Perhimpunan Tanggap Darurat Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (Pertapindo) tersebut. PT Freeport Indonesia (PTFI) bertindak sebagai tuan rumah penyelenggaraan yang berlangsung di Mimika Sport Complex dan sejumlah lokasi kegiatan lainnya.
Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa mengatakan, kompetisi ini memberikan nilai penting bagi masyarakat, khususnya dalam membangun kesadaran mengenai keselamatan dan penanganan keadaan darurat.
“Kita berikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan IFRC ke-8 tahun 2026.

Ada 17 tim yang melakukan kompetisi maupun challenging fire rescue dari berbagai perusahaan di Indonesia. Ini sangat berarti bagi kita di Papua Tengah dan menjadi nilai yang perlu kita pertahankan untuk safety ke depan,” ujar Meki saat membuka kompetisi, Sabtu (24/10/2026) malam.
Menurut Meki, kemampuan yang ditunjukkan para peserta dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat. Kompetisi ini memperlihatkan pentingnya keterampilan, kesiapan personel, serta koordinasi dalam menghadapi keadaan darurat.
Ia juga mendorong masyarakat Mimika untuk memanfaatkan penyelenggaraan IFRC sebagai kesempatan mempelajari prinsip-prinsip keselamatan sejak dini.
Salah satu kegiatan yang mendukung tujuan tersebut ialah program Safety Goes to School. Melalui program ini, para peserta IFRC memberikan edukasi keselamatan kepada lebih dari 1.000 pelajar SMP dan SMA di Mimika.
“Ini sebuah edukasi yang sangat penting untuk kalian dan untuk masa depan,” kata Meki.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, pihaknya bangga kembali dipercaya menjadi tuan rumah IFRC setelah sebelumnya menyelenggarakan kompetisi serupa pada 1996 dan 2005.
Mengusung tema “Tumbuh Bersama Papua, Berkarya untuk Indonesia”, IFRC 2026 menjadi wadah bagi para personel penyelamat untuk berbagi pengalaman, menguji kemampuan, dan meningkatkan kompetensi dalam menghadapi berbagai skenario keadaan darurat.
“Melalui IFRC, mari kita memperkuat jejaring, mengasah kemampuan, dan membangun kesiapsiagaan bersama,” ujar Tony.
Ia menambahkan, penanganan keadaan darurat membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari perusahaan, TNI, Polri, Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga instansi terkait lainnya.
Tony juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko kebakaran yang dapat meningkat akibat cuaca kering dan suhu tinggi yang dipengaruhi fenomena El Nino.
“Semangat utama kegiatan ini adalah keselamatan, sebuah nilai fundamental yang harus menjadi bagian integral dari setiap perusahaan dan setiap individu,” ujarnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tri Winarno menilai, peningkatan kompetensi personel fire and rescue merupakan kebutuhan penting, terutama bagi sektor pertambangan yang memiliki beragam potensi risiko operasional.
Menurut Tri, IFRC tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ajang untuk memperebutkan gelar juara. Kompetisi ini perlu dimanfaatkan sebagai ruang bertukar pengetahuan dan mengasah keterampilan yang dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
“Tidak ada piala atau gelar juara yang lebih berharga daripada keselamatan setiap personel,” kata Tri.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan dalam kompetisi penyelamatan tidak semata-mata diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari kemampuan peserta menerapkan prosedur keselamatan, bekerja sama, dan merespons keadaan darurat secara tepat.
Dengan melibatkan 17 tim dari 16 perusahaan pertambangan, IFRC 2026 diharapkan memperkuat jejaring antarpersonel penyelamat sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.
Di Timika, kompetisi ini menjadi pertemuan antara keterampilan, disiplin, dan kolaborasi. Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, para peserta membawa misi yang lebih besar: memastikan keselamatan menjadi prioritas dalam setiap pekerjaan dan kehidupan masyarakat.(rls)













