Mendiang Sayyid Fadhal Alhamid. PAPUADALAMBERITA. FOTO: DOKUMEN
PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Ketika ditugaskan Direksi Kantor Berita ANTARA untuk menata manajemen Biro ANTARA Papua di Jayapura pada 2010, saya berangkat ke kota paling timur Indonesia itu, berbekal rasa percaya diri dan kemampuan membangun relasi.
Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan, saya mulai “menikmati” suasana Kota Jayapura. Ini berkat komunikasi dengan para kolega yang baru saya kenal. Beberapa dari mereka, bahkan sangat dekat seperti keluarga sendiri.
Satu di antara beberapa teman rasa saudara itu adalah Sayyid Fadhal Alhamid. Tentu masih ada beberapa nama yang dapat saya sebut seperti Karmin Lasuliha dan Ismail Bepap Ladopurab. Mereka semua adalah mantan Ketua Cabang HMI Cabang Jayapura dan tentu bergabung dalam KAHMI setelah menyudahi status sebagai kader HMI.
Pada 2014, saya mendapat tugas baru merintis berdirinya Kantor Biro ANTARA Papua Barat di Manokwari. Karmin ikut mengantar saya ke Manokwari, sekalian sowan ke beberapa tokoh KAHMI, kemudian menyusul Fadhal Al Hamid untuk berbagai keperluan.
Selanjutnya, Dhal lebih sering ke Manokwari untuk urusan Dewan Adat Papua (DAP), Majelis Muslim Papua (MMP) atau jaringan LSM. Setiap ke Manokwari, betapapun ia telah mendapat kamar di hotel berbintang, selalu saja memilih tidur di kediaman saya.
Karena itu, kami berdua sangat…sangat…dekat. Memperhatikan salah satu kebiasaannya, setiap tiba di kediaman saya, hal pertama yang Dhal lakukan adalah menelpon isterinya, mengabarkan bahwa dia sudah di rumah kontrakan saya di Manokwari.
“Assalamualaikum Umi, saya sudah di abang Asis,” itu kalimat yang selalu terlontar setiap mengontak isterinya dari rumah saya di Manokwari. Demikian pula Ketika balik ke Jayapura, Dhal selalu mengabarkan bahwa dia telah tiba di rumah. Betapa dekatnya kami berdua, sampai-sampai sekali dua kali urusan MMP saya dilibatkan dalam organizing committee.
Saya ingat lima tahun silam, diminta ke Jayapura, membantunya dalam urusan organizing committee saat perhelatan Muktamar MMP. Suatu kebanggaan bagi saya membantu saudara-saudara di MMP untuk konsolidasi organisasi dan penajaman misi-misi.
Terakhir pada pertengahan Bulan Ramadhan April 2022, Dhal dua kali ke Manokwari untuk urusan DAP dan narasumber di sebuah organisasi kepemudaan. Kebetulan adinda Zafiludin dari Wasior juga sedang berada di Manokwari. Seperti biasa, kami bertiga berdiskusi dari satu topik ke topik lain, pagi di rumah, siang di restaurant, malam di café. Rupanya itu pertemuan terakhir “tiga serangkai”.
Karena, pada Kamis pagi 2 Juni 2022, saya membaca status seorang rekan FB. Kepala ini bagai ditindih batu raksasa. Segera menelpon sejumlah rekan dan memperoleh kepastian bahwa Dhal telah wafat sekitar pukul 02.40 WIT di Rumah Sakit Dian Harapan, Jayapura. Innalilllahi Wainnailahi Rojiun.
Mendiang Sayyid Fadhal Alhamid bersama Key Tokan Asis. PAPUADALAMBERITA. FOTO: DOKUMEN
Catatan lain tentang Dhal adalah, dia benar-benar seorang makhluk organisasi. Di KAHMI, DAP dan jaringan LSM yang menaruh perhatian pada perdamaian dan kemanusiaan di Papua, ia tak kenal lelah bergumul. Dalam satu hari, Dhal bisa terbang ke tiga daerah di Papua untuk urusan yang berbeda, meskipun dalam kondisi tak sehat.
Dalam hal organisasi, ia bisa sekeras baja menegakkan prinsip-prinsip organisasi, tetapi kepada isteri dan anak-anaknya ia adalah abah yang sangat lembut. Dalam satu dua kegiatan, saya menyaksikan betapa Dhal lantang bersuara, kokoh dalam pendirian, menunjuk-nunjuk lawan biacara, tetapi pada saat yang lain, ia begitu lembut, muncul karakter sebagai abang, kakak, membimbing, menuntun para junior.
Saat menulis ini, muncul video di WAG KAHMI Papua Barat yang memperlihatkan jelazah Dhal terbujur kaku, saya berguguran air mata melihat video itu dan mengenang kedekatan kami. Kini, Dhal telah pergi, suatu peristiwa yang tidak bisa dihindari. Kita semua, tinggal menunggu waktu,, menunggu giliran.
Kita tentu berdoa, agar segala amal bakti Dhal menjadi bekal untuk melapangkan kuburnya. Juga berdoa bagi kekuatan dan ketabahan adinda Asmira, bersama ananda Melfina, Evan dan Daffa.
Dhal, met jalan saudaraku. Ada satu janji yang belum tunai, Dhal bersama Zafil ke Kupang lalu kita ke perbatasan Timor Leste. Namun, Dhal memilih berangkat lebih dahulu, bukan ke perbatasan, juga bukan ke Kaimana tempat tali pusarmu ditanam, tetapi ke tempat yang jauuuuuh dan tak Kembali.
Semua ide yang pernah Dhal produksi dan introdusir kan ku kenang selalu bersama totalitas kebersamaan kita di dunia fana….(key tokan asis)













