Tiga Museum di Indonesia pernah ku sambangi, Museum Tsunami Aceh, Museum Bank Indonesia Jakarta, dan Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat Papua Tengah. Tiga liputan kenagan kuringkaskan dalam tulisan ensklopedia jurnalisku secara bersambung, bagian pertama (1) Sewaktu di Provinsi Nanggroe Aceh Darusallam.
SATU kemegahan Islam di Aceh Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini monumen Tsunami Aceh 2004 silam, Ia berdiri kokoh, padahal bangunan di sekitar Masjid waktu tsunami rata dengan tanah. Setelah stunami masjid ini beberapa kali direnovasi FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PAPUADALAMBERITA.
DEPAN Museum Tsunami Aceh. FOTO: PROPERTI PAPUADALAMBERITA.
PAPUADALAMBERITA.COM. Museum Tsunami Aceh, berada di Banda Aceh, museum dirancang sebagai pengingat simbolis bencana gempa dan tsunami samudra hindia 2004, sebagai pusat pendidikan.
Waktu itu Tahun 2017 ada perhelatan Pekan Nasional Petani Nelayan ke XV di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, dibuka Presiden RI Joko Widodo, Sabtu (06/05/2017).
Petani, nelayan dan Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan dari Manokwari Papua Barat menghadiri acara itu.
Ketua rombongan Manokwari, Rudi F Timisela selaku Ketua Tani Nelayan Manokwari mengundang mengajak saya ikut ke Aceh.
Tidak ku sia-siakan perjalanan singkatku di negeri rencong, melihat tempat monumental, seperti Masjid Agung Baiturrahman Aceh, objek wisata bersejarah ketika Tsunami Aceh 26 Desember 2004.
Perjalanan di Aceh saya akhir di Medan Sumatera Utara setelah singgah di titik nol (0) Kilometer Indonesia di Kabupaten Sabang.
Sejarah Museum Aceh dibangun mengenang musibah gempa berkekuatan 9,3 skala richter menyebabkan tsunami 26 Desember 2004 pukul 07.58 WIB.
Museum Tsunami Aceh berdiri Februari 2008, di museum baru saya ketahui pendisain museum adalah Ridwan Kamil.
Ia medesainnya, karena Gubernur Jawa Barat itu memenangkan sayembara tingkat internasional tahun 2007 dalam rangka memperingati peristiwa tsunami tahun 2004.
Doa untuk mereka di ruangan The Light of God, ruangan yang terdapat nama korban bencana Tsunami Aceh dalam tulisan balok ditempel di dinding Museum. FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PAPUADALAMBERITA.
Sebelum memasuki musemum kita diberitahu petugas, bahwa kita akan melewati lorong kecil dengan pencahayaan minim.
Berada di lorong itu kita pasti merinding, ada suara gemuru tanda datangnya Tsunami.
Setelah meliwati lorong kita jumpai ruangan bernama The Light of God, ruangan yang terdapat ratusan ribu nama korban bencana Tsunami Aceh dalam tulisan balok ditempel di dinding Museum.
Museum menyimpan ribuan koleksi, seperti etnografika, arkelogika, biologika, teknologika, keramonologika, seni rupa, ismatika dan heraldika, geologika, filologika, serta historika dan ruang audio visual.
Koleksi itu tidak dipamerkan serentak, ada beberapa yang nantinya diadakan dalam pameran temporer.
Letak Museum Tsunami Aceh di Jalan Sultan Iskandar Muda No 3, Gampongn Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.
Tidak jauh dari Masjid Baiturrahman, sekitar 11 menit jika berjalan kaki dan satu menit pakai kendaraan bermotor, bersebelahan dengan Kompleks Makam Belanda (Kerkhof).(rustam madubun)
Bersama korator Guba: Satu jejak kedahsyatan tsunami adalah berpindahnya kubah masjid berbobot 80 ton di Desa Gurah, Peukan Bada, Aceh Besar. Kubah ini sekarang dikenal dengan nama Masjid Al-Tsunami, dulunya merupakan kubah masjid Jamik di Desa Lamteungoh, Peukan Bada, Aceh Besar. Saat tsunami Aceh 2004 bangunan masjid rusak, menyisakan kubah masjid berdiameter 4×4 meter. Kubah terbawa arus gelombang sejauh 2,5 kilometer hingga ke di Desa Gurah.FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PAPUADALAMBERITA.
BERADA di Nol (0) Kilometer Indonesia di Sabang.FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PAPUADALAMBERITA
KETIKA bersama mantan Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan (alm) di kawasan Pantai Ulee Lheu pusat wisata bahari dan kuliner Banda Aceh.FOTO: ISTIMEWA/PROPERTI PAPUADALAMBERITA
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung menjadi satu saksi bisu ketika tsunami menerjang Aceh. Kapal dengan panjang 63 meter, berat 2.600 ton punya mesin pembangkit listrik mencapai 10,5 megawatt. Gelombang tsunami maha dasyat menyeret kapal PLTD Apung hingga tiga kilometer ke pusat kota Aceh. ISTIMEWA/PROPERTI PAPUADALAMBERITA













