Post Views: 28 Jalan “Polisi 13” Manokwari Papua Barat. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN. PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Kita sementara disuguhkan perdebatan, semua merasa paling benar,... Arogansi Dibalas Arogansi, Jalan “Polisi 13”

Jalan “Polisi 13” Manokwari Papua Barat. PAPUADALAMBERITA. FOTO: RUSTAM MADUBUN.

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI – Kita sementara disuguhkan perdebatan, semua merasa paling benar, paling kuat, pilang cerdik. Tapi lupa cara menyampaikannya.

Warga terpaksa menikmati tontonan pemilik-pemilik institusi saling melempar salah, perintah yang masif. Rame-rame semua menjadi seleberitis penghias beranda laman media sosial.

Itu lah menjadi seleberitis tidak lagi sulit, tampil extrim, viral, sudah terkenal kita. Kini mencari media juga tidak sesulit dulu, mau media resmi, media sosial tumpah ruah di genggaman kita.

Kita simak saja, jalan lorong antara Jalan Baru dan Jalan Taman Ria di ujung Bandar Undara Rendani Manokwari Provinsi Papua Barat. Nama jalan yang panjang sekitar 500 meter itu disebut “polisi 13”.

Atau ketika kita hendak ke Kabupaten Manokwari Selatan, memasuki setiap kampung jumlah gundukan di tengah jalan raya yang sebetulnya tidak diperbolehkan ada gundukan dengan istila “polisi tidur”.

Yang di Manokwari disebut “polisi 13” karena ada 13 gundukan yang dibuat entah sejak kapan oleh warga setempat.

Cerita jalan pendek kok bisa ada 13 gunduk. Alkisah itu untuk menahan lajunya kendaraan atau sebagai ingatan kepada pengguna jalan untuk hati-hati, tidak melaju dengan kecepatan tinggi di jalan.

Lantas, siapa yang dibilang arogansi?

Warga sebagai pembuatan gundungkan?

Atau pengguna jalan yang melintas di jalan dengan kendaraan berkecepatan tinggi?

Jawabanya mungkin sama ketika kita ditanya mana yang duluan telur atau ayam, pertanyaan yang sulit dijawab dengan logika.

Kecuali dalam cerita hikayat Abunawas yang menjawab benar pertanyaan itu.

Kutipan jawaban cerdas Abu Nawas soal ayam sama telur duluan mana.

Di hadapan Raja Harun Al-Rasyid, Abu Nawas mulai menjawab dengan yakin.

“Yang pasti telur dulu, baru ayam.” kata Abu Nawas.

Mendengar jawaban itu, Raja Harun Al-Rasyid memberikan pertanyaan.

“Coba terangkan secara logis,” kata dia penasaran.

“Begini Baginda, ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam,” kata Abu Nawas singkat.

Jawaban Abu Nawas itu membuat sang Raja terdiam dan merenung cukup lama.

Dia pun bingung karena tidak bisa menyanggah jawaban Abu Nawas.

Alhasil, sang raja harus mengakui jawaban Abu Nawas tersebut.

Sang penyair pun berhak menerima hadiah emas.

Jawaban Abu Nawas sebetulnya singkat, namun baginda raja menilai masuk akal dan tak bisa menyanggahnya.

Saya mengkaitkan cerita Abunawas dengan Raja soal ayam dan telur, raja bertanya tanpa arogansi, abunawas menjawab juga dengan tidak arogansi raja terima jawaban Abunawas.

Gundukan berjumlah 13 di Jalan Taman Ria Manokwari yang menghubungkan Jalan Baru adalah jawaban arogansi warga atas arogansi pengguna jalan dengan kecepatan tinggi, suara bising.

Andaikan pengguna jalan melintas tidak berkecepatan tinggi, tidak membuat bising yang menimbulkan kegaduhan, warga pun tidak arogansi meletakan 13 gundukan sebagai penghalang meredam kecepatan kendaraan yang melintas disitu.

Karena tidak ada dalam undang-undang lalu lintas, rambu lalu lintas mengurangi kecepatan dengan membuat gundukan di tengah jalan.

Kecuali rambu yang dipasang Dinas Perhubungan seperti hanya 10 KM, atau tulisan jalan pelan-pelan banyak anak-anak dan sejenis lainnya.

Fenomena memasang gundungkan di tengah jalan yang saya cerita dari jalan lorong di “polisi 13” Manokwari adalah satu cerita sederhana argonasi yang dibalas dengan argonasi.

Jalan-jalan seperti ‘’polisi 13’’ di Manokwari hampir ditemui dimana-mana, mungkin yang mebaca opini saya ini daerahnya juga ada yang memasang gundungkan di tengah jalan meredam kecepatan warga saat berkendaraan.

Jelas kan?

Opini tulisan arogansi ini adalah murni cerita gundukan di jalan raya, kalaupun ada kesamaan dengan cerita arogansi yang dipertontonkan orang – orang di institusi dan lembaga berbeda itu hanyalah kebetulan.(rustam madubun)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!