fbpx
Wakil Bupati Manokwari, Edi Budoyo (kiri) saat meninjau Pabrik Tepung Tapioka yang dibangun melalui dukungan dana desa, Kamis (27/2/2020) (ANTARA/Toyiban) PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Sebuah Badan... BUMDes Udapi Hilir Manokwari Bangun Pabrik Tapioka Melalui Dana Desa

Wakil Bupati Manokwari, Edi Budoyo (kiri) saat meninjau Pabrik Tepung Tapioka yang dibangun melalui dukungan dana desa, Kamis (27/2/2020) (ANTARA/Toyiban)

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Sebuah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kampung Udapi Hilir, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, berhasil membangun pabrik tepung tapioka melalui dana desa yang dikucurkan pemerintah pusat.

Pembangunan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari proses perencanaan pada tahun 2016 lalu. Setelah berhasil berdiri pada 2018 yang dilanjutkan pembangunannya pada 2019, pabrik tepung tapioka yang memanfaatkan singkong sebagai bahan baku itu diresmikan pada Kamis.

Pabrik yang dikelola BUMDes Bangun Ansanyar itu sudah beroperasi sebelum diresmikan. Bahkan, sudah mampu pemasok sejumlah pelaku usaha di daerah tersebut.

Direktur Bumdes Bangun Ansanyar, Sukatno pada peresmian tersebut menjelaskan pada tahun 2016 lalu pihaknya memperoleh dukungan dari dana desa sebesar Rp50 juta untuk memulai pembangunan pabrik.

“Karena belum cukup, dana kami tabung. Di tahun 2017 kami kembali mendapat dukungan lagi dari dana desa sebesar Rp50 juta. Belum cukup juga, sehingga anggaran kami tabung lagi,” ucap Sukatno.

Pembangunan baru bisa dimulai setelah mendapat alokasi dana desa sebesar Rp100 juta pada tahun 2018. Dengan dukungan dana desa sebesar Rp200 juta yang diterima selama tiga tahun berturut-turut sejak 2016 proyek pembangunan pabrik itu pun dilaksanakan.

Pada 2019 Bumdes Bangun Ansanyar kembali mendapat dana desa sebesar Rp 90 juta. Di tahun itu juga Bumdes menerima bantuan sebesar Rp150 juta dari Kementerian Desa Tertinggal.

“Kampung Udapi Hilir dinilai sebagai Kampung dengan Indeks membangun terbaik se Papua Barat, karena itu kita mendapat apresiasi anggaran dari Kemendes. Anggaran itu kami manfaatkan untuk pembangunan serta membuat peralatan pengolahan sampai tuntas,” ujarnya lagi.

Sukatno menjelaskan, mesin pengolahan di pabrik tersebut dirakit secara mandiri dengan memanfaatkan bahan daur ulang. Sejauh ini mesin berfungsi secara normal.

“Seminggu yang lalu kami mengolah 1 ton singkong dan menghasilkan 250 kg tepung setengah jadi. Kami masih membutuhkan alat yang bisa menghasilkan produk tepung murni,” katanya menambahkan.

Dari produksi tersebut, BUMDes sudah bisa memasok kebutuhan bahan baku pada industri rumah tangga daerah tersebut.

“Seperti pabrik kerupuk, kacang telur, pentolan di sini kami yang pasok. 250 kg hasil produksi pekan lalu itu pesanan dari mereka,” ujarnya lagi.(ant)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Tidak Bisa Dicopy !!