PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Ekspedisi Patriot Tim C, Distrik Bomberay, Fakfak – Papua Barat, yang beranggotakan Syabab, Ilham, Endah, dan Grace, kembali melanjutkan rangkaian kegiatannya melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Model Kolaborasi Kelembagaan Ekonomi Lokal di Distrik Bomberay” pada Sabtu (11/10 2025).
Kegiatan FGD tersebut berlansgung di Aula Distrik Bomberay, dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Distrik, Pemerintah Kampung, Kelompok Tani, PKK, Koperasi, hingga Lembaga Keuangan.
FGD ini dipimpin Ketua Tim C Ekspedisi Patriot, Dr. Maryono, S.P., M.Sc. Dia menekankan pentingnya penguatan kelembagaan ekonomi di kawasan transmigrasi. Maryono, menyampaikan bahwa pengembangan wilayah harus berangkat dari identifikasi potensi lokal serta peluang ekonomi yang tumbuh di masyarakat, sejalan dengan kebijakan Kementerian Transmigrasi dan arah pembangunan nasional.
Dalam sesi diskusi, peserta memaparkan kondisi terkini sektor pertanian di Distrik Bomberay. Komoditas sayuran seperti kangkung, sawi, bayam, dan kacang panjang menjadi yang paling banyak dibudidayakan, sementara pengembangan cabai, tomat, dan terong masih terbatas.
Di sisi lain, komoditas pangan seperti padi dinilai memiliki prospek besar meski menghadapi hambatan seperti irigasi yang belum optimal, kelangkaan pupuk, gangguan hama, tingginya biaya produksi, hingga tantangan pemasaran.
Tim C Ekpedisi Patriot Melaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Bersama Pemangku Kepentingan di Distrik Bomberay, Fakfak – Papua Barat. Kamis (20/11/2025). FOTO : ISTIMEWA. PAPUADALAMBERITA.COM.
Selain itu, komoditas tanaman kayu putih serta komoditas kehutanan seperti sagu dinilai sangat potensial untuk dikembangkan melalui diversifikasi produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
Pengolahan produk turunan sagu menjadi salah satu pembahasan penting. Melalui kolaborasi PKK dan pemerintah kampung, masyarakat telah menghasilkan beragam produk seperti tepung, tumang (sagu basah), hingga kerupuk. Namun, keterbatasan alat produksi dan pasar membuat inovasi ini belum berkembang secara maksimal.
FGD juga memetakan rantai nilai pertanian di Bomberay, mencakup alur distribusi komoditas sayuran, sagu, padi, hingga minyak kayu putih. Para peserta sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, koperasi, kelompok tani, lembaga keuangan, hingga lembaga ekonomi lainnya yang merupakan kunci untuk memperkuat ekosistem pertanian lokal.
Beberapa rekomendasi penting yang dihasilkan antara lain penertiban hewan ternak lepas untuk menekan risiko gagal panen, revitalisasi irigasi dan lahan tidur untuk meningkatkan produksi padi, penguatan koperasi dan kelompok tani dalam hilirisasi serta pemasaran produk, peningkatan akses modal dan pupuk, serta pengembangan produk turunan sagu sebagai komoditas bernilai tambah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam merancang model kelembagaan ekonomi yang lebih kuat, adaptif, dan berkelanjutan, sehingga mampu mendorong kemandirian serta ketahanan ekonomi masyarakat Distrik Bomberay. Ekspedisi Patriot berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat dalam menggali potensi lokal dan memperkuat kolaborasi demi pembangunan wilayah yang lebih maju.(rls tim ekspedisi patriot/Editor : Enrico Letsoin)












