Papua Barat

Dampak Kekeringan, Puluhan Petani Kinam Gagal Panen

180
×

Dampak Kekeringan, Puluhan Petani Kinam Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
Fakfak
Kondisi Lahan Petani Kinam Yang Mengering. Kamis (24/09/.2026). FOTO: ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.

PAPUADALAMBERITA.COM. FAKFAK – Musim kemarau panjang dan kekeringan melumpuhkan sumber penghidupan puluhan petani di Kampung Kinam, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Dampak krisis air yang melanda kawasan Kinam hingga Bomberay dan Tomage ini membuat aktivitas produksi sayur-mayur dan jagung lumpuh total.

Gagal panen tersebut berdampak langsung pada puluhan petani termasuk petani perantau asal Sulawesi Tenggara, yang menggarap lahan di wilayah Kinam. Saat ini, mereka tidak lagi bisa menjual hasil tani di lapak-lapak pinggir jalan nasional maupun mendistribusikan pasokan sayur ke pasar-pasar lokal di Kota Fakfak.

Bahkan para pengendara yang melintas di jalur Kinam pun kini tak lagi mendapati lapak penjual jagung dan sayur segar yang biasanya berjajar rapi di sepanjang kiri dan kanan jalan tersebut.

Suasana Lapak Petani Yang Tidak Tersedia Sayur Mayur Untuk Warga Yang Melintasi Jalan Nansional di Kinam, Distrik Kokas, Fakfak – Papua Barat. Kamis (24/09/2026). FOTO: ENRICO. PAPUADALAMBERITA.COM.

Salah seorang petani lokal di kawasan Kinam, Sayani, mengungkapkan beratnya kondisi yang dihadapi warga saat ini. Lahan pertanian yang mengering membuat tanaman gagal tumbuh optimal hingga berujung pada nihilnya hasil panen.

Sayani menjelaskan bahwa para petani sempat berupaya menyiram tanaman secara manual demi mempertahankan kelangsungan hidup tanaman. Namun, keterbatasan sarana dan jauhnya jarak ke sumber air membuat upaya tersebut sulit dilakukan secara konsisten.

“Kami tidak mampu jika harus terus-menerus mengangkut air saban hari untuk menyiram tanaman. Tenaga dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding. Selama ini kami hanya berharap dari hujan,” ujar Sayani, kepada media ini di Kinam, Rabu (23/09/2026).

Terhentinya produksi sayur dan jagung ini memukul perekonomian warga secara langsung. Tanpa adanya pasokan yang bisa dijual, omzet dan pendapatan harian para petani merosot drastis.

Kini, Sayani bersama puluhan petani lainnya di Kampung Kinam sangat berharap kondisi kekeringan yang telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan ini dapat segera berakhir, sehingga lahan pertanian mereka kembali produktif dan perekonomian keluarga bisa pulih.(Enrico)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *