Papua Barat

Dari Hutan Klalik untuk Dunia: Nafas Baru Menjaga Ekidna Moncong Panjang Barat Lewat Ekoturisme

896
×

Dari Hutan Klalik untuk Dunia: Nafas Baru Menjaga Ekidna Moncong Panjang Barat Lewat Ekoturisme

Sebarkan artikel ini

PAPUADALAMBERITA.COM.MANOKWARI – Perjalanan panjang perlindungan Ekidna Moncong Panjang Barat – Zaglossus bruijnii merupakan bukti nyata usaha pelestarian satwa ini yang kondisinya terancam. Perjalanan tersebut berawal dari diskusi nonformal antara pemerhati perlindungan satwa dari Fauna Flora Indonesia (FFI) dengan Freddy Pattiselanno, peneliti satwa liar dari Universitas Papua, pada 2022.

Dari diskusi tersebut, disepakati kolaborasi penelitian untuk mengetahui keberadaan spesies babi duri—nama lokal bagi spesies ekidna ini—di Lembah Klasouw, Hutan Klalik, Sorong. Bekerja sama dengan FFI, masyarakat pemilik ulayat Hutan Klalik, Marga Malak, dan peneliti satwa liar UNIPA, survei intensif dilakukan sepanjang 2023.

Dari hasil survei, diketahui keberadaan spesies ekidna ini di kawasan Hutan Klalik dan teridentifikasi faktor-faktor yang mengancam keberadaan spesies tersebut. Selanjutnya, sebagai tindak lanjut penelitian, masyarakat sepakat untuk membebaskan areal Hutan Klalik dari jerat satwa yang secara aksidental dapat menjerat ekidna.

Kajian yang lebih spesifik tetap berlanjut dengan fokus pada kondisi habitat serta faktor pendukung perlindungan ekidna sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana konservasi spesies ini pada waktu mendatang.

Sementara itu, Hutan Klalik kemudian menjadi salah satu daerah destinasi wisata alam berbasis satwa dengan fokus pada pengamatan mamalia atau yang lebih dikenal dengan istilah mammal watching.

Penyebarluasan informasi secara spontan oleh kelompok wisatawan, khususnya wisatawan asing yang mengunjungi Klalik, turut membantu meningkatkan kunjungan turis ke kawasan tersebut. Dukungan FFI, BKSDA Papua Barat Daya, Dinas Pariwisata Papua Barat Daya, serta berbagai elemen Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, turut membantu upaya perlindungan ekidna di Klalik.

Di sisi lain, peneliti dituntut menjalankan tanggung jawab sebagai akademisi dengan melakukan publikasi hasil temuan dari kajian ilmiah yang dilakukan di Klalik. Bersama masyarakat setempat dan ahli satwa mancanegara, temuan ini kemudian dipublikasikan dalam Jurnal Oryx.

Hasil publikasi tersebut turut mendongkrak upaya peneliti mendapatkan bantuan dana penelitian yang kemudian membantu warga setempat mengembangkan Hutan Klalik sebagai salah satu destinasi wisata ekologi berbasis satwa di jazirah Sorong Raya.

Dalam kesempatan lain, peneliti terus melakukan diseminasi hasil kajian dengan mempresentasikan temuan pada Royal Zoological Society of New South Wales Forum 2025: Monotreme Marvels pada 30 Agustus 2025.

Temuan tersebut juga dipresentasikan dalam Konferensi dan Pertemuan Anggota IUCN SSC Indonesia Species Specialist Group di Universitas Pakuan, Bogor, pada 20–22 Agustus 2026.

Tujuannya adalah membagikan pengalaman dalam mendukung upaya lokal masyarakat Klalik yang berdampak global. Hasil yang diperoleh bukan hanya perlindungan spesies satwa endemik yang terancam, tetapi juga peningkatan penghidupan masyarakat melalui kegiatan ekoturisme.

Pekerjaan ini belum berakhir. Usaha masih terus dilakukan. Namun, paling tidak, apa yang dilakukan, walaupun kecil, ternyata memberikan dampak besar terhadap konservasi ekidna sekaligus penghidupan masyarakat Klalik di Sorong, Papua Barat Daya.

Semoga hal ini menjadi motivasi bagi kerja-kerja yang saat ini sedang berlangsung untuk penyelamatan spesies satwa yang dilindungi.

Dari Timur Indonesia untuk Dunia: Upaya Mengintegrasikan Perlindungan Keanekaragaman Hayati Papua dan Kesejahteraan Lokal Lewat Ekoturisme Zaglossus.(rls)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *