Enos Bokoma (duduk tengah), Yosifina Yarangga )berdiri masker htam) dari perkumpulan panah Papua serta warga saat ditemui wartawan, Sabtu (8/11/2020) di Manokwari. PAPUADALAMBERITA. FOTO:... Dianggap Matikan Masa Depan Anak Cucu, Warga Bokoma Tolak Kebun Sawit di Manokwari Selatan

Enos Bokoma (duduk tengah), Yosifina Yarangga )berdiri masker htam) dari perkumpulan panah Papua serta warga saat ditemui wartawan, Sabtu (8/11/2020) di Manokwari. PAPUADALAMBERITA. FOTO: rustam madubun

PAPUADALAMBERITA.COM. MANOKWARI –  Rencana pembukaan perkebunan kelapa sawit di Distrik Tohota, Kabupaten Manokwari Selatan oleh PT Mitra Silva Lestari memperoleh penolakan keras dari warga setempat. Karena menurut mereka, pembukaan lahan sawit akan sangat berdampak buruk bagi kelangsungan masa depan anak cucu mereka di kemudian hari.

Penolakan keras itu datang dari marga Bokoma, warga Kampung Kapus, Distrik Tahota Kabupaten Manokwari Selatan.

‘’Saya bicara ini atas nama adat bukan atas nama pemerintah karena saya kepala pemerintah kampung, kita khusus Marga Bokoma kita tidak diizinkan untuk kelapa sawit karena kita punya area kecil. Yang kedua ada pemerintah distrik ada pemerintah Kampung kita musyawarah musyawarah selesai baru ke adat artinya misalnya saya punya hak,  mama punya hak saya harus bertanya ke mama dulu bagaimana dengan ko (kamu, red) punya lokasi izinkan untuk perusahaan ini masuk atau tidak,’’ Enos Bokoma perwakilan warga, Sabtu (7/11/2020) di Manokwari.

Ia mengatakan warga Bokoma tidak akan melepas sejengkalpun tanah mereka kepada investor untuk membuka sebagai lahan kelapa sawit, karena akan mematikan masa depan anak cucu mereka di kemudian hari.

Enos tidak mau terjadi seperti yang dialami warga kampung Rmatum dan Kampung Nanai yang telah membuka lahannya, lahanya sudah dibongkar.

Hal kedua yang terjadi adalah ketidak sesuai harga yang dialami warga kampung yang telah membongkar lahannya kemudian dialnjutkan dengan tahap pertama dalam system pembibitan adalah menanam kecambah kelapa sawit pada Polybag yang diberikan perusahaan hanya Rp100 (seratus rupiah) per polybag, yang awalnya disebut Rp100.000.
‘’Masyarakat sudah taruh tanah di kekeran bilang ke masyarakat Rp100.000 tetapi selesai pembayarannya Rp100 itu akhirnya masyarakat tidak tanam, khirnya tidak jadi dilanjutkan,’’ urai Enos menambhakan bahwa dua marga yang wilayahnya sudah dibongkar adalah marga Mukiri dan dengan Sayori .

‘’Kita melihat bukti besar,  kelapa sawit kasih bersih (hutan), kalau kita izin lokasi,  kita mau makan di mana,  kita bikin kebun di mana? Jadi lahan milik marga Bokoma belum dibongkar, tetapi wilayah milik marga Bokoma masuk dalam peta lokasi yang mau dijadikan kebuns sawit oleh perusahaan, sudah masuk di peta sebelum terjadi alat masuk kita putus duluan,’’ ungkapnya.

Harapannya mneurut Enis harapan warga kepada pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan adalah keluarkan wilayahnya dari rencana pembukaan lahan sawit oleh perusahaan.

‘’Kami harap, kami punya wilayah dikeluarkan dari peta area perusahaan,’’ tandasnya.

Perkumpulan Panah Papua Yosefina Yarangga, mengatakan hasil kajian timnya di lapangan sawit, ditemukan PT Mitra Silva  Lestari yang akan beroperasi membuka lahan sawit Tahota dan Isim .

‘’Dpat ijin lokasi dari Bupati Manokwari PLT Selatan Lasarus Indouw  pada tahun 2015 sebagai karakter dengan luas lahan 11.ribu 214 hektar. Beliau yang mengeluarkan ijin kepada perusahaan ada dua blok, blok satu di Tahota, Blok II di Distrik Isim, seluas 8.975 hektar,’’ ujarnya kepada wartawan, Sabtu (7/11/2020) di Manokwari.

Perkumpulan Panah Papua berharap, setelah muncul permasalahan ini sesuai dengan visi misi Panah Papua sebagai pejuang tanah masyarakat adat yang ada di Papua, Papua Barat mengharapkan pemerintah bisa kembali mengevaluasi izin-izin terkait dengan perkebunan kelapa sawi,  pertambangan kembali mengambil kebijakan melihat kebutuhan masyarakat bukan kebutuhan investor.(tam)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *